Kalo daerah Purwodadi,Bojonegoro,Cepu kenapa jalannya bergelombang ?

 

muhamad kundarto wrote:
>
> Melihat wilayah Kab Kudus tidak cukup dengan atlas atau peta rupabumi, 
> karena ada 'misteri' tentang lahan di sana. Di daerah bawah, sangat 
> mirip dengan lahan di Demak, yang konon selalu kebanjiran di musim 
> hujan dan kekeringan di musim kemarau. Padahal ketinggian tempatnya 
> hanya sekitar 10 m dpl, itu pun dekat dengan garis pantai. Dataran 
> rendah kok bisa kekeringan sich?
>
>  
>
> Ternyata dari peta geologi yang menjawab. Memang jenis tanah di kudus 
> umumnya bertekstur lempungan (baca: tahan lama menyerap/menyimpan 
> air), namun ternyata batuan di bawahnya mengandung kapur (baca: mudah 
> meloloskan air). So, saat musim hujan tiba, air akan mudah membentuk 
> genangan (/ngumpul okeh dadi/ banjir, red), namun saat musim kemarau 
> karena 'dasar pot'nya (baca: lapisan batuan di bawahnya) bocor maka 
> tanah akan cepat kering.
>
>  
>
> Air permukaan (air sumur) di dataran rendah wilayah Kudus, termasuk 
> sekitar kota, juga mengandung endapan kapur. Jika kita amati air putih 
> yang disimpan di kulkas, maka bagian dasarnya ada endapan tipis 
> keputihan. Konon, dalam jangka waktu lama ini dapat menyebabkan batu 
> ginjal. Mungkin lebih aman minum air mineral /kali ye.../
>
> // 
>
> Menengok ke berita beberapa waktu lalu yang ditemukan fosil di 
> Patiayam, memang dari peta geologi terlihat lokasi itu merupakan 
> singkapan, atau lapisan yang dulunya terpendam tetapi sekarang muncul 
> ke permukaan tanah.
>
>  
>
> Untuk daerah utara atau kawasan Gunung Muria, kondisi tanah dan air 
> cukup baik. Konon, cerita dari ahli geologi, wilayah Gunung Muria ini 
> dulunya merupakan pulau terpisah dengan pulau jawa, namun kemudian 
> menyatu. Kemudian dataran rendah di sepanjang wilayah Demak, Kudus, 
> Pati dan bagian barat Rembang dulunya merupakan laut yang saat ini 
> mengalami pendangkalan menjadi dataran rendah. Teori ini pula yang 
> bisa menjawab, mengapa di dataran rendah dekat pantai tetapi air 
> sumurnya cukup dalam (20an meter dari permukaan tanah).
>
>  
>
> Menyimpang dikit ke kuliner, konon soto kudus yang asli itu /pake 
> /daging kerbau, bukan sapi. Nah loh, jangan-jangan terkait dengan 
> kehidupan kerbau yang umumnya suka lumpur dan genangan air (baca: 
> daerah rawa), sehingga secara naluri masyarakat di sana menciptakan 
> makanan khas sesuai dengan potensi yang ada di sekitarnya....
>
>
>
>  
>
> *Muhamad Kundarto*
> *Pusat Studi Lahan* *LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta*
> (/Survey, Pemetaan dan Evaluasi Sumberdaya Lahan/)
> HP: *08180 272 6112*
> http://mkundarto.wordpress.com/ <http://mkundarto.wordpress.com/>
> www.ilmutanah.info <http://www.ilmutanah.info/>
>  
>
>
>  

Kirim email ke