--- On Tue, 4/22/08, Lia Yunita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Lia Yunita <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Terusan: [thh33] Fw: Karena dia manusia biasa
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, April 22, 2008, 8:16 AM
Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--- Begin Message ---
----- Forwarded Message ----
From: Temmy Andrianto <[EMAIL PROTECTED]>
To: Siapa yah. . <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, March 28, 2008 11:03:04 AM
Subject: FW: Karena dia manusia biasa
From: irma.suraya [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, March 28, 2008 9:39 AM
To: Temmy Andrianto; indah; indah saptaningrum; dewi; liana; ria asdp
Subject: Fw: Karena dia manusia biasa
by Ugik Madyo
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang
sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat
beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau
tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati
saya.
Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah
seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh
ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan
pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat,
saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.
Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita
yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat
dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya
tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya
berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya
menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta
memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu
banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu
mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan
menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk
sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan... Beberapa
kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal... Beberapa
kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya.
That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan
untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya-
berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin
bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita
tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini. “Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar
yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang
sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa
lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan
kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Ingá akhirnya
terlontar
juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas di dalamnya. Perlahan
dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya
menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan
tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh,
dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Yertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas
dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini
isi surat itu.
Kepada Yth
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak
buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat
ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon,
bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya...
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan.
Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak.
Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya
tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.
Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya
menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi
luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati.
Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.
Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih
anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih
anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak
berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih
baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih
waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang
kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya
membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis,
saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan
senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia
biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan
selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa
yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru
memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada...
Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur.
Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar
tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut
masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.”
Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi
masih terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur,
agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak
bakalan tidur semaleman nih. * * *
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar
dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala
kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores
sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan
bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’.
Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.
Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala
yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan
hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara
total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.
Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.
Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.
Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam
sebuah pernikahan.
Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses
dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa
bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing
tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas:
“Cinta tumbuh karena suami/istri( belahan jiwa).”
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa
Temmy
Accounting
PT. JOHN CLEMENTS CONSULTANTS INDONESIA
Jl. H.R Rasuna Said Kav B 10-11
Atrium Mulia Building 2nd floor suite 205
Jakarta 12910
P.5257436 F.5257435
Email: [EMAIL PROTECTED]
Website: www.johnclements.com
http://careers.johnclements.com/jctalentbank
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--- End Message ---