Maklum, Mas, PKS kan dibentuk dari kalangan masjid. Jadi patronnya, ya,
para ustadz.Tapi nggak semuanya ustadz syariah koq.
Misalnya di bidang yang sampeyan minati (komisi VII-ESDM), itu ada Pak
Ir Ami Taher. Pernah tetanggaan sama saya di Kompleks Pertamina
Jatiwaringin, dia meninggalkan kemapanan di Pertamina untuk beramal di
parlemen. Ada juga pak Wahyudin Munawir. Teman saya ini, alumnus ITB.
Geofisika kalo gak salah. Di komisi itu ada juga Zulkifliemansyah yang
mantan ketua senat mahasiswa UI dan doktor Ekonomi dari Inggris.
Ke depan, tentu akan semakin banyak 'ulama' sesuai bidang masing2 yang
dibutuhkan oleh PKS. Seperti sampeyan ini, kalo sudah selesai ngangsu
kawruh, tentunya termasuk yang ditunggu2 sama PKS. Cuman ya itu, karena
sistemnya partai-kader, maka normalnya sampeyan harus teruji jadi kader
dulu sebelum bisa terpilih menjadi caleg PKS. Nggak bisa ujug2...
ery wijaya wrote:
Saya jadi inget pas pulang ke tanah air dan menonton acara Selamat
Pagi Indonesia (kalau gak salah namanya) di TV One, ketika Sekjen PKS
diundang sebagai salah satu pembicara, dalam topik itu dibahas
berbagai fenomena kemenangan Pilkada yang di jago2nya diusung PKS, dan
salah satunya mungkin yang paling signifikan kemenangan di Jabar yang
memang Gubernurnya diusung PKS.
Namun dalam kritikan yang dilontarkan pembawa acara dan juga diamini
oleh Sekjen PKS adalah bahwa PKS dilevel atas didominasi oleh orang2
alumni Syariah (maksudnya Fak syariah), dan belum mulai diiisi oleh
orang2 profesional yang memang bergerak di semua bidang seperti golkar
yang memang sudah mapan. Dalam wawancara itu juga katanya PKS sekarang
sedang mulai membuka diri untuk golongan2 profesional mengisi
kepengurusan tingkat pusat, saya belum yakin benar dengan pernyataan
ini tapi semoga saja PKS begitu, sebagai partai Islam yang moderat
memang seyogyanya membuka diri terhadap semua golongan termasuk non
muslim juga.
.