Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik 
(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin)
-------------------------------------------------------

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang 
lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat 
transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa 
penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau 
mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya 
kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh 
sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang 
(terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan...). Dan memang seperti 
itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga 
setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau 
ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. 
Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang 
tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, 
kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal 
keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah 
sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan 
kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : "Untuk yang transit 
dimana?". Dijawabnya : "Masuk saja, pak".

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan 
yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda 
dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang 
transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu 
keberangkatan di sebelahnya. 

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah 
direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak 
baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata 
ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka 
informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti 
perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik. 

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan 
terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum 
kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru 
sekarang saya mengalaminya... (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun 
yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada 
disana : "Bandaranya baru, ya pak?". Dengan bangga bapak petugas itu pun 
menjawab : "Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang 
lalu".

Ooo..., pantesan... Masih bau SIRSAT... SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama 
buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia 
untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari 
kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang 
baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal 
yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari 
hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah 
ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah 
kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada 
umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, 
baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong 
jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan... Tentu saja mesti 
ada aturan main yang benar.

*** 

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, 
terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada 
awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga 
kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara 
Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua 
adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah 
lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana 
transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi 
secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu 
orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang 
seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.   

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal 
baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang 
jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu 
Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai 
nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan "layak".

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah 
kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak 
jadilah... Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis....). 

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini, benar-benar 
serasa sedang berada di terminal bandara....... (Lho, memang sebelumnya tidak? 
Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi). 

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke