dulu, sekitar tahun 1995, ketika aku sedang skripsi, seorang pengukur curah hujan di lapangan memberikan informasi bahwa curah hujan di musim hujan jumlahnya tidak lebih dari 21 hari per bulannya (walaupun berada di puncak musim hujan, januari/desember). gak tahu kenapa? dosenku, alm bpk MT Soetarno, memberikan penjelasan tentang proses pendinginan bumi di malam hari, dimana akan berlangsung cepat apabila di langit tidak ada awan. pengembangan dari itu, ternyata ada beberapa fenomena menarik : - biasanya puncak dingin ada di sekitar bulan purnama karena energi matahari yang dipantulkan bulan akan ikut 'mengurai' awan di angkasa - biasanya, waktu sekitar bulan purnama tidak terjadi hujan, walau berada di musim hujan - saat ini laporan sms dari teman di palembang, di sana sedang banyak hujan. kemarin saya ke tegal, suhu udara segar-normal cenderung hangat, semalam kembali ke yogya. sejak dari Temanggung mulai dingin menusuk. ternyata wilayah se Indonesia ada karakteristik sendiri. konon perjalanan musim hujan dimulai dari terbangnya uap air dari benua asia. kalo musim kemarau, terbangnya dari benua ostrali ke benua asia. - sama-sama panas, di jakarta tidak bikin item kulit. di yogya bikin item kulit. kenapa? - saat ini perumahan sudah hobi menyuntik sumurnya agar keluarg air. jika suntik2an berjalan terus. entah sampai kedalaman berarapa akan terjadi kekeringan masal. tahun berapa? kedalaman sumur di yogya (sleman-yogya) berkisar 10an meter. entah 10 tahun yang akan datang............ ada komentar? monggo.............
Muhamad Kundarto Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta (Survey, Pemetaan dan Evaluasi Sumberdaya Lahan) HP: 08180 272 6112 http://mkundarto.wordpress.com/ www.ilmutanah.info

