Teman Seperjalanan Yang Baik Hati
-----------------------------------------------

Akhirnya datang juga...., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan 
harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal 
sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda 
sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali 
ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung 
yang lain. 

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, 
sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu 
jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke 
Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam 
sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di 
samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua 
yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini 
adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. 
Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua 
saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata 
adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati. 

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum 
pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan 
minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil 
menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah 
kata pun. 

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah 
memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. 
Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke 
jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil 
bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian 
makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya 
meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah 
tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur. 

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari 
berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali 
membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak 
pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar 
berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu 
aku... (saya jadi tidak bisa tidur...)

"Untungnya", teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. 
Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum 
turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya 
membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan 
terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat 
pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di 
pesawat....). 

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. 
Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa 
menjengkelkan...... 

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan 
tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan 
sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang 
di sebelah saya. 

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke