Klo saya pikir saat ini ethanolnya aja yang masih menjanjikan soalnya dibutuhkan banyak industri mulai dari kosmetik sampe makanan n kesehatan (rumah sakit, puskesmas) nah klo untuk bensin ya cuman oke untuk dipakai sendiri, soalnya harga jualnya masih lebih mahal dibanding bensin, atau kecuali mo jual seharga bensin atau dibawah harga bensin.
Ada satu mahasiswa teknologi pertanian UGM asal kendal yang tahun lalu memenangkan kejuuaraan inovasi teknologi di Jogja dengan membuat bioethanol ini, tapi sampe sekarang juga belum sempat produksi masih sibuk cari tempat kuliah baru kayaknya (s2 maksudnya), monggo klo emang ada yang tertarik bisnis bisa hub dia, kontaknya japri ke saya Best Regard, Ery Wijaya http://erywijaya.wordpress.com/ ----- Original Message ---- From: TIGOR OSEANIKA <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, 4 September, 2008 23:17:06 Subject: Re: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong Wew...thx infonya. kebetulan aq mo experiment bisnis ini(lg ngumpulin modal:]) bahan bukan cuma singkong jagung, gula, rumput dll. yg penting ada karbohidratny cek this: http://www.youtube. com/watch? v=59R-NqykoXs http://www.youtube. com/watch? v=lTu5apw7AjQ Klo dr vidnya 80%ethanol sisany BBM, kayany menjanjikan Aq g tau teknisnya tp kayany cocok buat bisnis kendal:] nice --- On Thu, 9/4/08, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> wrote: From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> Subject: [kendal-online] Bioethanol dari Singkong To: kendal-online@ yahoogroups. com Date: Thursday, September 4, 2008, 11:04 AM Mas Agus ini saya dapat artikel di Majalah Trubus, kalau versi aslinya ada gambarnya, mungkin mas Agus bisa pinjam siapa saja yang berlangganan Trubus, kalau memang mas Agus gak punya kenalan yang berlangganan Trubus bisa hubungi rumah saya, kebetulan mas saya pelanggan setia Trubus, soalnya pas pulang kemaren saya pernah baca artikel ini. Rumah saya Plantaran mas, gangnya deket balai desa, nama kampungnya Tangkisan... .klo tertarik mau pinjam n copy artikel aslinya dari majalah trubus silahkan hub sya via Japri nanti saya kasih no kontak mas saya. Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol. Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari. 1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil. 2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku. 3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100"C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental. 4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati. 5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum. 6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32"C dan pH 4,5—5,5. 7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol. 8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein. 9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair. 10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100"C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek. Tanggal Tayang : 12-1-2007 Sumber : Trubus Best Regard, Ery Wijaya http://erywijaya. wordpress. com/

