Mungkin hanya sedikit orang yang tahu, bedanya sie acara dan pembawa acara 
(MC). Sie Acara adalah orang yang bertugas mendesain acara berdasarkan 
keinginan banyak pihak dengan mengedepankan ketepatan waktu, pengisi acara dan 
keindahan penampilan. Sie acara pula yang harusnya menyiapkan naskah yang 
dibaca MC sekaligus merangkap sebagai runningman (mloya-mlayu). Sedangkan si MC 
cukup duduk/berdiri dengan manis, sambil menjaga agar suaranya merdu/menarik 
saat membacakan susunan acara. di TV sering kita kenal MC/host yang menarik, 
tetapi kita tidak tahu bagaimana sibuknya kru pendukung di belakang layar. 
Berikut ini saya coba mengungkap rahasia dibalik kegiatan Malam Renungan (Kamis 
Malam) dan Malam Inagurasi (Jumat Malam).
 
Alkisah Aku dan Bu Heni yang ketiban sangkur menjalankan sie acara merangkap MC 
diacara ini. Kondisi fisik kami ternyata sama-sama drop. Akunya, yang bermodal 
hampir tidak pernah olahraga harus ikut dikwal dengan rentetan acaranya butuh 
stamina prima. Aku TKO di hari ketiga akibat masuk angin berat (versi dokter : 
hasil lab, fungsi hati di atas normal = harus banyak istirahat sambil minum 
jamu temulawak) plus luka kecil di jempol kaki (kena ember waktu nyuci) yang 
mengganggu saat berjalan. Rekorku jumat malam menggigil jam 1-2 dan minggu pagi 
hampir pingsan kena angin pagi.
Bu Heni lebih parah lagi karena terjadi radang tenggorokan (pita suara), fisik 
sangat lemah dan rekornya sehari muntah 4-5 kali. Tetapi kemauan kerasnya 
sering terpaksa melupakan kalo diri sendiri sakit hehehe.
 
Alkisah lagi, di kebun pasca outbon (sebelum jurit), kami mendapat instruksi 
mendadak untuk menghandle acara Malam Renungan setelah jurit malam. Pelatih 
memberikan naskah puitisnya, sedang aku disuruh membuat puisi untuk Malam 
Inagurasi (yang dibaca Anik itu loh hehehe). Mental tentara mengajarkan, dalam 
kondisi apapun, pikiran harus tetap normal. Begitu juga, walau baju basah masuk 
sungai dan fisik cuapek pol, 5 menit harus selesai membuat puisi (lha biasanya 
puisi cinta, ini puisi inagurasi, nekad pulak).
Skenario pelatih, kami akan pulang duluan untuk menyiapkan acara di markas 
(Dodik Bela Negara), tapi kami ngeyel mau ikut jalan dulu bersama teman-teman. 
di tengah jalan Heni semakin melemah dan naik ambulan. Aku turut serta. Tapi 
watak jenakaku muncul, aku sengaja melongok keluar jendela melambai-lambai ke 
teman-teman yang berbaris jalan kaki. Dari wajah mereka, aku menangkap nada 
tidak setuju, kok aku enak-enak naik mobil. Maklum, mereka tentu tidak tahu 
bagaimana rencana acara kami. Akhirnya, aku turun lagi dari mobil dan ikut 
jalan. Heni tetap naik ambulan.
Ohya, Heni mendaulat Vini menyanyikan lagu untuk menambah keindahan bacaan 
puitis kami. Sehingga saat semua peserta berjoget ria, kami menyelinap mundur 
dan menyiapkan acara di gedung belakang relief peta. Kami sempat gladi bersih 1 
kali. Lalu lampu dimatikan, dan...... set mode ON untuk Malam Renungan.
 
Malam Inagurasi punya cerita sendiri. Ternyata versi tentara tetap harus 
dilakukan formal walaupun acara perpisahan. Tadinya kupikir pakaian bebas dan 
sing penting meriah dan lucu. Ternyata.... banyak aturan yang harus dipatuhi.
Ehm, Heni sendiri agaknya sering salah tingkah karena menemukan banyak Pemuja 
Rahasia di sana, khususnya dari para pelatih. Aku, yang memang kami se angkatan 
dan doeloe sama-sama ketua HMJ plus sering meng-handle acara di fakultas 
pertanian, diminta selalu mengawal agar minimal 'serangan' tertahan hehe...
Tapi publik peserta mungkin melihat lain, kok kami selalu runtang-runtung 
bareng....
Ya gpp, resiko sie acara dan MC memang harus siap dinilai siapa saja. EGP 
hihihi...
 
Evaluasi SWOT, aku lebih familiar di acara formal, dan heni di acara informal. 
itu yang kita padukan. Jadi kalo urusan "kita tampilnya........lagu...dst" itu 
Heni, hehehe..
 
Ternyata pula, keinginan banyak pihak, baik yang terang-terangan atau yang 'di 
bawah tangan' harus kita akomodir semua. Misalnya tentang poling "Yang 
paling...", maunya dibaca semua, tetapi kena sensor habis, tinggal 3 dari 15an 
kriteria. Yo wis lah. 
 
Heni bagian yang nyusun acara, aku korektornya. Acara dibagi menjadi Resmi dan 
Hiburan. Untuk acara Resmi, kami harus mengutamakan apa maunya Pejabat, baik 
yang tersurat atau yang tersirat. Kayaknya, pejabat didaulat untuk menyanyi 
adalah kewajiban.
Heni berkreasi dengan bunga mawar dan kado hadiah.
Untuk acara non formal, ada 5 pihak yang harus diramu, yaitu keinginan bos-bos 
pimpinan (yang duduk di meja bundar), panitia pelatih, teman-teman dikwal, 
penyanyi-pemusik organ, dan kreasi kami sendiri.
 
Jujur, sore itu kami masih belum fit 100%. Heni masih radang. Sedang tensiku 
naik karena kurang tidur (leher penat dan kepala agak pusing). Tapi..... the 
show must go on
 
Ketegangan mulai terjadi, ketika persiapan tempat molor, teman-teman dikwal 
sebagian besar mandi dan.. akhirnya tidak sempat gladi untuk acara hiburan.
Mau gak mau, kita mulai acara jam 19.30 karena para pimpinan sudah datang.
 
Puncak ketegangan terjadi ketiga baru 2 kelas siswa yang tampil (kurang 2 
lagi), tapi panitia pelatih sudah minta acara ditutup karena biasanya pimpinan 
sudah harus meninggalkan ruangan untuk jam segitu (sekitar jam 10an malam). 
Penyanyi cowok (yang rambut gondrong) juga mau ikutan nyanyi, terpancing 
lagunya mas Hery Kerma yang campursari-an, tapi langsung aku cegah karena tidak 
masuk agenda acara. Teman-teman yang belum tampil pun siap tidak tampil, tapi 
kami menangkap wajah super kecewa dan bisa berbuntut panjang untuk tugas kami. 
Entah karena molor waktu, entah karena pengisi sebelumnya terlalu panjang, dll.
Ide nakalku muncul, kalo yang nyuruh Kapten, maka kita harus rayu Kolonelnya. 
Kalo aku yang merayu, masak jeruk minum jeruk. Aku bisiki Heni, kira-kira 
rekamannya spt ini :
"Hen, gimana caranya Pak Kolonel harus tetap ditempat, bilang aja, para siswa 
sangat mengharap beliau menonton semua penampilan mereka, hanya kurang 2 kok 
pak.."
Hebat, lobi Heni berhasil. Dengan PD-nya kami melanjutkan acara.
Namun dampak ketegangan itu, runningman sempat macet, tim yang mau tampil juga 
sempat hilang gairah. Aku dan Heni gantian opyak-opyak (memotivasi) agar mereka 
segera tampil. Jika aku pegang mike, Heni yang lari menyiapkan pengisi acara 
berikutnya. Demikian juga sebaliknya.
 
Akhirnya semua acara bisa kesampaian, tapi ada beberapa yang tidak jadi tampil. 
Misalnya Pelda Samudiyono yang harusnya baca puisi (yang kubuatkan waktu gladi 
hehe) memilih tidak tampil karena tidak ada waktu. Rangkaian acara selesai 
sekitar pukul 23.00 WIB. Alhamdulillah, pimpinan militer dan rombongan Rektor 
mengikuti sampai akhir acara.
Bahkan kreasi dari teman-teman sangat memukai. Komentar pelatih, selama 7 tahun 
terakhir ini, baru acara malam itu yang luar biasa.
 
Abis acara, aku jadi teringat kalo belum sempat makan.... hiks...
(daku teropsesi sumpah palapa, sebelum acara selesai, tidak akan makan besar )
Akhirnya tanganku sigap mengambil beberapa bungkus roti......
 
Lucunya lagi, badanku kembali drop lagi,
sampai esoknya saat upacara penutupan, aku hampir fly tapi coba 
kutahan...sampai Tegal !
 
Catatan :
Mohon maaf apabila ada cerita yang tidak sesuai fakta, ini hanya versi 
subyektifku semata
Mungkin Bu Heni atau teman siswa dapat mengklarifikasi


      

Kirim email ke