--- On Wed, 3/9/08, kuchinxs <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: kuchinxs <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Parameter] nIcE stOry (u should be read this)
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, 3 September, 2008, 1:15 PM










    
            








   

Best Regards, 

Eko S – Kuchinxs’01 

   



  



duh.. mboco kyk gene aja mpe menitikkan
air mata ;( terharu.. hikkss.. 





  





--- 



  

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam 
dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman.
Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra
& Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa. 

   

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholat
jama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker
perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa
susah sekali dibangunkan untuk 

sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah.
Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras
agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu. 

   

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada
anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga
dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna.
Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya
dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda
jika ia bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. 

   

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah 

membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa.
Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi
entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. 

   

26 Desember 2004 

   

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya
nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa
bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan
fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya.
Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu
anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia
ingat dengan cerita Ustad Rahman tentang 

bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya. 

"Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya 

satu."
Nah jadi
kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada
suara ribut di sekitar, tetap khusuk. 

   

Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca 

"bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski
suara dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar". 

   

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis
ketika Delisa usai bertakbiratul ihram,
persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang 
beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar
bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan 
melihatnya. Bumi
menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan. 

   

Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias
lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa, tepat
ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah
bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam
menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama
kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik. 

   

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah
berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya.
Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan
berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau
balau. "GEMPAR"! 

   

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, 

wa-ma-ma-ti. .." 

   

Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya 

Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah
membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman,
sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit
kalajengking? 

   

Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama 

kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti
sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah... 

   

Gelombang
itu menyentuh tembok sekolah.
Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah seketika.
Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu
kelas menunggui Delisa, berteriak keras ... SUBHANALLAH! Delisa sama sekali 
tidak
mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk.. Tubuh Delisa terpelanting. 
Gelombang tsunami
sempurna sudah membungkusnya. . Delisa megap-megap. Gelombang tsunami tanpa
mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya
siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa. Delisa terus memaksakan diri,
membaca takbir setelah "i'tidal..." "Al-la-hu-ak- bar..."
Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak peduli tembok yang siap 
menghancurkan
kepalanya. 

   

Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya
menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah."
Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang
terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya.
Delisa terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari.
Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis
kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia 

sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh. 

Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya
patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur
dari mulutnya.. 

   

Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas
kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang
yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil 

menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari 

tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang
diatasnya. 

   

"Kau harus menyelesaikan
hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap sejuta makna.
Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid. 

   

Minggu,
2 Januari 2005 

   

Dua
minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya
tersangkut di semak belukar.
Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang 
prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, 
tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau,
menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John 

F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku 

tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka
lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya. 

   

Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga
sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi Usman
hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit
Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat kejadian yang
menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam. 

   

Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan
pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para
korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka
itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke
rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana. 

   

Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak
korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa
kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit
menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin
karena hatinya Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan."
Begitu kata Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa. 

21 Mei 2005 

   

Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah 

bukit.
Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna.
Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan
membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali.
Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah.
Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember
plastik. Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci
tangan di sungai dekat dari situ. 

Ketika
ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di 
atas kepalanya.
Memercikkan air di mukanya.. Delisa
terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang 
menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai. 

   

Kemilau
kuning.
Indah menakjubkan, memantulkan
cahaya matahari senja. Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang
sedang berbuah. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah
tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa.
Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut di 

tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia.
Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu. 

   

UMMI........
....... 

  






-- 

This message has been scanned for viruses and

dangerous content by
MailScanner, and is

believed to be clean.


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke