ini bukan cerita yang terlalu penting, tapi mungkin bisa membuat decak kagum 
bagi yang berminat.

suatu hari, aku datang membeli gudheg ke Yu Djum di dekat selokan mataram UGM. 
kemudian aku iseng berjalan ke bagian gudang. kulihat ada orang sedang mengupas 
gori/nangka sebagai bahan dasar gudheg. iseng pula aku nanya, berapa Kg 
gori/nangka yang dimasak per hari.
"Kalau sepi, 200 Kg per hari, Mas", jawabnya.
"Lha kalau rame (banyak pembeli)?," tanyaku penasaran
"Sekitar 500 Kg, Mas", jelasnya lagi.
Gleks.., banyak bener. itu baru satu warung gudheg. Bagaimana dengan semua 
penjual gudheg di Yogya ini. Berapa kebutuhan gori/nangka per hari. Lalu 
dipasok dari mana saja? rasanya gak mungkin dari Yogya aja. Pohon nangka khan 
tidak setiap hari berbuah.
Bayangkan aja setahunnya 365 hari x 500 Kg = 182,5 Ton ! untuk 1 warung saja.
Silahkan diteliti alur hulu-hilir sang gori menjadi gudheg yaaa........hehehe..

Lalu kemarin sore, aku makan di warung padang-jawa (baca: masakan padang, 
pelayane orang jawa hehehe) di selatan pertigaan Sport Center Depok. Aku suka 
warung ini karena nasi mengambil sendiri sesuai porsi kita, beda dengan warung 
padang kebanyakan yang nasinya sudah diambilkan full press body, tuapi kecil 
buat peyutku. Menu dengan lauk apa saja biasanya 6.000 rupiah plus minum. 
Sangat terjangkau untuk bapak kos (baca: anak kos) seperti aku ini.
Aku tertaring dengan tumpukan potongan ayam goreng yang biasanya sampai 30 cm 
di satu wadah. Lalu aku iseng nanya :
"Mas, per hari, berapa kilogram ayam yang terjual?," tanyaku nekad.
"Biasanya 60 kilogram," jawabnya.
"Motong ayam sendiri atau beli kiloan?" Tanyaku lagi sok jadi wartawan.
"Beli kiloan.....", jelasnya.
Nah loh. 1 warung butuh daging ayam 60 Kg/hari ! berapa banyak warung di Yogya 
ini. Kira-kira berapa banyak ayam yang dipotong setiap hari yaaa....?
Aku mau nanya menu lain kayak lele, tongkol, nila, telur dan rendang gak jadi.
Keburu malu hehhehee......

Sejauh pengamatan awamku 17 tahun di Yogya ini, bisnis kuliner dengan kelas 
harga mahasiswa memang cukup bertahan. Beda dengan bisnis IT yang tiap 1 tahun 
harus diversifikasi produk (baca: ganti barang yang dijual). Bahkan kuliner 
yang khas, selalu mengundang pelancong untuk datang, semisal : Gudheg Yu Jum, 
Bakmi Kadin, Bakpia 75, dll.

Nuwun,

Ki Asmoro Jiwo yang doyan makan enak tur murah............





      

Kirim email ke