Berulang Tahun Di Puncak Welirang
------------------------------------------------ 

Lebaran H-3 yll, Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP, minta ijin kepada bapaknya mau 
ke Gunung Welirang dan Arjuna di Jatim bersama gurunya. Perjalanan pendakian 
ini (katanya) dalam rangka survey pendahuluan sebelum dia dan rombongan 
sekolahnya mendaki berjamaah usai Lebaran.

Sayang, bapaknya tidak mengijinkan. Bukan masalah mendakinya, melainkan karena 
beberapa alasan "rada gaib". Pertama, bahwa hari-hari di penghujung bulan 
Ramadhan, terutama malam harinya adalah "the golden nights" yang teramat sayang 
untuk dilewatkan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak. Dan, mendaki gunung 
adalah tidak termasuk alasan yang mendesak itu.

Kedua, mendaki gunung di bulan Ramadhan adalah pekerjaan yang cenderung 
ngoyoworo....., membuang waktu. Peluang untuk gagal puasa lebih besar ketimbang 
berhasilnya. Lebih dari itu, maslahat (kebaikan) yang bakal diraih dari mendaki 
gunung di bulan puasa tidak sebanding dengan ”nilai gaib” yang dapat 
dikumpulkan dari ibadah puasa dengan tanpa daki-mendaki.

Akibatnya, Noval mecucu ...., cemberut karena kecewa tidak memperoleh ijin 
bapaknya. Padahal keinginannya begitu menggebu-gebu. Telanjur dia "berkorban" 
tekun berpuasa, rajin sholat tarawih, menghatamkan tadarus Qur’an sebelum 
Ramadhan berakhir. Telanjur dia rela tidak dibelikan asesori lebaran yang serba 
baru melainkan diganti dengan perlengkapan baru untuk mendaki gunung. Tas 
punggung, baju kaos, matras, lampu darurat, adalah sebagian diantaranya. Namun 
toh akhirnya bisa menerima juga, setelah Noval berhasil di-rih-rih bapaknya.... 
ditenangkan dan dijelaskan kenapa-kenapanya.

Tiba hari Lebaran H+5, Noval yang telah ditunjuk untuk membantu gurunya menjadi 
pendamping bagi tim teman sekolahnya dalam Ekspedisi Welirang – Arjuna 2008, 
akhirnya diijinkan bapaknya berangkat. Aura wajahnya kembali sumringah....

Pagi hari menjelang pamit berangkat, bapaknya menyempatkan untuk memberi kuliah 
sekadarnya tentang mendaki gunung. Bagaimanapun juga, briefing semacam ini 
perlu, dalam rangka memberi wanti-wanti oleh orang tua kepada anaknya. 
Sekurang-kurangnya sekadar berbagi pengalaman. Kalaupun toh orang tuanya tidak 
punya pengalaman mendaki gunung, setidak-tidaknya orang tua pasti punya 
pengalaman hidup. Wong jam hidupnya lebih banyak.

Di mata bapaknya Noval, mendaki gunung adalah kegiatan yang resikonya tergolong 
tinggi. Karena ketidak-tahuan, kebanyakan anak-anak muda atau pendaki pemula 
sering menyepelekan hal ini. Bapaknya pun dulu juga berpikir begitu. Dikiranya 
mendaki gunung hanya soal kuat-kuatan jalan kaki. Padahal banyak aspek perlu 
diketahui. Yang utama tentu aspek keselamatan. 

Belum lagi tentang penanganan perbekalan yang nanti akan digembol di 
punggungnya. Bagaimana kalau hujan, kalau udara teramat dingin, kalau terpisah 
dari kelompoknya, kalau tersesat, kalau kemalaman di tengah hutan, kalau 
kehilangan arah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat jarang sempat 
dipikirkan oleh anak-anak muda atau para pendaki pemula. Tahunya asal kuat 
jalan sambil menggendong ransel saja.      

Meski pengarahan singkat sudah diberikan kepada Noval. Tak urung, bapaknya 
memonitor perjalanan Noval via ponsel, sejak naik bis dari Jogja menuju 
Surabaya sampai kembali ke Jogja. Sampai mana? Lagi ngapain? Sedang menuju 
kemana?..... Namanya juga orang tua, dan salah satu syarat menjabat sebagai 
orang tua adalah berani cerewet, meski ini jelas tidak disukai anaknya. 

Akhirnya, berhasil juga Noval mencapai puncak gunung Welirang, 3159 mdpl. Hal 
yang paling membuatnya bangga adalah ketika puncak gunung Welirang dicapainya 
tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 8 Oktober 2008. Namun ada 
sedikit nada kekecewaan, ketika Noval dan timnya batal melanjutkan untuk muncak 
(istilah kesukaan Noval untuk menyebut menuju ke puncak) gunung Arjuna, 3339 
mdpl. Rupanya setelah muncak ke Welirang, cuaca berubah drastis dari yang 
semula cerah menjadi hujan lebat. Maka rencana muncak ke gunung Arjuna 
dibatalkan agar jadwal kembali ke Jogja tidak berubah.

*** 

Pagi masih agak remang di Jogja, angka digital jam menunjukan menjelang jam 5 
pagi, sebuah SMS masuk ke HP saya. Bunyinya : "Pak, bukain pin2”. Maka legalah 
saya. Noval sudah pulang dengan wajah penuh kemenangan. Lalu saat siang hari 
sambil bersiap-siap tidur balas dendam, Noval berkata : "Tahun baru nanti ke 
Rinjani, ya pak?". Mak glek....... air liurku.  

Yogyakarta, 13 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke