Pengertian bencana kadang dikonotasikan dengan ada tidaknya korban jiwa 
manusia. Jadi walau longsor dan banjir sebesar apa, belum dikatakan bencana 
apabila belum menelan korban jiwa manusia. Yah, paling tidak inilah sasaran 
utama pemburu berita, yang selalu mengeksploitasi (cenderung) besar-besaran 
apabila ada korban jiwa. 
Beberapa fenomena di bawah ini rasanya menarik kita renungkan :
 
Tanaman penghijauan di tepi jalan raya sering kena pangkas tanpa ampun, bahkan 
kadang ditebang, hanya dengan alasan "mengancam pemakai jalan". Maksudnya, 
apabila batang tanaman itu patah, dapat menimpa orang di bawahnya. Bisa pejalan 
kaki, bisa pengendara.
 
Lumpur lapindo yang sudah "memindahkan" ribuan orang dari tempat tinggalnya, 
selama belum merenggut nyawa manusia, konon sangat alot untuk disebut sebagai 
bencana nasional. Kalau toh ada korban, itu khan kecelakaan, dalihnya. Beda 
jauh saat kita menilai status kebencanaan tsunami aceh dan gempa yogya, pasti 
langsung akur, bahwa keduanya bencana besar.
 
Kelaparan (baca: dampak krisis pangan), giliran pemadaman listrik (baca: dampak 
krisis energi), makin merebaknya penyakit dan menurunnya kekebalan tubuh 
(baca: dampak pencemaran lingkungan), kekeringan atau harga air mineral dalam 
kemasan hampir sama dengan harga BBM premium (baca: dampak krisis air), 
dan suhu lingkungan yang makin meningkat (baca: dampak pemanasan global) adalah 
isue terkini tentang permasalahan global. Ada yang sepakat menyebut itu 
bencana, tapi buanyak pula yang tidak ngeh bahwa saat ini banyak bencana sudah 
hadir di depan mata.
 
Pernahkah kita merenung, apakah kita siap menghadapi bencana? mungkin sebagian 
besar kita mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan pokok (makan, pakaian, 
tempat tinggal), tetapi mungkin juga sebagian besar orang tidak siap.
Secara sederhana, mitigasi bencana adalah sebuah tahapan pemahaman untuk 
menyadari datangnya bencana. Sadar kalau air bersih mulai sulit di dapatkan, 
sadar kalau sumur di rumah kita sudah mulai tercemar, sadar kalau cadangan 
listrik (energi) sangat terbatas sehingga perlu digilir, sadar bahwa untuk 
menurunkan suhu lingkungan perlu kerjasama se-bumi ini, sadar bahwa kita sangat 
sulit mendapatkan makanan/minuman yang bebas bahan pencemar, dll.
 
Sedangkan adaptasi bencana adalah upaya penyesuaian terhadap perubahan akibat 
bencana itu. Kenapa penyesuaian, karena kebanyakan bencana datang secara tak 
terduga dan menganggulangi bencana kadang perlu waktu, tenaga dan biaya yang 
sangat besar. Bayangkan bencana pemanasan global, dimana upaya untuk menurunkan 
suhu membutuhkan kerjasama seluruh manusia di bumi ini. Bagaimana melakukan 
penghijauan besar-besaran, menekan pencemaran, dan seterusnya. Rasanya seperti 
mimpi belaka. Sehingga mau tak mau kita harus menyesuaikan diri. 
 
Siapkah kita?
 
 
Dari meja Empire Dining Break
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke