Sukses
------

Lebaran yang lalu saya menghadiri acara temu kangen dengan teman-teman SMA 
dulu, di sebuah pendopo kecamatan di Kendal. Kemasan acaranya pun rodo ndeso, 
yaitu sunatan masal sekaligus halal-bihalal. Lha wong namanya lagi asyik ketemu 
teman-teman yang 30-an tahun yang lalu pernah se-SMA, maka anak-anak yang sunat 
ya silakan nyincing sarung sunat-sunatan dan yang pada kangen ya silakan 
kangen-kangenan.

Beberapa hari yang lalu saya juga menghadiri acara reuni dan halal-bihalal 
dengan teman-teman sealmamater yang tinggal di seputar Jakarta, di sebuah hotel 
berbintang. Berbeda dengan reuni di kampung, kemasan acara di Jakarta sudah 
barang tentu lebih berbintang dengan tema yang lebih canggih.

Topik utama yang seringkali menjadi menu obrolan saat orang-orang bereuni 
adalah tema tentang kesuksesan. Siapa yang tidak turut merasa bangga kalau ada 
teman sekolahnya dulu, sekarang sudah jadi orang. Ada yang jadi pejabat negeri, 
jadi pengusaha sukses, jadi selebriti terkenal, atau jadi-jadian lainnya.

"Padahal dia itu dulu sangat pendiam dan kurang gaul....", kata seorang teman 
berkomentar.
"Dulu dia itu bodoh banget lho...", guyon yang lain.
"Malas sekali dia dulu, dan suka nyontek...", celetuk yang lain lagi.

Atau sebaliknya : "Kasihan ya, dulu kan bintang kelas, ranking satu terus....". 
Dan seterusnya, yang kesemuanya dibingkai dalam suasana cengengesan penuh canda 
dan keakraban.

*** 

Ukuran kesuksesan selalu dikaitkan dengan apa yang tampak di luarnya. Jadi apa 
dia, atau punya apa dia. Kita pun sering terkagum dalam hati menyaksikan 
kesuksesan teman-teman kita. Tentu, sudah semestinya kita turut merasa bangga 
dan memberi apresiasi atas pencapaian itu. Bagaimanapun juga, kesuksesan itu 
adalah buah dari kerja kerasnya.

Namun terkadang saya tidak bisa dan merasa tidak cukup hanya berhenti sampai di 
situ saja. Ada hal lain yang seringkali menggelitik hati saya. Hal lain yang 
tidak kasat mata, yang tidak tampak di luarnya, melainkan harus dicari dan 
digali melalui obrolan dan percakapan. Hal lain inilah, bagi saya adalah juga 
sebuah kesuksesan.     

Dari obrolan dan perbincangan akrab dengan teman lama, akhirnya saya temukan 
kesuksesan-kesuksesan yang tidak kasat mata itu. Teman yang sewaktu sekolah 
dulu kurang gaul itu ternyata sekarang sudah menjadi seorang pengusaha. Bahkan 
berhasil membantu temannya yang lain yang sedang terpuruk usahanya untuk 
bangkit lagi.

Teman lain yang dulu suka nyontek dan kini sudah jadi pejabat negeri juga 
berhasil membantu membuka jalan bagi teman lainnya yang seprana-seprene masih 
tidak jelas pekerjaannya. Ada juga yang telah berhasil membuka banyak lapangan 
pekerjaan kecil-kecilan di desanya.  

Seorang teman lain yang dulu nduablek setengah mati dan sering dianggap madesu 
(masa depan suram), lha kok sekarang jadi orang alim. Dulu suka "prek" dengan 
urusan ibadah, sekarang sering mengingatkan agar jangan lupa bersedekah.

Ada juga teman yang kehidupannya biasa-biasa saja, tapi sering mengintip 40 
keluarga tetangganya apakah ada yang kesulitan makan. Ada teman juga yang meski 
mampu tapi memilih untuk menunda pergi haji karena lebih mementingkan lebih 
dahulu ingin mengantarkan adik-adiknya menyelesaikan studi hingga bisa hidup 
mandiri. Teman lain lagi di tengah kesibukannya masih menyempatkan ngumpulke 
balung pisah (mengumpulkan tulang yang berserakan)....., rajin mengumpulkan dan 
mengontak teman-teman lama agar terus terjaga tali silaturrahim. 

Kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak tampak dari luar seperti ini seringkali 
lebih bisa saya nikmati. Seringkali mampu menjadi penerang hati yang lagi 
temaram bahkan gelap. Seringkali terasa lebih sejuk dan membangunkan saya dari 
mimpi.

Kesuksesan yang pertama memang lebih pada ukuran kuantitas, berdimensi duniawi 
dan karena itu tidak abadi. Jika Sang Empunya Dunia menghendaki, bisa bablasss 
tak berbekas dalam sekejap, bahkan lebih cepat dari sakit mencret. Sedang 
kesuksesan yang kedua lebih pada ukuran kualitas, berdimensi akherat dan karena 
itu lebih hakiki. Kalaupun segera mati, kebaikannya akan terus mengalir tiada 
henti.

Oleh karena itu, hal yang paling saya sukai dan nikmati ketika berada dalam 
forum pertemuan dan silaturrahim adalah kalau saya dapat menyibak dan menemukan 
kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak kasat mata itu. Kesuksesan lahiriah 
tetap perlu, kesuksesan batiniah lebih perlu. Keduanya perlu dipuji, 
diapresiasi, diteladani, dihikmahi dan disyukuri. 

Tapi sayang, seringkali saya hanya bisa menggunakan otak saya thok. Akibatnya 
saya lebih sering menerima sinyal SMS alias merasa Senang Melihat (orang lain) 
Susah atau Susah Melihat (orang lain) Senang. Padahal ketika saya mau 
menyedekahkan sedikit saja tempat di hati saya......, walah.... hidup 
berjama’ah di muka bumi ini kok jebulnya yo elok tenan...... 

Yogyakarta, 31 Oktober 2008
Yusuf Iskandar


      

Kirim email ke