--- On Sun, 11/2/08, muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: muhamad kundarto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [upnvy] Pejabat Karier vs Pejabat Politik
To: "milist dosen UPN" <[EMAIL PROTECTED]>, "milist pty" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"alumni faperta" <[EMAIL PROTECTED]>, "milist alumni" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"avie kusnadi" <[EMAIL PROTECTED]>, "endah bappeda" <[EMAIL PROTECTED]>, "pipit 
kusuma" <[EMAIL PROTECTED]>, "amalia wulansari" <[EMAIL PROTECTED]>, "feri 
bintari" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, November 2, 2008, 3:46 PM






Kepemimpinan antar lembaga/instansi mempunyai warna yang berbeda-beda. Namun 
ada dua jenis jabatan yang cukup menggelitik, yaitu jabatan yang dapat dirintis 
berdasar karier di lembaga itu atau jabatan yang bisa ujug-ujug (tiba-tiba) 
dimiliki oleh orang dari luar lembaga itu. Sebutan yang pertama diberi nama 
pejabat karier dan yang kedua pejabat politik.
 
Persaingan meraih jabatan karier dirasakan lebih logis, karena orang akan 
merintis jalan dari bawah dan berharap menjabat pada level tertinggi. Biasanya 
pejabat karier dapat terbaca sejarah kinerjanya. Sedangkan jabatan politik 
lebih banyak menggantungkan pada aroma politik di luar lembaga, jadi pejabat 
politik ibarat mendapatkan "kucing dalam karung", yang gak jelas bagaimana 
kualitasnya. Bisa sangat baik, bisa pula amat sangat buruknya.
 
Bagaimana sikap kita, yang notabene kadang termasuk di dalam lembaga itu?
 
Sebutlah jabatan di dalam kampus, semua dosen berpeluang menjadi pejabat karier 
seperti Ketua Jurusan, Dekan dan Rektor. Namun mungkin saja ada jabatan-jabatan 
tertentu yang dipilih berdasar penunjukkan dan persetujuan pihak tertentu. 
Ibarat piramida, maka di level tertinggi hanyalah 1 orang rektor. Berdasar 
peluang dan rentang waktu, tidak mungkin semua dosen giliran menjadi rektor.....
 
Sebutlah jabatan di dalam kementerian, bagi pegawai di departemen itu, tentu 
bisa berharap dan bermimpi menjabat posisi puncak, tetapi hanya sampai level 
deputi atau dirjen. Sedangkan menteri, sudah menjadi jatah pejabat politik, 
terserah siapa yang dipilih oleh presiden, bisa dari pejabat karier, bisa dari 
orang partai, bisa dari garis keluarga, bisa jadi publik figur, atau bisa dari 
orang yang ahli di bidangnya.
 
Kalau pejabat karier, kampanye untuk meraih simpati dilakukan dengan banyak 
cara, baik positif maupun saling jegal, terutama kepada jamaah yang punya hak 
suara. Kalau jabatan politik, banyak faktor X yang bicara, tapi umumnya 
tergantung pada lobi tingkat tinggi.
 
Bagi pihak yang iso rumangsa (tahu diri) tidak mungkin meraih jabatan karier 
yang tertinggi, maka biasanya yang ambisius akan berusaha dengan sangat agar 
mendapat kepercayaan pimpinan, malah bisa perlu dengan menekan bawahan plus 
black campaign. Atau, mereka ini malah asik memainkan posisinya untuk meraup 
keuntungan sebesar-besarnya. Slogannya "aku memang bukan big boss, tapi hartaku 
sebanyak big boss".
 
Paling seru memang kalo mengamati orang-orang yang ambisius (baca : petualang 
jabatan) ngumpul di satu tempat, asyik melihat bagaimana manuver mereka 
bersaing, sampai lupa visi misi instansi, sampai lupa orang lain sangat jengah 
memandang langkahnya, sampai lupa mana benar mana salah, sampai lupa makin 
banyak saja orang yang 'diinjak'nya. Seru dech!
 
Seru lagi jika kita bisa menengok hati masing-masing dan menjawab pertanyaan 
hakiki. Kenapa musti bersaing dengan menyakiti, dengan berbuat yang tidak 
pantas, dengan tipu muslihat, dll. Sebenarnya apa yang kita cari di dunia 
ini.....? jabatan sesaat yang serba semu atau jabatan kekal, yaitu "orang-orang 
yang beruntung dunia-akherat" ......
 
Ki Asmoro Jiwo
 

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

Kirim email ke