Ini artikel dari game online yang aku mainkan Erepublik, biarpun di arena game 
tapi  ada aja orang yg ngerilis artikel kyk gini, benar-benar mengingatkan aku 
akan indahnya berkumpul bersama keluarga....kebahagiaan tidak akan tertandingi 
oleh uang.

Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/
====================================================================================
Insinyur vs Kuli Angkat

Nopember 8, 2008 oleh rinaldimunir 

Ada
seorang insinyur yang bekerja di perusahaan eksplorasi minyak lepas
pantai. Sehari-hari dia bekerja di tengah laut karena memang
penambangan minyak dilakukan di dasar laut. Di perusahaan minyak itu
ada aturan kerja yang berlaku untuk semua karyawan: tiga bulan di laut
dan dua minggu di darat, artinya bekerja terus menerus selama tiga
bulan di laut, lalu mendapat jatah libur dua minggu di darat. Begitu
seterusnya. Gaji yang diperolehnya sangat besar. Dia sudah punya istri
dan dua orang anak. Dengan gajinya yang besar dia dapat membangun rumah
dan memenuhi kebutuhan anak istrinya di darat. 

Tetapi dia merasa kurang bahagia.

Ketika
ditanya kenapa, dia menjawab bahwa dia merasa kesepian di tengah
lautan, apalagi kalau malam sudah menjelang. Memang gajinya besar, tapi
dirinya jauh dari keluarga. Perasaan rindu kepada keluarga terpaksa
ditahannya selama berbulan-bulan sebelum dia mendapat jatah libur dua
minggu. 

Nun di tempat lain yang jauh, ada seorang kuli angkat
pelabuhan. Hidupnya sederhana saja. Setiap hari kerjanya mengangkat
barang dari kapal ke gudang pelabuhan atau sebaliknya dengan
menggunakan bahunya yang kekar. Jam kerjanya dari pagi sampai sore.
Upah yang dia dapatkan tidak besar, kadang tidak cukup dan kadang
dicukup-cukupkan untuk menafkahi keluarganya yang terdiri dari seorang
istri dan lima orang anak. Memiliki rumah sendiri baginya masih sebatas
mimpi, karena itu dia masih mengontrak sebuah rumah sempit di dekat
pelabuhan.

Tetapi dia merasa cukup bahagia.

Ketika
ditanya kenapa, dia menjawab bahwa meskipun hidupnya pas-pasan, tetapi
setiap hari dia dapat berkumpul dengan anak dan istrinya. Malam hari
seusai shalat dan makan malam, anak istrinya bergantian memijati
badannya yang pegal-pegal. Anak-anaknya bercerita tentang pengalaman
tadi siang, istrinya bercerita tentang kedatangan tukang kredit
peralatan dapur. Baginya sudah cukup perhatian keluarganya sebelum dia
mulai bekerja lagi esok pagi.

Cerita di atas memang terasa
kontras, mungkin anda lebih setuju dengan model hidup yang mana, model
hidup Pak Insinyur di tengah lautan itu atau model hidup Bapak kuli
angkat pelabuhan itu? Tiap orang mungkin punya jawaban dan kriteria
yang berbeda-beda dalam mengukur rasa bahagia itu. 

Bagi
kebanyakan orang Indonesia, berkumpul dengan keluarga setelah bekerja
seharian adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Kesedihan akan muncul jika dirinya berada di seberang jarak yang jauh
dari keluarga. Pria Indonesia setelah menikah adalah tipe rumahan. Jika
pulang bekerja, maka dia langsung pulang ke rumah, tidak mampir-mampir
dulu ke tempat lain. Sore hari jalanan macet oleh para pekerja yang
ingin segera sampai ke rumah untuk berkumpul dengan anak dan istrinya.
Di Jepang dan di banyak negara maju yang terjadi sebaliknya. Setelah
pulang dari kantor, kebanyakan pekerja menghabiskan waktunya dengan
pergi ke kafe atau klab malam, minum-minum, lalu pulang ke rumah dalam
keadaan mabuk. Rasanya hidup itu terasa hampa.

Yang harus kita
ingat-ingat adalah ada hak untuk diri sendiri dan ada hak untuk anak
dan istri. Hak untuk diri sendiri sudah kita peroleh dengan bekerja
bebas di luar rumah, pergi ke mana-mana seharian, makan-makan dengan
teman sekantor, dan lain-lain. Maka, setelah pulang ke rumah waktu kita
adalah hak untuk anak dan istri (bagi laki-laki) atau suami (bagi
perenpuan). Saya bisa mengerti kenapa ada orang yang tidak suka pada
akhir pekan dia diganggu dengan urusan kerja atau urusan lain yang
menyita waktunya, karena dia ingin menunaikan haknya untuk keluarganya.
Zaman sekarang orang-orang sangat sibuk, sehingga waktu berkumpul
dengan keluarga sangat kurang. Waktu akhir pekan yang sedikit itu
mereka manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarganya. 

Orang Indonesia memang tipe yang setia dengan keluarganya. Bersyukurlah kita 
masih hidup dalam lingkungan yang seperti ini.


      

Kirim email ke