Banyak orang tanpa sadar, ketika jabatan dan status sosial makin membumbung, 
terlupakan untuk memberikan sapaan dan senyuman kepada wong cilik.
 
Ketika berjalan memasuki kampus, ada satpam yang sibuk mengamati 
keluar-masuknya orang dan barang, di pundaknya ada beban tanggungjawab besar 
untuk mengamankan kampus. 
Ada penyapu taman dan kebun yang datang sebelum jam kantor. Asyik menyapu 
dengan rajinnya. Kadang dia harus dikerubuti nyamuk-nyamuk yang haus darah.
Ada Cleaning Service yang sudah datang sejak jam 6 pagi untuk membersihkan 
seluruh ruangan, termasuk WC yang biasanya superbau akibat ketidakdisiplinan 
pemakai.
 
Ketika berjalan di are pedagang kaki lima, ada penjual angkringan yang rajin 
buka jam 14.00 sampai jam 00.00 WIB. 
Ada penjual jagung-kacang-ketela-kedelai serba rebus yang duduk termangu 
menanti pembeli datang.
Ada pedagang nasi goreng keliling yang selalu membuat rute pada jam yang sama. 
Dengan bunyi khasnya, mencoba menarik minat penghuni rumah untuk memesan dan 
membelinya.
 
Ketika berhenti di perempatan lampu merah, ada penjaja koran yang mencoba 
menarik minat setiap pengendara untuk membeli korannya. 
Ada pengamen yang menyanyi itu-itu saja, suara kemana, gitar 3 snarnya juga 
bunyi kemana. Gak perlu merdu, lha si pendengar juga berada dibalik kaca mobil 
yang agak kedap suara. Yang penting kelihatan sedang nyanyi, dan mata menunggu 
uluran tangan dari balik kaca.
Ada bocah-bocah kecil, yang konon memang dipekerjakan untuk meminta-minta. 
Bosnya bisa orangtuanya atau sekedar tenaga pinjaman dari cukong yang super 
tega mempekerjakan anak-anak di bawah umur.
Ada orang tua peminta-minta yang duduk dengan memelasnya karena ada anggota 
tubuh yang cacat atau bahkan terluka. Terkesan menyedihkan. Entah beneran atau 
bohongan.
 
Satu hal yang patut kita tanyakan ke hati,
Pernahkah kita menyapa diantara mereka, memberi senyuman dan mungkin meluangkan 
waktu untuk mengobrol dengan topik obrolan disesuaikan dengan 'dunia mereka'?
 
Banyak orang kebanyakan makan jaim (jaga image), sehingga sulit sekali 
memberikan sapaan dan senyuman pada strata (harta-pangkat-jabatan) di bawahnya. 
Padahal, jika kita mau menyapa dan berempati dengan dunia mereka, mereka akan 
sangat bahagia.
 
Jika ingin merasakan senyuman ikhlas, tunggulah mereka sampai tersenyum
 
Namun dalam momen tertentu, kita memang tidak bisa tersenyum lagi dengan rileks.
Saat menjadi pengantin, dimana ada ratusan orang berjajar menyalami dan 
mengucapkan selamat, saat itu pula mau tak mau kita harus tersenyum, terus dan 
terus....., sampai pangkal rahang terasa kram (kejang).
Saat wisuda, rektor dan dekan harus menyalami ratusan wisudawan. Semua 
wisudawan berharap mendapat ucapan selamat dan senyuman. Tapi berdiri terus 
dengan tangan siap disalami dan mulut selalu senyum untuk ratutsan orang yang 
berbaris datang adalah bukan pekerjaan yang mudah.
Saat presiden dan sultan membuat acara openhouse, dimana yang datang ribuan 
orang dan berjajar semua ingin salaman, bayangkan sang presiden dan sultan itu 
harus memberikan senyuman kepada ribuan orang itu, satu demi satu.
Contoh momen ini mungkin bersifat khusus.
 
Untuk momen yang sifatnya keseharian, rasanya tidak ada salahnya kita berbagi 
kebahagiaan dengan wong cilik. Tidak harus dengan selembar uang. Yang 
terpenting adalah menyapa dengan ramah sambil tersenyum. Mereka juga manusia.
Bayangkan kegembiraan yang luar biasa,
apabila seorang penyapu kebun tiba-tiba didatangi, disalami dan diajak ngobrol 
Rektor
apabila seorang pelayan kantin, diajak ngobrol dengan Dekan di ruangnya
apabila seorang satpam mendapatkan bingkisan nasi bungkus atau kue Seminar
dll.
 
Bersedekahlah minimal dengan senyuman dan doa
 
Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke