samsul ulum
Tropical Forest Trust
wildlife specialist
kaliwungu city, kendal, central java
www.tropicalforesttrust.com
--- On Mon, 12/8/08, dadang mutaqin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: dadang mutaqin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [fahutan_34] anomali tiket pesawat surabaya bandung
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, December 8, 2008, 4:17 PM
Tiket Pesawat Surabaya - BandungĀ
"Tiket pesawat Surabaya - Bandung Rp. 600 ribu, Kalo Surabaya-Jakarta Cuma Rp.
160 ribu... apa engga bingung tuch... matematika siapa yang salah...." quote
Juddy Ang
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan harga-harga tiket tersebut. Walaupun
secara matematika saya tidak tahu pasti karena terus terang saya jeblok di mata
pelajaran ini, tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa pertimbangan yang
diambil oleh airline operator dalam menentukan 'airfare' yang berlaku, misalnya
:
KONDISI GEOGRAFIS.
Sesuai data yang ada, Bandara Juanda (WRSJ-SUB) terletak pada
elevasi/ketinggian 3 meter diatas permukaan laut (MSL), Bandara Soekarno-Hatta
(WIII-CKG) di ketinggian 10 meter, sedangkan Lanud Husein Sastranegara terletak
di ketinggian 740m. Jadi
jelas bahwa jalur dari Surabaya ke Bandung itu lebih 'nanjak dan tentu saja
membutuhkan lebih banyak bahan bakar dibandingkan jalur Surabaya - Jakarta yang
relatif datar sehingga lebih 'ngirit' bahan bakar.
JARAK.
Tarif pesawat dihitung dari besaran 'average fare per mile' yang berbanding
lurus terhadap jarak; semakin jauh semakin mahal. Maka tarif tiket
Surabaya-Jakarta tentu jauh lebih murah karena jaraknya yang saling berdekatan
dengan pantai dibandingkan Bandung yang jaraknya relatif jauh dari pantai.
PROFIL PENUMPANG.
Berdasarkan survey terhadap penumpang pesawat dari Surabaya, mereka yang
berangkat dengan tujuan ke Jakarta adalah dalam rangka 'Bisnis' (baca: cari
duit), sedangkan mereka yang berangkat ke Bandung sebagian besar dalam rangka
'Shopping' (baca:buang duit) seiring makin menjamurnya Factory Outlet di kota
kembang tersebut. Maka diadakanlah program tarif bersubsidi silang untuk
meringankan ongkos penumpang yang sedang
kesusahan cari duit.
OPERATIONAL COST.
Biaya pelayanan penumpang tujuan Bandung biasanya lebih mahal, karena mereka
menuntut nasi timbel panas, sayur lalaban segar, gurame goreng, pete bakar,
sambal cobek terasi dan es kelapa muda lengkap dengan batoknya. Hal ini tentu
menimbulkan biaya tambahan karena mempersiapkan dan memasak hidangan ini di
pesawat tentu lebih sulit dibandingkan katering siap-saji biasa yang cukup
dihangatkan dalam microwave.
LOAD FACTOR.
Kapasitas angkut penumpang terpaksa dikurangi hingga 30-40% agar dapat memuat
set cobek sambal, kelapa dewegan, panggangan ikan, kobokan tangan dll tanpa
melebihi batas Maximum Take-Off Weight. Passanger seat pun terpaksa dicabut
karena penumpang lebih memilih duduk lesehan di tikar, "Ameh sarasa di saung"
kata mereka.
NAVIGASI.
Dibandingkan Jakarta, papan penunjuk arah jalan di kota Bandung sering tidak
jelas dan membingungkan. Sering terjadi pilot salah belok dan
kemudian terjebak jalan satu arah yang ternyata dipadati oleh angkot. Apalagi
kemacetan yang terjadi setiap akhir pekan, menuntut pilot bekerja extra untuk
menahan pedal kopling lebih lama. Oleh karena itu jangan heran bila banyak
pilot yang tidak mau menggunakan argometer dan lebih memilih sistem borongan.
SUKU CADANG.
Faktor ketersediaan suku cadang turut berpengaruh terhadap besaran tarif. Bila
pesawat mengalami kerusakan di Jakarta, terdapat alternatif pasar suku cadang
dengan harga miring di Asem Reges, sebaliknya di Bandung besar kemungkinan
justru suku cadang dan komponen pesawat itu yang dipreteli untuk mengisi stok
onderdil di pasar Sumur Bandung. Jadi mungkin saja pesawat B737 yang terbang ke
Bandung pulangnya berubah wujud menjadi Gantole.
FLIGHT CREW.
Prosedur standar penerbangan di Indonesia biasanya menerapkan 2-man cockpit
crew. Tapi untuk penerbangan ke Bandung diperlukan crew tambahan selain Captain
dan First
Officer, yaitu Translator. Hal ini diperlukan untuk mengatasi kendala bahasa
yang mungkin terjadi ...
PILOT : "Bandung Tower, selamat siang ... Japati 601 with Bravo, inbound for
landing"
TOWER : "Japati 601 ... rek naon maneh ka dieu?"
Translate: Japati 601..mau apa kamu ke sini?
PILOT : "Bandung Tower, Japati 601 request permission to land ..."
TOWER : "Gelo ... Teu bisa! Ayeuna Persib keur tanding euy ...."
Translate: Gelo gak bisa, sekarang persib lagi tanding euy
PILOT : "Sok siah ... lamun teu di bere lending, urang baledog ti luhur ..."
Tranlate: Hayo siah, kalau gak dikasih mendarat gue lempar dari atas
TOWER : "Anjrit ...nya sok atuh lah ... klir to len, mangga Japati601 ......"
Tranlate: Anjrit..ya sudahlah.... aman untuk mendarat, silahkan Japati601
PILOT : "Affirmative ... Japati 601 cleared to land, Roger ..."
TOWER : "Rojer nu mana deui ... ngaran aing mah Asep ... Asep Surasep ti
Babakan tea ..."
Translate: Roger yang mana lagi? nama saya mah Asep. Asep Surasep dari babakan