Bincang-bincang Kewirausahaan Dengan Mahasiswa ----------------------------------------------------- Hari Minggu mestinya waktu yang sangat berharga untuk istirahat atau beracara keluarga. Tapi hari minggu yang lalu, 14 Desember 2008, saya putuskan untuk mengisi acara bincang-bincang dengan adik-adik mahasiswa tentang kewirausahaan. Kebetulan (sebenarnya ya tidak juga kalau dikatakan kebetulan....., wong sudah lama direncanakan) teman saya mas Kundarto mengundang saya untuk bersedia datang ke kampusnya di Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Yogyakarta untuk berbagi tentang pengalaman kewirausahaan. Hanya karena saya yakin ini adalah sebuah bisnis yang menguntungkan, maka saya menerima tawarannya. Pertama, karena saya sangat menghargai inisiatif teman saya itu untuk memberi bekal tentang kewirausahaan kepada mahasiswa didiknya. Kedua, karena saya mempunyai kesempatan untuk memberi atau bahasa agamanya sedekah, berupa sedikit ilmu dan sedikit pengalaman yang saya miliki tentang kewirausahaan (memang punyanya ya hanya sedikit...). Tentu saja sesuai bidang bisnis yang sedang saya tekuni adalah terkait dengan bisnis mracangan, bisnis ritel "Madurejo Swalayan". Ketiga, saya sedang memperluas silaturrahim, setidak-tidaknya dengan adik-adik mahasiswa (Ee... siapa tahu kenal dengan mahasiswi cantik. Lha, kalau sudah kenal njuk ngopo.....? Ya, enggak ada apa-apa, wong cuma kenal saja......). Saya percaya bahwa memberi atau sedekah dan silaurrahim adalah kata kunci untuk bisnis yang pasti menguntungkan. Hanya jika saya mau memberi maka saya boleh berharap menerima. Semakin banyak memberi maka semakin banyak pula saya akan menerima, bahkan jauh lebih banyak dari yang pernah saya berikan. Begitulah ”ngelmu gaib” yang saya pelajari. Menatap wajah-wajah sumringah penuh semangat adik-adik mahasiswa yang kok ya mau-maunya di hari Minggu menghadiri dan mendengar dongengan saya, tentu membuat saya semakin bersemangat untuk berbagi. Pokok bahasan yang saya sampaikan sederhana saja, antara lain tentang pilihan setelah lulus kuliah, mau menjadi pegawai atau pengusaha. Dengan perkataan lain, menjadi orang gajian atau wirausahawan. Bagaimana menata pola pikir (mind set) diantara kedua pilihan itu. Lalu dilanjutkan dengan berbagi pengalaman tentang bisnis ritel. Saya sudah menduga tentang pertanyaan yang bakal muncul, yang kemudian ternyata dugaan saya benar, yaitu tentang bagaimana mendapatkan modal atau kepingin berusaha tapi tidak punya modal. Ini hal mendasar yang seringkali muncul akibat dari wawasan yang belum terbuka tentang kewirausahaan. Lalu menjadi salah kaprah bahwa yang disebut modal adalah uang. Sebab kalau hanya berpatokan kaku pada modal adalah uang, maka berarti kalau tidak punya uang ya tidak jadi berwirausaha. Lha rak ciloko, padahal semangat bambu runcing sudah mendidih di ubun-ubun untuk segera mulai jualan, misalnya. Apa ya terus bubar jalan begitu saja........ Pertanyaan berikutnya adalah tentang apakah sebaiknya buka usaha sendiri atau ikut waralaba. Ada karakteristik bisnis tertentu yang perlu dipahami untuk membuat pilihan ini. Bukan soal salah atau benar, sebaiknya atau tidak sebaiknya, melainkan apa yang diinginkan dengan membuka usaha beserta resiko-resikonya. Hal yang membuat saya respek adalah bahwa ternyata ada beberapa mahasiswa yang ternyata sudah memulai berbisnis di sela-sela waktu studinya. Ini gejala bagus yang kini semakin banyak dijumpai. Bahkan ada yang sudah mengalami jatuh-bangun, jatuh dan bangun lagi, lalu jatuh lagi, hingga kemudian merasa kalau drinya tidak bisa bisnis. Padahal justru itulah tanda-tanda kesuksesan yang bakal diraihnya. Hanya karena pernah jatuh maka seseorang menjadi tahu artinya bangun. Semakin sering jatuh, semakin lihai seseorang untuk memahami caranya bangun. Lha kalau kemudian njuk jatuuuuuh terus.....tidak bangun-bangun? Maka hanya Tuhan dan tukang ledeng yang tahu sebabnya (maksudnya perlu dipuntir-puntir dan dipukul-pukul). Karena pasti ada mekanisme hidup yang salah, tidak pernah mau introspeksi dan tidak pernah mau belajar (wis, ora perlu eyel-eyelan....). Belum tentu berarti bodoh. Bisa jadi nilai matematikanya sembilan kurang sedikit. Melainkan hanya sedikit tertidur sehingga perlu gempa 7,9 skala Richter untuk membangunkannya. Walhasil, akhirnya acara bincang-bincang dan diskusi berjalan bagai tak ingin berakhir. Saya pun mengakhirinya dengan ajakan : "Yuk kita ikrarkan resolusi bagi diri kita masing-masing di penghujung tahun 2008 ini", sambil wanti-wanti agar tidak terlena bahwa krisis global saat ini sedang mengancam ketersediaan lapangan pekerjaan. Yogyakarta, 21 Desember 2008 Yusuf Iskandar http://madurejo.wordpress.comhttp://yiskandar.wordpress.com

