--- Pada Ming, 21/12/08, muhammad abdullah <[email protected]> menulis:
Dari: muhammad abdullah <[email protected]>
Topik: [alumnibiologi_unnes] Fw: [Pasband_Impresi] [RENUNGAN] Bunda Selalu Tahu
Kepada: "bio" <[email protected]>
Cc: "alumni biounnes" <[email protected]>
Tanggal: Minggu, 21 Desember, 2008, 10:07 PM
--- On Fri, 12/19/08, budihermawan@ makalot.com. tw <budihermawan@ makalot.com.
tw> wrote:
From: budihermawan@ makalot.com. tw <budihermawan@ makalot.com. tw>
Subject: [Pasband_Impresi] [RENUNGAN] Bunda Selalu Tahu
To:
Date: Friday, December 19, 2008, 12:57 AM
---------- Pesan terusan ----------
Dari: Bayu Gautama
Tanggal: 19 Desember 2008
08:19
Subjek: [Forum_Ayah] Bunda Selalu Tahu
Bunda Selalu
Tahu
by Bayu Gawtama
taken from http://warnaislam. com
Di detik pertama saya melihat dunia, Bunda tahu bahwa saya
sangat ketakutan mendapati dunia yang berbeda dari kehidupan indah
sebelumnya di dalam rahim Bunda. Saya menangis sekuat-kuatnya untuk
menunjukkan bahwa saya benar-benar takut dan takkan mampu hidup sendiri
dalam kondisi yang sangat lemah. Tapi ketika itu pula, Bunda tahu
ketakutan yang saya rasakan. Ia merapatkan tubuh ini ke tubuhnya,
menyodorkan air murni kehidupan dan mengusapkan jari lembutnya di
punggung
kecil ini. Hangat kecupnya terasa di kening seraya berucap, "Jangan takut
nak, Bunda kan selalu menemanimu sampai kapan pun"
Tangisan pertama saya, mungkin agak asing untuk telinga
Bunda. Tapi Bunda cerdas luar biasa, hanya perlu waktu beberapa saat saja
untuk bisa memahami seribu bahasa yang keluar dari mulut mungil saya.
Ketika tiba-tiba Bunda mampu membaca bibir saya dan berkata, "Oooh, haus
ya sayang… " dan di tangisan lain Bunda menerjemahkan lain pula, "sakit
ya
nak, mana yang sakit? tangannya? Sini Bunda usap-usap ya…"
Setiap tengah malam, saya menangis, kadang karena haus,
lapar atau karena tidak betah usai buang air kecil. Tak pernah Bunda
mengeluh, apalagi melanjutkan tidurnya tak peduli. Secepat kilat ia
bangun, mengganti popok, membersihkan kotoran saya, atau menyusui saya
yang kehausan. Baru setengah jam Bunda terpejam, saya menangis lagi, kali
ini karena nyamuk yang mengganggu. Bunda tahu itu, sesungguhnya ia tak
pernah benar-benar terlelap. Antara sadar dan tidak, Bunda pasti
terbangun
setiap kali lenguhan si kecil ini terdengar seraya sigap memberi apapun
yang diinginkan.
Tak hanya ketika bayi, Bunda menemani saya tidur hingga
waktu-waktu saya menjelang remaja. Bunda tahu betul, saya selalu rindu
tidur di sisi bunda karena ingin mendengarkan dongeng seperti dulu, atau
sekadar merasakan hangatnya usapan lembut jari Bunda di punggung.
Kemudian
nyanyian merdu Bunda mengiringi jiwa yang terbang ke alam mimpi. Tak
semerdu biduanita terkenal memang, tapi kasih yang menyertainya membuat
suara Bunda jauh lebih indah di hati.
Lagu favorit saya adalah "Bintang Kecil", karena Bunda
menyanyikannya sambil memproklamirkan bahwa sayalah bintang kecil itu,
yang tak hanya bercahaya di malam hari, namun selalu menjadi cahaya di
dalam hati Bunda. Saya juga suka lagu "Pelangi" sebab kata Bunda,
memiliki
saya sebagai anaknya jauh lebih indah dari pelangi manapun yang pernah
dilihatnya. Satu lagi lagu kesukaan saya, terutama pada kalimat pinta,
"ambilkan bulan bu…", kata Bunda,
tak hanya bulan, apapun yang saya minta akan diambilkan.
Saat saya masih suka pipis di celana, Bunda
tak pernah marah. Ia tahu saya sudah cukup merasa malu, dan tak ingin
menambah penderitaan dengan omelannya. Ia hanya menuntun tangan kecil ini
sambil menunjukkan tempat pipis yang sebenarnya. Saat harus
membersihkan bekas buang air kecil atau kotoran yang bau nan menjijikkan,
kadang ia tengah asik menikmati santapan pagi, siang maupun malam. Dengan
senyum terindah, ia tinggalkan makannya untuk sesaat membersihkan
saya.
Kalau Bunda senyum saat saya mendapat nilai sempurna di
sekolah, itu biasa. Namun senyum yang sama terukir di bibirnya ketika
nilai saya jeblok,benar-benar membuat saya merasa berjalan di atas
awan. Bunda tahu, marah karena nilai jelek yang saya dapatkan tidak akan
membenahi keadaan. Senyumnya justru memberi saya arti bahwa ia tetap
bangga terhadap anaknya dalam kondisi apapun. Dan karena itulah, saya
berjanji untuk senantiasa memberi nilai setimpal untuk senyum indahnya
itu.
Saya pernah sakit, berhari-hari sampai tidak mau makan dan
minum. Bunda sedih, meski yang sakit anaknya, tapi ia lebih menderita
dari
siapapun di dunia ketika itu. Bunda tahu, saat anaknya sakit maka ia akan
merasa dirinya lah yang sakit. Karena anak adalah buah hatinya, mutiara
jiwanya. Maka jika sakit buah hatinya, sakit pula dirinya secara
menyeluruh. Jika sakit mutiara jiwanya, sakit pula tubuh
keseluruhannya.
Pada akhirnya, ketika saya memutuskan untuk menikah. Bunda
menangis, akan ada orang lain yang mengisi hati ini untuk dicinta selain
dirinya. Meski demikian, Bunda tahu bahwa saya tetap selalu mencintainya
lebih dari apapun. Bunda tahu ia takkan kehilangan diri ini meski harus
berjauhan dan tak lagi tinggal serumah. Meski pada akhirnya ia
benar-benar
merasa kehilangan, ia tetap pada keyakinannya, anak-anak akan kembali
padanya.
Bunda benar, saya merasa takkan pernah bisa berdiri tanpa
Bunda, sebab Bunda lah yang pertama kali melihat saya belajar berdiri.
Sejauh saya melangkah, kemana pun saya pergi, Bunda lah yang memulainya
dengan mengajari saya cara berjalan. Sehebat-hebatnya saya menjadi
pembicara dalam berbagai kesempatan, kata pertama dari mulut ini Bunda
juga yang mengajarinya. bahkan, jauh sebelum saya melihat keindahan
berbagai penjuru dunia, senyum Bunda pula yang pertama kali saya lihat.
Seelok apapun makhluk yang saya temui di dunia, saya lebih dulu melihat
wajah mulia Bunda.
Kini, walau anak-anak jarang berkunjung, kerap lupa
menelepon sekadar untuk menanyakan kabar, Bunda tahu bukan karena
anak-anak tak lagi mencintai. Bahkan tanpa memberi tahu, Bunda selalu
yakin anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja, karena itulah yang tak
pernah lupa ia panjatkan dalam doa di sujud malamnya.
Maaf Bunda, karena sekarang justru saya yang sering lupa
mencari tahu, apa Bunda baik-baik saja? Siapa yang memberi obat ketika
Bunda sakit? Siapa yang menemani Bunda jalan-jalan sore, apa Bunda sudah
makan malam … (gaw)
Happy mothers day, mom
Bayu Gawtama
Life-Sharer
http://bayugawtama. net
087 87
877 1961
.
Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di Yahoo! Indonesia Top Searches 2008.
http://id.promo.yahoo.com/topsearches2008