wah teringat masa lalau 

dolo gila panjat juga'



--- On Thu, 12/25/08, Yusuf Iskandar <[email protected]> wrote:
From: Yusuf Iskandar <[email protected]>
Subject: [kendal-online] Anak Saya Mulai "Gila" Mendaki Gunung
To: "Kendal Online" <[email protected]>
Date: Thursday, December 25, 2008, 10:39 PM










    
            Anak Saya Mulai "Gila" Mendaki Gunung

------------ --------- --------- --------- --------- 



Sepuluh minggu terakhir ini saya perhatikan anak saya (Noval, 14 tahun, kelas 3 
SMP) sudah mendaki empat gunung. Mula-mula gunung Welirang (3.159 meter di atas 
permukaan laut) di Jawa Timur, lalu gunung Merbabu (3.142 mdpl), puncak 
perbukitan Menoreh (1.019 mdpl), dan terakhir gunung Sundoro (3.150 mdpl) di 
Jawa Tengah. Belum termasuk kegiatan outdoor lainnya seperti rapeling (turun 
dengan tali) yang biasanya dilakukan di jembatan Babarsari, Condong Catur, 
Sleman. Terakhir, hiking dari gua Ceremai hingga menyusuri pantai Parangtritis. 



Setiap ada tanggal merah di kalender, dia mulai kasak-kusuk untuk mencari teman 
agar bisa mengadakan kegiatan mendaki gunung. Nyaris saban hari yang terlintas 
di pikirannya adalah soal daki-mendaki dan kegiatan adventure lainnya.



Ibunya yang belakangan jadi manyun kalau anak laki-lakinya ini sudah mulai 
merengek-rengek minta uang untuk membeli perlengkapan outdoor. Sekali waktu 
saya minta dia membuat daftar inventaris, perlengkapan apa saja yang sudah 
dimiliki atau dibelinya, dan berapa total nilai rupiahnya. Rupanya dia sudah 
siap, lalu disodorkannya sebuah daftar panjang yang antara lain tertulis : 
tenda, sleeping bag, nesting (alat masak), tas punggung dan cover bag-nya, 
matras, sarung tangan, sepatu, sabuk, sentolop (senter jarak jauh), aneka 
piranti untuk mengikatkan tali ke tubuh saat naik atau turun, seperti 
carabiner, figure of 8, tali prusik, webbing. Masih ada lagi kompas, pisau 
komando dan termasuk kantong HP. Daftar itupun masih ditambah dengan 
perlengkapan lain yang direncanakan mau dibelinya juga (sambil menunggu pusar 
ibunya bolong... katanya biar dikasih uang).



Ketika ibunya menggerutu : "Lha uang yang sudah keluar kok banyak sekali?".



Jawabnya ringan saja : "Makanya ibu jualan perlengkapan outdoor saja, nanti 
untungnya untuk saya...., untuk beli alat-alat lainnya..... ".



Mendengar dialog spontan ini, yang terlintas di pikiran saya justru sisi 
peluang bisnisnya... Barangkali benar juga, buka toko outdoor bisa jadi adalah 
peluang bisnis yang berprospek bagus di kawasan Yogyakarta dimana banyak 
orang-orang muda yang hobi adventure alias kegiatan di alam terbuka. Soal 
kegiatan outdoor, masyarakat Yogya memang tergolong termanjakan oleh fasilitas 
alam. Dekat gunung, sungai, pantai, gua, bukit terjal, dsb.   



Sebagai orang tua, memperhatikan anak yang gejala-gejalanya mulai "gila" dengan 
aktifitas mendaki gunung ini, tentu saja lama-lama membuat khawatir. Bukan soal 
kegiatannya yang bertubi-tubi, melainkan khawatir kalau jadi lupa atau abai 
dengan tugas sekolahnya, sebab sebentar lagi ujian akhir SMP. Sementara orang 
tuanya tahu, bahwa Noval bukanlah tergolong anak yang mudah dalam belajar, 
alias perlu didorong-dorong, dikejar-kejar, disemangati dan terkadang agak 
dipelototi, itu pun masih ngos-ngosan untuk dapat nilai di atas 7. Agaknya, 
IQ-nya memang tidak dirancang untuk menghafal atau mengerjakan matematika.   



*** 



Sejak beberapa waktu yang lalu, Noval membujuk-bujuk bapaknya agar mau menemani 
mendaki gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur atau Rinjani (3.726 mdpl) di 
pulau Lombok, pada penghujung tahun 2008 ini. Sebenarnya ingin juga saya 
memenuhinya, karena perjalanan pendakian ke kedua gunung itu memang sangat 
menarik. Selain medannya cukup menantang, pemandangan alamnya begitu indah. 
Terakhir saya mendaki Semeru tahun 1983 dan Rinjani tahun 1989. 



Namun saya mencoba memahamkan Noval untuk menunda rencana itu, pasalnya akhir 
tahun adalah bukan waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Cuaca 
lebih sering mendung, hujan atau setidaknya banyak kabut. Telanjur jauh-jauh 
pergi dari Yogya dengan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya, kalau kemudian 
tidak bisa melihat apa-apa di sepanjang perjalanan pendakian, rasanya rugi 
sekali. Sedangkan menikmati cantiknya pemandangan alam adalah salah satu hal 
yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika mendaki gunung. Mudah-mudahan saya 
masih punya kesempatan untuk menemaninya, entah kapan.



Akhirnya Noval dapat menerima alasan saya. Tapi..... (lha ini yang bikin 
deg-degan), harus ada gantinya. Kata Noval, pokoknya tahun baru mau muncak 
(menggapai puncak gunung), seperti tahun baru setahun yang lalu ke puncak 
gunung Lawu (3.265 mdpl). Rupanya kemudian diam-diam dia sudah punya rencana 
untuk mendaki gunung Merbabu, untuk yang ketiga kalinya.



Ibunya hanya bisa nggrundel... .. : "Naik gunung kok terus-terusan ki ngopo to, 
Le?" (Le, adalah panggilan ndeso untuk anak laki-laki).



Noval hanya nyengenges sambil berkata : "Saya mau ngalahin bapak....".



Weleh, blaik, ki..... Daripada...daripada ...., saya terpaksa ngalah lagi 
(selain ya karena memang kepingin juga....), kami berdua kemudian merencanakan 
untuk mendaki gunung Merapi (2.968 mdpl), melalui jalur Selo, Boyolali. 



Saya sendiri pernah mendaki Merapi pada tahun 1985, lebih duapuluh tahun yang 
lalu. Kali ini saya ingin menemani Noval, bukan karena takut dikalahin seperti 
tekatnya, melainkan ngiras-ngirus ingin saya manfaatkan untuk menanamkan 
pelajaran filosofi hidup tentang kemampuan untuk survive dalam menghadapi 
rintangan atau tantangan. Saya pikir, ini adalah salah satu bekal penting bagi 
seorang entrepreneur.



Insya Allah pada tanggal 31 Desember 2008 nanti kalau tidak ada aral melintang, 
kami berdua, Noval dan bapaknya, akan mendaki dan menggapai fajar baru tahun 
2009 di puncak Merapi. Itulah sebabnya hari Kamis kemarin (25 Desember 2008), 
saya bersama kedua anak saya jalan-jalan rekreasi sambil melakukan survey ke 
daerah Selo yang pada sore kemarin berkabut cukup tebal.



Ingin Bergabung Ke Puncak Merapi?



Jalur melalui Selo adalah lintasan pendakian termudah (tapi ya tetap saja bakal 
melelahkan), jarak tempuh menuju puncak Merapi hanya sekitar 4-5 jam. 
Rencananya kami berangkat dari Yogya hari Rabu, 31 Desember 2008 siang dan akan 
memulai pendakian dari Selo pada tengah malam saat pergantian tahun. 
Mudah-mudahan ketika fajar baru tahun baru 2009 menyingsing, kami sudah berada 
di puncak Merapi. Hari itu juga langsung turun dan kembali ke Yogya.



Jika ada rekan-rekan yang ingin bergabung dalam pendakian ke Merapi ini, 
silakan hubungi saya. Bisa berkumpul di Yogya atau langsung ketemu di Selo. 
Kalau tidak ada yang ikut, ya sudah.... Biar kami berdua saja yang menikmati 
capeknya.... ....   



Yogyakarta, 26 Desember 2008

Yusuf Iskandar

(HP. 08122787618)



http://yiskandar. wordpress. com

http://madurejo. wordpress. com




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke