samsul ulum

Tropical Forest Trust

wildlife specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tropicalforesttrust.com

--- On Tue, 12/30/08, adnun reno <[email protected]> wrote:

From: adnun reno <[email protected]>
Subject: Fw: [HARIMAU JAMBI] Kisah Harimau Sumatera dalam Cerita Ilmiah
To: "Lingkungan mailing list" <[email protected]>, "Sahabat PILI" 
<[email protected]>, [email protected], 
[email protected], "harimau jawa" <[email protected]>, 
"Daniedl" <[email protected]>, "dewi suprobowati" 
<[email protected]>, [email protected], "Samsul Ulum" 
<[email protected]>
Date: Tuesday, December 30, 2008, 10:42 AM

----- Forwarded Message ----
From: "Adnun Salampessy, S.Hut" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, December 31, 2008 1:34:16 AM
Subject: [HARIMAU JAMBI] Kisah Harimau Sumatera dalam Cerita Ilmiah


                                            Written by Newsroom                 
                       
                   Lauser adalah seekor induk harimau Sumatera yang baru saja 
melahirkan dua anaknya, Teso dan Nilo. Mereka bertiga tinggal di sebuah bukit 
di Pulau Sumatera. Lauser menjaga kedua anaknya itu sendirian. Pejantannya, 
Bohorok, telah pergi mengembara. Bohorok hanya bersama-sama Lauser pada saat 
musim kawin dan hingga usia kandungan Lauser berumur 9 minggu.

Sebenarnya, Teso dan Nilo memiliki seekor
 saudara lagi bernama Bilo. Namun, sayang, Bilo mati terserang penyakit yang 
tidak diketahui. Biasanya, harimau melahirkan 2 sampai 5 ekor anak. Tapi jarang 
bisa hidup semuanya, karena kehidupan di hutan itu sangat keras. Mereka bisa 
menjadi santapan harimau lain atau binatang lain seperti ular sanca.
Setiap bangun tidur, Lauser selalu mengaum. Hal itu merupakan salah satu cara 
untuk menandai wilayah kekuasaannya. Selain mengaum, biasanya harimau menandai 
wilayah kekuasaannya dengan menggunakan air kencing, kotoran, cakaran, ataupun 
menggosokkan badan ke batang-batang pohon.Menjelang sore, Lauser mengajak kedua 
ekor anaknya untuk berburu mangsa. Namun sayang, saat ini sangatlah sulit bagi 
Lauser untuk berburu mangsa. Banyak faktor yang menyebabkannya. Salah satunya 
adalah semakin sempitnya hutan tempat mereka berburu. Hal ini pun menjadi 
kekhawatiran tersendiri bagi Teso dan Nilo. Bayangkan saja, untuk 4 sampai 5 
ekor harimau
 dewasa seperti Lauser dan Bohorok, paling tidak membutuhkan 100 Km2 untuk 
daerah jajahan. 

Lantas, bagaimana dengan Teso dan Nilo? Apakah benar mereka adalah 
harimau-harimau Sumatera terakhir yang ada di Indonesia? Kisah tentang harimau 
Sumatera ini ditulis Fachruddin M. Mangunjaya & Dolly Priatna dalam buku cerita 
Harimau-Harimau Terakhir yang diterbitkan oleh WahyuMedia. Buku ini bukan 
merupakan buku dongeng semata. Melainkan juga dibuat berdasarkan data-data 
ilmiah pendukungnya. Misalnya, cara harimau mempertahankan dan melangsungkan 
hidupnya, cara harimau berburu mangsa, dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan 
harimau di dalam hutan.
Fachruddin & Dolly merangkum data-data ilmiah tersebut hingga menjadi cerita 
ilmiah (fiksi sains) yang mendidik dan menghibur. Selain itu, buku ini juga 
dilengkapi dengan permainan interaktif seperti berhitung, menjodohkan, dan 
mewarnai
 gambar.Sumber : http://wahyumedia.com


--

Posting oleh  Adnun Salampessy, S.Hut  ke  HARIMAU JAMBI  pada  12/31/2008 
01:32:00 AM


      


      

Kirim email ke