samsul ulum

Tropical Forest Trust

wildlife specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tropicalforesttrust.com

--- On Fri, 1/9/09, John Ardison <[email protected]> wrote:

From: John Ardison <[email protected]>
Subject: [tft-indonesia] Ngapain sih mendukung Palestina? !!
To: "TFT Indonesia" <[email protected]>, "alumni_Grant_Thornton" 
<[email protected]>, [email protected], "hrdm batch16" 
<[email protected]>, "Ade Siti Rahma" <[email protected]>, 
"atin" <[email protected]>, [email protected], "'Ratih Citra 
Dewy" <[email protected]>, [email protected], "Etna" 
<[email protected]>, "Junita Veronica" <[email protected]>, 
"Helena Sitorus" <[email protected]>, "isfah" <[email protected]>, 
"Imam Syarifudin" <[email protected]>, "ine'" <[email protected]>, 
"intan purbasari" <[email protected]>, "ipan paisal" 
<[email protected]>, "khairil ziyadi" <[email protected]>, "Lisa" 
<[email protected]>, "Yudi" <[email protected]>, "Joni" 
<[email protected]>, "retno dwiandani" <[email protected]>, "faisal 
saja" <[email protected]>, "tri rahayu" 
<[email protected]>, "Hendry Siagian"
 <[email protected]>, "jerry" <[email protected]>, "Yuki" 
<[email protected]>
Date: Friday, January 9, 2009, 6:52 PM










    
            
Bangsa Indonesia berutang budi pada Bangsa Palestina

Ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina,
atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap
Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang.
Ngapain sih mendukung Palestina? 
Pertanyaan tersebut diatas sering
kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa
Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau
enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari. 
Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah 
berhutang dukungan untuk Palestina. 

Sukarno-Hatta
boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus
1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara
yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa
lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh
tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat. 



Gong
dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan
Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar
Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan
Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh.
Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan
Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini
diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution. 

M. Zein
Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada
hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata
Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain
belum berani untuk memutuskan sikap. 



Dukungan
Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar
Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: 
"..,
pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan
selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri
ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami,
bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang
disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan,
bahkan harian "Al-Ahram" yang terkenal telitinya juga menyiarkan."
Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti
Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat
Kemerdekaan Indonesia" dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah
tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para
pejabat dinegeri ini. 

Bahkan dukungan ini telah dimulai
setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan
RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap
perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang
saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di
Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua
kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia .." 

Setelah
seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI
pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang
disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi
RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat
penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga
dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan
& pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. 

Dukungan Mengalir Setelah Itu 

Setelah
itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat
kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ' Panitia Pembela Indonesia 
'.
Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan
Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam
pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut. 

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh 
masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 
November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya ,
demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya
Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan
masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm
pertempuran yang sangat dahsyat itu. 

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca 
Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal 
"Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port 
Said. 
Ribuan
penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka
menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih –tanda
solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau
blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin
menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang
berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian
motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan
dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul
Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal
Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para
buruh Mesir. 

Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan: 
"Motor-motor
boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan
sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar
stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat
besar itu kejuruan lain." 

Melihat fenomena itu, majalah TIME
(25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan
Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab. "Kebangkitan Islam di negeri
Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan
negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa."

Melihat
peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat
ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa
bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan
kita..(Lihat foto bung Hatta, Hj Agus Salim, Mufti Palestina, dan
pemimpin Mesir di attachement supaya kita kenal wajah wajah dari tokoh
pembela Indonesia ini)
Statement Tokoh dalam buku ini: 

Dr. Moh. Hatta 
"Kemenangan
diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan
Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara
yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda
untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya
di masa-masa yang lampau." 

A.H. Nasution 
"Karena
itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI
dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling
dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri.
Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure
RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini
merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati
terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal
perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan
jang ditentukan oleh UUD '45 : "ikut melaksanakan ketertiban dunia jang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial". 

JASMERAH = JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH





      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke