Fenomena agresi israel ke palestina kadang 'mengalir' ke isue perang antara 
Yahudi dan Islam. Yahudi dengan israel plus amerikanya. Islam dengan palestina 
dan negara-negara berpenduduk islam di dunia.
 
Tanpa sadar, kita jadi suka membuat kesimpulan dengan menggeneralisir. 
 
Bahwa palestina selalu muslim, padahal sebagian penduduknya beragama non islam. 
 
Bahwa Israel adalah pembunuh, padahal yang membunuh adalah negara plus 
tentaranya, tetapi ada sebagian rakyatnya yang menentang perang ini.
 
Bahwa Obama dianggap pro Israel karena tidak mengeluarkan pernyataan 
penghentian perang, padahal presidennya masih Bush dan Obama belum dilantik. 
Bahkan foto Obama di tempat peribadatan yahudi dianggap justifikasi bahwa dia 
pro yahudi. Mirip dengan foto Obama saat mengenakan sorban bahwa dia dianggap 
pro pada islam, yang notabene agama mayoritas di negara asal ayahnya.
 
Kalau Negara Israel menyerang dan salah, apakah semua manusia yang ber-KTP 
israel akan salah pula.
Kalau Amerika meng-amini perang ini, apakah artinya semua manusia ber-KTP 
amerika perlu dihujat dan dianggap bersalah? misalnya dengan merusak semua 
usaha/produk berlabel amerika.
 
Relakah kita umat islam Indonesia yang dituduh hobi berselisih paham, sehingga 
terpecah di partai-partai atau ormas tertentu, sehingga pula kita dituduh 
begitu karena ajaran islam yang gak benar. benarkah?
 
Adilkah kita menilai kualitas agama dari kualitas pemeluknya?
Adilkah kita berselisih paham dengan orangtua, lalu otomatis memusuhi anaknya?
Adilkah kita menilai watak orang hanya dari karena orang itu beragama dan 
bersuku tertentu? seperti kita selalu menyebut "londo" untuk semua orang bule 
yang datang di negeri ini, gak peduli memang dari Belanda atau malah dari Rusia.
 
Beredar pula banyak SMS yang mengatasnamakan imam masjid di palestina, atau 
atas nama imam di ka`bah sana untuk menyerukan kiriman doa ke palestina. 
Benarkah memang sms itu dari sana? siapa yang menjamin? kenapa kita tidak 
berani meminta lewat sms atas nama kita sendiri? bukan atas nama orang lain, 
dll. dll.
 
Tulisan ini bukan untuk membenarkan yang salah, atau sebaliknya.
Tetapi harap kita merenung, benarkah kesimpulan yang kita hasilkan, ataukah 
hanya merupakan emosi sesaat yang kadang malah menjerumuskan kita menjadi tidak 
bijak dan malah menjadi makin tidak bermartabat.
 
Ki Asmoro Jiwo
 


      

Kirim email ke