Hati hati dalam mengikuti kegiatan spiritual :
Ulah kelompok penganut ajaran sesat ternyata tak cuma meresahkan warga
Kebagusan II Jakarta Selatan saja. Tahun 2002, kelompok ini diusir warga dari
markasnya di Kampung Rawa Aren RT 07/012, Aren Jaya, Bekasi Timur.
Bahkan rumah tempat kelompok ini menjalankan ritual sempat mau dibakar warga,
namun dicegah H. Nagan, tokoh masyarakat. H. Nagan, 46, yang ditemui di
kediamannya, Rabu (28/12), mengatakan Agus dan kelompoknya memang pernah diusir
warga karena ajaran mereka bertentangan dengan Islam.
“Agus anak bungsu dari 12 saudara. Ia menikah dengan Sutari dan dikaruniai anak
tiga. Warga mengusir Agus karena meresahkan, di antaranya ciuman di muka umum
sesama anggotanya setiap bertemu. Jelas kami risih,” kata H.Nagan.
Pantauan Pos Kota, bekas markas aliran Satria Piningit Weteng Buwono di Kampung
Rawa Aren yang juga kediaman orangtua Agus, itu kini jadi perhatian warga.
Orangtua Agus sudah meninggal dunia. Rumah itu ditempati seorang kakaknya.
Namun saat pintu rumah diketuk, tak ada yang menyahut.
NGAKU IMAM MAHDI
Di mata para pengikutnya, sosok Satria Piningit Weteng Buwono, begitu
berwibawa. Apalagi ia mengaku sebagai titisan mantan Presiden Soekarno, Imam
Mahdi dan Tuhan semesta alam.
Pengakuan yang tidak masuk akal itu diterima mentah-mentah 40 anggotanya yang
terdiri dari pria maupun wanita. Bahkan, para pengikutnya rela melakukan apa
yang disuruh sang guru, termasuk melakukan hubungan seks yang ditonton seluruh
anggota saat ritual berlangsung.
Hal ini diakui Eko,25, mantan pengikutnya, yang ditemui di Jalan Kebagusan II,
RT010/06, Jakarta Selatan. Menurut Eko, mereka tidak berani melawan karena
takut ancaman Agus yang disebut-sebut sakti. Sang guru menjanjikan mereka akan
ditempatkan di surga tertinggi bila terus menjadi pengikutnya.
RITUAL SEKS
Eko menambahkan, mereka pernah melakukan ritual seks sebanyak dua kali dan
disaksikan seluruh anggota yang hadir. “Agus berkilah di akhirat nanti seluruh
manusia juga akan telanjang. Selain itu di akhirat juga akan diajarkan kama
sutra.”
Para peserta ritual seks, diakui Eko, tidak bisa bertukar pasangan. Mereka
melakukan hubungan seks itu antar suami-istri. Perihal adanya rasa risih karena
ditonton banyak orang, para pengikut Agus menyadarinya.
Sejak mengaku menjadi Satria Piningit, Agus juga mengaku sebagai Imam Mahdi.
Ini dilakukan pada tahun 2003 hingga 2004. Sampai akhirnya ia mengaku sebagai
Tuhan semesta alam pada tahun 2005. Kepada anggotanya, Agus berkoar bisa
menghidupkan orang yang sudah mati.
Sampai akhirnya pengikut sadar kalau lelaki itu pembual setelah anak Koesmana,
58, yakni Ratna Ayu Kusuma Ningrum, 33, meninggal. “Sejak itu kami tidak
percaya,” tandas Eko.”Dia juga melarang salat dan puasa.”
Hingga Rabu sore, rumah Koesmana tempat Agus melakukan ritual bersama
pengikutnya masih ramai dikunjungi warga. Petugas Polres Jakarta Selatan dan
Polsek Pasar Minggu membawa foto Agus maupun dokumen lainnya. Kapolsek Pasar
Minggu, Kompol Maryoto SH menyatakan, saat ini petugas sudah memeriksa lima
orang saksi.
DISELIDIKI BAKOR PAKEM
Badan koordinasi pengawasan aliran kepercayaan masyarakat (Bakor Pakem) segera
mendalami dan mengkaji keberadaan kelompok ini untuk selanjutnya diambil
langkah hukum.
Menurut Kapuspenkum Kejaksaan Agung, M Jasman Pandjaitan, langkah Polri
mengejar pemimpinnya dan meminta keterangan saksi-saksi serta mengunpulkan
bukt-bukti sudah sesuai ketentuan hukum.