Sekadar Tambahan saja,  saya sebagai seorang yang berkecimpung di bidang Kimia 
tidak pernah menggunakan skala berat dalam pon dan ons (versi Indonesia) karena 
memang bukan merupakan SI (satuan International) yang sekarang resmi digunakan 
adalah gram (disingkat "g" bukan "gr" walaupun sampai sekarang masih banyak 
yang salah menyingkat gr) atau kelipatannya. Setahu saya di SMP dan SMA juga 
tidak diajarkan satuan ons dan pon versi indonesia yang salah (karena anak saya 
satu sma dan satunya lagi smp dan saya juga menjadi guru kimia sma N 1 Yogya 
kelas SBI). Saya tidak tahu kalau di SD. Sebenarnya kontribusi kesalahan juga 
sedikit banyak bersumber dari orang eropa khususnya Inggris yang tidak mau 
spenuhnya menggunakan satuan-satuan SI yang sudah disepakati tapi masih memilih 
menggunakan satuan-satuan tradisionalnya (kesombongan ????) sehingga 
kadang-kadang etungannya menjadi membingungkan, khususnya bagi pemula.

WaLLahu 'Alam,

 Mudasir 
Department of Chemistry
Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Gadjah Mada University, Sekip Utara
PO Box Bls 21, Yogyakarta 55281
Indonesia
HP:(+62)-811-251267 
Fax:(+62)-274-545188




________________________________
From: Bambang Murtiasa <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, January 28, 2009 8:07:22 PM
Subject: [kendal-online] Re: [HME KetloP] Fw:PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG


Inilah salah kaprah yang telah kita terima selama ini di dunia Pendidikan
Indonesia

salam
Bambang M
----- Original Message -----
Subject: [HME KetloP] Fw:PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG
Date: Wed, 28 Jan 2009 7:10:56
From: Suci Satri Satiti <suci...@hotmail. com>
To: hme_ket...@googlegr oups.com HME2 <hme_ket...@googlegr oups.com>

fyi, sharing dr milis sebelah, semoga bermanfaat maaf kalo sudah pernah
dapat regards, ---- s...@malangkab. go.id +6281553355679
http://www.malangka b.go.id http://wap.malangka b.go.id PENDIDIKAN YANG
MENJADI BOOMERANG. Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan
asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan
dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan
ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi
secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu
gagal.. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman
saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan
acuan ilmiah yang menyatakan 1
ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan
Kamus
Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah
satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi
yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan..
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. Prihatin dan penasaran atas kasus diatas,
saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas
sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi .
Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons
untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang
termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di
Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan
kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi
sejak
lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang
bertulisan "ons" dan "pound". Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1
ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan
sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang
nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang
diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus
Indonesia. Jadi , hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan
turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ? BAGAIMANA KESALAHAN
DIAJARKAN SECARA RESMI ? Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini
ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia
kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang
jauh karena akan
menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas
dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak
kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua
sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan
anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini
sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya
mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau
disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu.
Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama
Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi. TANGGUNG
JAWAB SIAPA ? Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas,
Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada
masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini,
salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;
"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa : 1 ons adalah 100 gram, 1
pound adalah 500 gram."? Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan
acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang
? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia
berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut
dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan
sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? Kalau Dep. Pendidikan mau
mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri
melalui
Direktorat
Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka
konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi
Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia
internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem
timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan
1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang
mau pakai ?. HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. Contoh kasus diatas hanyalah
satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban
kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang
terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak
sekali ibu-ibu yang mempraktek kan resep kue dari buku luar negeri tidak
berhasil
tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan,
masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau
tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu
dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi
masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk
tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di
sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki
supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang
paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu
Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena
itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti
landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikan nya. Mengejar
ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah
merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan
pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita
untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI
secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi
korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa
banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku
secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan
pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa
depannya yang akan penuh dengan tantangan berat. ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga
ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan
promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel
konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian /
diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk
sebagai sarana promosi. Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum
dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca :
averdupoiz). 1 ounce/ ons/ onza = 28,35 gram (bukan 100 g.) 1 pound = 453
gram (bukan 500 g.) 1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons) Bayangkan saja,
bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya
hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini
bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau
murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah
tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu
akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang
lain banyak sekali
terjadi) KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?. Melalui
tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah,
akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang
lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang
keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn.
satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai
kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang
kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa
mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini. # #
# # # Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan
mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. Juga
kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta
LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas. Bila anda merasa
sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa
depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak/ difoto copy dan
disebar-luaskan sendiri. Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini,
silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai
Metrologi setempat dikota anda berada. Terima kasih saya ucapkan kepada anda
yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak
Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus
ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.

_,_._,___

What can you do with the new Windows Live? Find out

Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar. yahoo.com

    


      

Kirim email ke