Makanan khas Kendal sebenarnya ada mas, cuman belum terangkat saja ke luar
kota.Sebagai contoh Sate Bumbon dr Pegandon, Sate Kerbau dr Kaliwungu, Sayur
Gono dr Kaliwungu & Brangsong, masih banyak kuliner Khas Kendal.
Mungkin dr temen2 yg lain ada masukan?
--- Pada Sen, 9/2/09, Budi Yuwono <[email protected]> menulis:
Dari: Budi Yuwono <[email protected]>
Topik: [kendal-online] Re: Belum Ke Wonosobo Kalau Belum Makan Mie Ongklok
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 9 Februari, 2009, 3:20 AM
Wah...Mas Iskandar sangat piawai sekali kalau menceritakan hasil
survei kuliner-nya, jadi kepingin nih....!!!,
Tapi ngomong-ngomong kalau Kota Kendal sendiri kulinernya apa ya mas...., saya
kepingin sekali mengangkat jenis makanan khas kota asli kendal di perantauan,
syukur-syukur bisa buat icon kota kendal yang sekarang lagi pada mark bikin
icon kota masing-masing.
Pernah saya ikut datang dalam rangka acara paguyuban kota kendal yang di
Jakarta, disitu juga tidak menampilkan makanan kendal ( bisa jadi tidak ada
yang bisa masak kali ya..bahkan tahu makanan apa gerangan khas kendal itu? )
dan pernah juga ada acara pentas seni Kota Kendal di anjungan TMII Jawa
Tengah, itupun juga tidak saya ketemukan makanan khas kendal.
Terus kalau gitu sebenarnya apa ya...yang mesti bisa kita claim sebagai
makanan/ masakan khas kendal itu ???
Thanks
Salam
By
From: Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com>
To: Kendal Online <kendal-online@ yahoogroups. com>
Sent: Sunday, February 8, 2009 8:08:23 PM
Subject: [kendal-online] Belum Ke Wonosobo Kalau Belum Makan Mie Ongklok
Belum Ke Wonosobo Kalau Belum Makan Mie Ongklok
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Ketika Anda berkunjung ke kota Wonosobo, Jawa Tengah, tidak perlu heran kalau
kemudian ada yang berkata kepada Anda : ”belum ke Wonosobo kalau belum makan
mie ongklok”. Inilah tag line kebanggaan masyarakat Wonosobo ketika ada teman
atau koleganya yang bertamu ke kotanya. Kebanggaan yang memang seharusnya ada
dan dimiliki oleh setiap wilayah di mana pun. Intinya tentu saja berpromosi.
Andai setiap kota atau wilayah di Indonesia memiliki tag line yang semodel itu,
lalu pesankan kepada warganya, termasuk yang sedang berada di perantauan untuk
mengenalkan potensi daerahnya masing-masing. Maka kota itupun akan semakin
dikenal dan dipenasarani oleh orang lain. Terutama dengan adanya sesuatu yang
khas dari kota itu dan lebih terutama lagi kalau itu menyangkut makan atau
pengalaman kuliner. Tak terkecuali kota Wonosobo.
Merasa tertantang dengan tag line Wonosobo dengan mie ongkloknya, Sabtu dini
hari yang lalu sekitar jam 1:00 saya berangkat dari Jogja menuju Wonosobo
(dasar enggak ada kerjaan....! ). Waktu tidur dikorbankan demi sebuah tantangan
agar dibilang sudah pernah ke Wonosobo. Perkara kemudian di sana ada peluang
bisnis yang dapat dikerjakan, maka itu menjadi bagian cerita berbeda. Seingat
saya sudah beberapa kali saya singgah ke kota nan cantik dan indah bak negeri
di atas awan yang terletak di kaki selatan pegunungan Dieng dan berada di
lereng gunung Sindoro dan Sumbing, tapi masak dibilang belum pernah ke
Wonosobo.
***
Mie ongklok Wonosobo memang khas dan jenis makanan ini sudah merakyat sejak
jaman dulu kala. Sepertinya tidak saya temukan di kota lain. Kalau makanan
mie-miean banyak di mana-mana, tapi yang ongklok-ongklokan rupanya hanya ada di
Wonosobo.
Sebenarnya tidak sulit menemukan penjual mie ongklok di Wonosobo, sama seperti
mencari penjual mie atau bakmi di setiap pelosok nusantara. Namun ada beberapa
lokasi penjual mie ongklok yang sudah kesohor punya nama dan banyak
disebut-sebut penggemar wisata kuliner. Di antara yang sudah punya nama itu
adalah mie ongklok pak Muhadi di Jl. A. Yani dan mie ongklok Longkrang di Jl.
Pasukan Ronggolawe.
Mie ongklok Pak Muhadi sebenarnya lebih terkenal. Namun sejak dikelola oleh
generasi penerusnya, konon kini taste-nya sudah agak berbeda dengan ketika dulu
masih ditangani (benar-benar diracik dan dilayani sendiri dengan tangannya) Pak
Muhadi. Cerita ini mirip-mirip bakmi Kadin Jogja yang sekarang juga dikelola
oleh generasi keduanya, sehingga terasa kurang ”punya taste”, tak lagi se-mak
nyus dulu ketika masih digemari oleh almarhum pak Harto atau kerabat Kraton
Jogja.
Pilihan lalu diarahkan ke mie ongklok Longkrang yang warungnya biasanya buka
menjelang sore hingga malam hari. Longkrang bukan nama orang, melainkan nama
desa dimana rumah makan mie ongklok ini berada. Lokasinya mudah dicapai, tidak
sampai 1 km dari alun-alun kota Wonosobo menuju ke utara arah Dieng, kemudian
belok kanan. Tampilan mukanya sangat sederhana, nyaris menyerupai rumah tinggal
kalau bukan karena di depannya terpasang spanduk warna kuning muda (sudah kusam
maksudnya).
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semangkuk mie ongklok disajikan, tidak
seperti kalau pesan bakmi goreng atau rebus yang harus dimasak dulu. Segumpal
mie kuning ditambah irisan kol dan daun kucai mentah dimasukkan ke sebuah wadah
menyerupai saringan, lalu direndam ke dalam kuah panas berkaldu ayam. Proses
pematangan campuran mie dan sayuran itu dilakukan sambil di-ongklok-ongklok
atau di-opyok-opyok di dalam kuah panas. Begitulah, maka disebut mie ongklok.
Setelah dirasa agak matang, lalu dituang ke dalam mangkuk dan ditambah dengan
bumbu penyedap. Setelah itu disiram dengan kuah kental berwarna kecoklatan
campuran adonan kanji (tepung tapioka) dan ebi (udang kering), lalu diguyur
dengan sambal kacang. Terakhir ditaburi bawang goreng sebelum disajikan.
Tampilan akhir sajian mie ongklok ini memang kurang menggairahkan, seonggok mie
yang dilumuri kuah kental jadi terlihat nglentrek-nglentrek......, berkuah
nyemek kental kecoklatan, gimana gitu....
Baiknya langsung saja diaduk agar bumbu, kuah kental dan sambal kacangnya
merata di saat masih fanas (saking panasnya). Tapi sebelum itu cobalah untuk
mencicipi sedikit kuah kentalnya dulu, lalu rasakan sambal kacangnya, baru
kemudian diaduk. Jika suka pedas, campurkan cabe rawit yang sudah digerus
dengan sendok di dalam mangkuk, begitu cara membuat sambalnya. Lalu rasakan
sensasi nglentrek-nglentrek-nya dan nikmati citarasa khas kelezatan mie ongklok
yang semangkuknya dihargai Rp 4.000,- ini.
Menu pendamping untuk menikmati mie ongklok adalah leko atau cireng (aci
goreng) yang berupa gorengan tepung beras gurih dan enak berwarna putih.
Makanan ini juga disebut geblek (huruf ’e’ kedua dibaca seperti pada kata
’imlek”). Barangkali karena bentuknya menyerupai geblek (dalam bahasa Jawa
geblek berarti pemukul) kasur jaman dulu sewaktu kasur masih terbuat dari kapuk
dan perlu dijemur seminggu-dua minggu sekali agar mengembang, menghalau bau
apek dan mengusir tinggi (bahasa Jawa tinggi berarti kutu busuk, yang kalau
di-pithes bau busuknya minta ampun....., sekarang binatang tinggi ini layak
tergolong binatang langka yang tidak perlu dilindungi.. ...).
Selain dimakan dengan cireng atau geblek, mie ongklok perlu ditemani menu
asesori tambahan yaitu sate sapi berbumbu sambal kacang dan tempe kemul (dalam
bahasa Jawa kemul berarti selimut), yaitu tempe goreng yang dibungkus dengan
adonan tepung. Maka ketika semangkuk mie ongklok disanding dengan cireng, tempe
kemul dan sate sapi, bersiaplah untuk bingung mau dimakan apanya dulu....
”Habis semuanya terlihat enak sih......”, begitu pembelaan dalam hati. Jika
jalan keluarnya kemudian adalah mencampur semuanya ke dalam satu mangkuk pun
bukan soal. Sebab citarasanya tetap enak dan nyemmm.... (hanya sebaiknya Anda
duduk agak menyudut agar tidak disenyumi pembeli lain....).
Menilik sajian mie ongklok plus menu pelengkap yang seakan menggunung di dalam
mangkuk, maka memang cocoknya mie ini dinikmati saat sedang lapar berat. Kalau
kemudian saya sukses menghabiskan dua mangkuk mie ongklok termasuk menu
pelengkapnya, itu karena makan siangnya agak terlambat alias sedang lapar berat
itu tadi. Dan yang penting, ada bukti lebih dari cukup bahwa saya sudah ke
Wonosobo....
Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar
http://yiskandar. wordpress. com
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/