pak/ mas nur...
saya sepakat dengan panjenengan. seringkali orang hanya menilai sesuatu
berdasar yang dilihat saja, bukan pada hakikat atas sesuatu...
harta, tahta dan kerjaan seringkali menjadi landasan untuk menentukan penilaian
atas sesuatu.
padahal, jodoh, rejeki, dan kehidupan bukan urusan manusia.
tak jarang kita sering merasa pongah dengan bertanya "kerja di mana?" kapan
menikah? kapan nambah anak? wong udah mapan, mau cari apa lagi, mbok cepet2 aja
menikah...
dan sejumput pertanyaan lain yang menunjukkan kita merasa kita punya kuasa
untuk memaksa orang lain melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya merupakan
hak prerogatif dari TUhan...
urusan rejeki jodoh dan kehidupan, bukanlah hal yang layak kita uruskan pada
orang lain. toh belum tentu kita sendiri sudah sempurna mengurus diri sendiri
tentang hal tersebut.
untuk bisa mendalami hati, salah satu kunci adalah dengan memperbanyak
istighfar.
salam
wtn