"CD Remix Special Edition" Penangkal Hujan
------------------------------------------

Minggu lalu teman saya melepas masa lajangnya di Balikpapan. Menurut undangan, 
resepsi pernikahan diselenggarakan jam 10 pagi. Kebiasaan kita di tempat lain, 
pada undangan disebutkan resepsi dari jam sekian sampai jam sekian. Namun 
tradisi di Balikpapan rupanya agak berbeda, undangan acara resepsi biasa 
ditulis jam sekian sampai selesai. Maka kalau undangan mulai jam 10 pagi, 
berarti tuan rumah beserta mempelai harus siap-siap menyambut tamu hingga 
langkah tamu yang terakhir, jam berapapun datangnya. 

Menurut pikiran teman saya, sang penganten lelaki, tentu saja ini situasi yang 
"kurang menguntungkan". Hari sepertinya kok enggak malam-malam...... Selalu 
standby di pelaminan menunggu barangkali ada tamu yang baru bisa datang saat 
malam menjelang.     

Lain cerita tentang enggak malam-malam...., lain lagi cerita tentang keadaan 
cuaca. Sedari pagi hingga menjelang jam 10 saat resepsi hendak dimulai, 
ternyata hujan deras mengguyur Balikpapan seolah tak hendak berhenti. Tuan 
rumah pun gelisah. Kalau hujan tidak berhenti juga, bisa-bisa "jualan"-nya 
tidak laku. 

Mertua teman saya yang sebenarnya juga orang Jawa tapi tinggal di Balikpapan, 
rupanya punya ide "nyleneh". Sang pengantin lelaki dan perempuan diminta 
mengumpulkan CD (baca : cede) masing-masing satu eksemplar, lalu kedua benda 
itu dibungkus plastik. Bungkusan spesial berisi campuran dua CD jantan dan 
betina itu pun lalu dilempar ke atas atap rumah bagai meteor jatuh dari 
angkasa. Sayangnya, teman saya tidak tahu rumah siapa yang kejatuhan bungkusan 
berisi sepasang CD itu. Atau mungkin memang sebaiknya tidak perlu ada yang 
tahu. Takut kalau terus diambil lagi.....

Lha kok ndilalah....., hujannya kok ya terus berhenti, dan terus berhenti 
sampai malamnya, hingga langkah tamu terakhir meninggalkan gelanggang resepsi 
yang tak sudah-sudah sejak pagi. Aneh bin ajaib, pikir teman saya. Sebab 
kesimpulannya menjadi : Sepasang CD yang dilempar ke atas atap telah berhasil 
menangkal guyuran air hujan.   

Kalau ditanya apa hubungan antara CD yang dilempar ke atas atap dengan hujan? 
Ya, sama sekali tidak ada. Mau ditelisik dari disiplin ilmu apapun tidak akan 
ketemu perkaranya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan adalah bahwa ada sebuah 
tradisi yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat Jawa tentang 
urusan lempar-melempar CD dikala sedang punya hajatan tapi hujan tak kunjung 
reda. Terkesan indah sekali (tradisinya tentu saja, bukan CD-nya...).

Barangkali karena merasa "gimana gitu....", maka alternatifnya kini ritual 
lempar-melempar CD banyak ditinggalkan dan diganti dengan mengundang pawang 
hujan. Sebab kalau kemudian acaranya adalah upacara tujuhbelasan, lalu CD siapa 
saja yang mau dikumpulkan lalu dilempar, dan atap siapa yang mau ditimpukin 
CD.....

*** 

Tidak sampai seminggu kemudian, teman saya itu sudah boyongan bersama keluarga 
barunya ke Yogyakarta. Saat pertama kali bertemu di Yogya, saya mengusulkan 
kepada teman saya itu agar coba "CD Remix Special Edition" yang dilempar ke 
atas atap itu dicari dan diambil kembali. Baru seminggu berlalu, belum lama. 
Dan lagi, pasangan CD itu kan dibungkus plastik, pasti kondisinya masih baik. 
Teman saya tertawa ngakak. "Buat apa?", katanya.

Ya, buat apa.... Seperti kurang kerjaan saja. Barangkali kita pun akan berkata 
begitu. Saya melihat sisi "nyleneh" lainnya. Benda "sakti" yang telah menangkal 
hujan itu kelak akan menjadi sebuah benda kenangan yang tak ternilai harganya. 
Sebuah memorabilia yang siapa tahu bernilai tinggi di pasar lelang Christy di 
New York. Tak seorang pun tahu, kalau 20 tahun lagi ternyata teman saya atau 
anaknya sukses menjadi seorang selebriti, syukur-syukur kelas dunia.

Lho, siapa yang menyangka anak laki-laki kecil, dekil, hitam, njelehi bernama 
Obama yang dulu pernah sekolah di Menteng itu kini jadi Presiden Amerika. Atau, 
Soeharto yang anak petani itu pernah menggegerkan Indonesia. Atau Tukul yang 
kelewat katrok dan tampak bodo itu penghasilannya susah dihitung. Atau, Inul 
yang penyanyi ndang ndut ndeso itu bisa mengundang simpati dan dielu-elu 
dimana-mana. Orang-orang ini hanyalah contoh. Diakui atau tidak, diam-diaman 
atau terang-terangan, punya memorabilia yang bagi sebagian orang bernilai 
tinggi.   

Bagian terakhir dari cerita ini memang berbau mengada-ada. Tapi yang pasti 
adalah kalau sekarang kita mengatakan "Ah, itu tidak mungkin.....". Maka yang 
akan terjadi kelak adalah ketidakmungkinan itu. Lha, kalau sebaliknya? Maka 
diri kita akan menjadi seperti yang sebaliknya itu. Dan sesungguhnya yang 
mengatakan demikian itu bukan saya, melainkan kitab suci.
 
Jadi? Sebaiknya teman saya itu mempertimbangkan untuk mencari dan mengambil 
kembali "CD Remix Special Edition" yang sekarang entah berada di atas atap 
rumahnya siapa di Balikpapan sana. Kelak akan ada sebuah kisah yang tak kunjung 
habis untuk ditulis. Kisah tentang sebuah tradisi yang indah yang masih 
dilakoni leh sebagian masyarakat Jawa. Kisah tentang memorabilia cinta kasih 
sepasang anak manusia. Kisah tentang janji Sang Pencipta Kitab Suci yang pasti 
akan ditepati. Kisah tentang orang yang kehabisan ide sampai sempat-sempatnya 
menuliskan kisah ini.....

(Sengaja tulisan ini tidak disertai ilustrasi foto....)

Yogyakarta, 21 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar



      

Kirim email ke