Tentang Tumbuhan Beracun
Selasa, 24 Februari 2009 | 15:49 WIB
Oleh T Bachtiar
Soal kearifan menyampaikan informasi yang jernih dan jujur tentang
sesuatu yang dapat membahayakan keselamatan warga kota, kita tampaknya
masih perlu berguru kepada para pendahulu kita yang berada di Tatar
Sunda. Tumbuhan beracun di halaman rumah bukan berarti tidak ada.
Masyarakat paham betul bahwa tumbuhan jenis tertentu membahayakan. Getah
menetes ke mata, misalnya, akan menimbulkan iritasi, bahkan
mengakibatkan kebutaan.
Di Pameungpeuk, Garut, sampai tahun 1970, misalnya, belum pernah ada
anak yang terkena kebutaan karena tumbuhan tertentu. Saya lupa nama
tumbuhan itu, tetapi saya melihatnya di halaman rumah di Jalan
Abdurachman Saleh, Bandung. Orang tua, misalnya, selalu mengingatkan
anak yang mendekati pohon tertentu saat mengambil layang-layang putus
bahwa bila menetes ke mata, getah pohon itu dapat menyebabkan kebutaan.
Anak-anak menjadi sangat hati-hati bila mendekatai pohon bergetah itu.
Bila anak-anak melewati pohon bergetah itu, mereka bercerita dengan
mengutip apa yang dikatakan orang tua bahwa getah daunnya dapat
menyebabkan kebutaan bila menetes ke mata. Alhamdulillah, anak-anak
tidak ada yang buta karena getah itu. Masyarakat nyaman berada di sana
dan pohon itu tetap tumbuh di halaman rumah, serta tidak ada yang
menyarankan untuk menebangnya.
Karena Pameungpeuk berada hanya 6 kilometer dari pantai di Samudra
Hindia, wajar bila di sana banyak pohon butun, bahkan ada yang dibiarkan
tumbuh di halaman rumah, seperti di halaman rumah ceu Mae. Anak-anak di
sana tahu bahwa itu pohon tua, pohon beracun, bahkan dapat memabukkan
ikan di sungai atau di pantai sehingga ikan mudah ditangkap.
Dengan mendengar dan melihat bahwa buah butun memabukkan atau bahkan
mematikan, betul adanya, bila racun yang ada di dalamnya masuk ke dalam
tubuh manusia. Bila tidak masuk ke tubuh manusia, itu sesungguhnya
aman-aman saja. Di Bandung, pohon Baringtonia asiatica ini ternyata
dapat tumbuh dengan subur, seperti yang tumbuh di halaman madrasyah
tsanawiyah, tak jauh dari Jalan Holis. Selain itu, saya juga pernah
melihatnya di SMAN Margahayu, Kabupaten Bandung.
Informasi yang jujur
Pohon butun yang tumbuh di halaman dua lembaga pendidikan itu belum
dikabarkan telah membunuh siswanya. Kalau dinyatakan beracun, sudah
terbukti, siapa pun yang memakannya minimal akan mabuk dan maksimal akan
segera dikafani. Jadi, bila buah butun tidak dimakan, kehadiran pohon
ini tidak mengganggu keamanan siswa.
Tampaknya yang diperlukan adalah informasi yang jujur, bukan pernyataan
yang bertendensi. Bila suatu tumbuhan sudah terbukti dengan data yang
tak terbantahkan beracun dan dapat membahayakan bagi warga kota, perlu
diinformasikan dengan jelas bahwa tumbuhan itu beracun dan dapat
memabukkan, dapat menimbulkan alergi bila getahnya kena kulit,
menimbulkan kebutaan bila getahnya menetes ke mata, bahkan mematikan
bila buahnya dimakan. Kalau manusia tidak bersentuhan dengan apa yang
dapat membahayakan itu, saya rasa hal itu tidak akan membuat bahaya apa pun.
Tentang tumbuhan beracun itu pastilah Allah SWT tidak membuatnya sia-sia
hadir di bumi ini. Oleh karena itu, janganlah dipolitisasi racunnya
saja. Bahwa tumbuhan itu beracun perlu disampaikan secara jernih dan
jujur, serta lebih rinci dan spesifik, seperti informasi bagian apa dari
tumbuhan itu yang beracun dan menimbulkan akibat apa bila digunakan.
Masyarakat kita sudah memberi contoh yang sangat baik tentang tumbuhan
beracun ini. Tentang gadung (Dioscorea hispida Dennst), misalnya, semua
orang sudah meyakini bahwa umbinya sangat beracun. Namun, masyarakat
memiliki caranya sendiri untuk mengolah umbi yang banyak tumbuh liar di
hutan ini sehingga menjadi camilan yang lezat bila dikukus dan diberi
parutan kelapa, atau dibuat keripik yang rangu, renyah, dan gurih
setelah racun sianida yang mematikan itu dinetralkan dengan cara
direndam di air yang mengalir. Bahkan, dengan caranya sendiri, rakyat
kita telah memanfaatkan umbi ini untuk mengobati penyakit tertentu,
seperti yang dikutip K Heyne (1927).
Demikian juga dengan pohon kapayang (Pangium edule Reinw) yang buahnya
sangat beracun. Kandungan sianidanya sangat tinggi, tidak saja dapat
memabukkan, seperti yang terkenal dengan sebutan mabuk kepayang, bahkan
dapat mematikan. Namun, sekali lagi, rakyat kita, dengan genius dapat
membalikkan buah racun itu menjadi makanan yang maknyus!
Buah kapayang muda diolah menjadi dage picung yang lezat, dan buah
kapayang tua diolah menjadi kelewek untuk bumbu asam garam, rawon, atau
ikan gurami bumbu pucung/kelewek. Walau masakan itu tampilannya hitam,
banyak orang kecanduan.
Pengawet ikan
Ini lagi kegeniusan rakyat kita. Coba tanya kepada akademisi di berbagai
perguruan tinggi, bagaimana caranya agar ikan dari nelayan dapat sampai
di kota-kota yang jauh dalam keadaan masih segar. Pastilah jawabannya
dengan cara dibekukan atau diberi es. Lebih keren lagi usulnya dengan
membuat pusat-pusat cool storage di setiap pelabuhan ikan. Ide yang luar
biasa itu ternyata hanya menjadi sampah ketika di pulau-pulau kecil di
Nusantara ini tidak terdapat listrik, tidak ada mesin diesel, dan BBM
sulit didapat.
Akan tetapi, apa yang dilakukan rakyat kita jauh sebelum penjajah masuk
dan jauh sebelum perguruan tinggi di Indonesia berdiri? Mereka
memanfaatkan buah kapayang yang sangat beracun ini menjadi serbuk yang
dapat mengawetkan ikan beberapa hari. Sampai sekarang, tanpa ribut minta
cool storage, banyak nelayan di pelabuhan ikan di Banten masih
memanfaatkan cara-cara ini.
Sekali lagi, tumbuhan beracun itu hadir di bumi ini dengan skenario
ilahiah dan pasti ada manfaatnya. Tinggal manusia yang mengelola
tumbuhan yang berpotensi berbahaya itu menjadi manfaat yang tinggi bagi
manusia. Salah satunya adalah dengan memberikan informasi yang jernih
dan jujur kepada warga kota, bukan sekadar menyebutkan sisi racunnya.
T BACHTIAR Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset
Cekungan Bandung
Apakah saya bisa menurunkan berat badan? Temukan jawabannya di Yahoo!
Answers!
http://id.answers.yahoo.com