Entah apa gerangan yang terjadi, sudah 4 hari ini, aku merasakan tidur kurang 
nyenyak, walau makan tetap uenak dan uenak banget. Tidur terasa kurang tenang, 
kadang-kadang terbangun ampe 3 kali. Insomnia? stress?
Biasanya kalau sedang stress meninggi, bantal seperti di siram air di pagi 
hari. Kepala bagian belakangku banyak mengeluarkan keringat. Mungkin tidurnya 
sambil mikir hehe...
 
Seorang sohibku sms, "kenapa pak?", lha itu masalahnya. Aku gak tahu ada 
masalah apa. Kemudian aku merenung beberapa kali. 
Apakah karena badan yang kecapean? aku udah pijat refleksi di dekat selokan 
mataram (1 jam an Rp 35.000). 
Apakah karena keuangan sedang surut gara-gara 'gerobak' sedang diservice level 
menengah? uang surut mah sering, tapi gak surut-surut amat. 
Apa karena istri tercinta mau 'dideportasi' ke Jogja, sementara kontrakan belum 
dapat plus uangnya juga kagak ada? hehehe.. masa kos ku khan masih 2 bulan, 
cukup aman buat tinggal sementara waktu sambil berdoa moga dimudahkan meniti 
jalanNYA.
Apakah karena dapat amanah jadi Komandan upacara Senin pagi tadi?
Nah, ini saja yang aku urai pada tulisan kali ini.
 
Biasanya, sprin (surat perintah) upacara, aku kebagian cadangan komandan 
upacara. Entah apa maksudnya yang nunjuk, kok iseng banget selalu menempatkan 
di komandan upacara. Apa karena tinggi. Tapi khan aku besar :P, buat menahan 
berat 100 kg lebih selama 30 menit bukan perkara ringan je..
Hwarakadah! lha kok 5 hari lalu ada sprin malah aku jadi Komandan Upacara. 
Kobaran mental mulai berkecamuk. Saat dikwal (pendidikanpelatihan pegawai baru) 
aja aku selalu menghindar jabatan itu, akhirnya aku berlatihnya jadi Irup 
(pembina upacara).
 
Jumat pagi gladi bersih. Aku diajari ucapan per kalimat oleh pegawai (Om 
Ferhat). Kemudian menyusul Nyai Heni yang kedapuk jadi MC. Berlatihlah aku di 
tengah lapangan. Pikiran berkecamuk, bagaimana menebalkan mental di hadapan 
ratusan orang, bagaimana menghindari merayapnya semut-semut nakal, dan 
bagaimana menghafalkan ucapan plus berteriak keras. Jarang sekali aku 
berteriak. Kalo marah pun lebih memilih diam tanpa ngomel. Diamku ada dua 
makna, 1. marah, 2. lapaaaar... hehehe
 
Beberapa kali aku latihan sendiri di kos. Kugunakan ruang mushola yang lebih 
luas. Tentu saja hanya gerakan dan suara berbisik. Kadang kulihat dicermin, 
bagaimana sikap terbaik. Wah, peyutnya teteo gede, hiks. Bagaimana pula 
mengakali pandangan mata, karena jelas warga pertanian ada persis di depan 
komandan upacara berdiri. Biasanya ibu-ibu suka ketawa je....
 
Malam senin (minggu malam) aku tidur pas tengah malam. Beberapa kali terbangun. 
Akhirnya jam 6 aku mandi, targetku jam 7 sampai di kampus. Tidak lupa aku harus 
berpakaian lengkap. Kaki kuboreh dengan minyak kayu putih, supaya mengusir 
semut. Sesampai di kampus, aku bertukar sepatu dulu (yang baru donk :P). Biar 
semut terpesona dan lupa merayapi kqkqkqkq...
 
Sebelum mulai upacara, beberapa kali aku bercanda dengan beberapa teman dan 
sesekali menarik nafas untuk mengumpulkan mental yang terancam rapuh. Cie..
Beberapa teman sempat pula menyalami, termasuk Bos Edwi. Gleks, pangkatku 
sebagai komandan tetap aja kalah banyak dengan dia hehheee....
 
Upacara dimulai. Gleks, sontak aku agak gelagapan dalam hati. Akhirnya 
kutemukan jurus jitu, aku gak mau kontak mata dengan warga pertanian atau 
dosen/pegawai lain yang kukenal. Pandanganku lurus ke depan tapi tidak 
memandang wajah/mata beliau-beliau itu. Cespleng, aku gak terpengaruh walau 
sayup2 ada suara tertawa.
Tapi grogi tetap ada, pertama, aku lupa meng-istirahat-kan pasukan. Hingga 
diulangi.
Tapi berdiri di tengah sendiri membuat angin pagi tertiup menyegarkan seluruh 
badan. Akhirnya aku bisa 'olah raga', batinku berkata.
Pelaksanaan tahap demi tahap OK-OK aja. Tapi pas amanat pembina yang super lama 
(menurut ukuran bobot badanku), kedua kakiku kesemutan, walau posisi berdiri 
sikap istirahat.
Terakhir, grogi membuat ucapanku terbalik.
Harusnya, "Tanpa penghormatan, masing-masing kelompok dapat dibubarkan"
Kuucap, "masing-masing kelompok, tanpa penghormatan, dapat dibubarkan"
Dan kayaknya ada satu momen dimana aku langsung melaksanakan tanpa nunggu 
perintah MC, tapi itu terjadi setelah pembina upacara meninggalkan tempat.
 
Duhh.... legaaa.....................
 
Beberapa orang komentar, kok penampilannya 'lain'. Mungkin karena aku 
mengumpulkan segenap auraku untuk bisa tampil garang. Karena biasanya jarang 
sekali aku harus berteriak sekeras itu. Kecuali doeloe tahun 92-93 saat latihan 
beladiri Kempo, disuruh menghirup nafas sebanyaknya di perut, tahan, dan 
dikeluarkan teriak "AAA". Lha upacara beda, teriaknya membentuk kalimat 
perintah hehhehheee.....



Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
Lab Sistem Informasi Lahan FP UPN "Veteran" Yogyakarta (Telp psw 385)
 
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto.wordpress.com/
 
 


      

Kirim email ke