Berikut adalah salah satu tulisan teman member Kendal Online (Mas Anton) di
detik.com<http://suarapembaca.detik.com/read/2009/03/24/091844/1104157/471/partai-politik-dan-laut>

Selasa, 24/03/2009 09:18 WIB
Partai Politik dan Laut
 *Anton Setyo Nugroho* - suaraPembaca



* *
<http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a69cad16&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE>
*Jakarta* - Sudah hampir 64 tahun bangsa Indonesia ini mengenyam
kemerdekaan. Namun, belenggu kemiskinan masih saja menghantui rakyatnya.

Jika kita melihat kebesaran negara lain mungkin kita bisa menarik beberapa
kesimpulan. Amerika Serikat kaya karena merupakan negara yang luas dengan
penduduk yang besar. Jepang kaya karena sumber daya manusia (SDM) yang
handal menguasai teknologi sehingga mampu menjadi penopang perekonomian
bangsa. Sedangkan jika kita berbicara tentang Indonesia apa yang tidak kita
punya?

Penduduk dengan jumlah 200 juta adalah sumberdaya potensial untuk mengelola
bangsa jika dikelola dengan baik. Sedangkan sumber daya alam yang begitu
banyak kita juga punya. Tanah yang subur ditambah bentangan laut dari Sabang
dan Merauke yang jika dikonversikan seluas 93.000 kilometer per segi laut
pedalaman, dan luas wilayah keseluruhannya menurut Zona Ekonomi Ekslusif
(ZEE) mencapai 7,9 juta kilometer per segi.

Terlepas dari budaya korupsi yang melekat semenjak Indonesia merdeka
sehingga rakyat menjadi korban kemiskinan bangsa ini kurang jeli membaca
potensi yang dimiliki dirinya. Sepertinya halnya potensi diri kita 'tak
kenal maka tak sayang', bagaimana kita akan menjadi manusia yang berhasil
jika tidak tahu potensi yang dimiliki.

Bangsa ini telah lupa membaca sejarah masa lalu. Nusantara pernah menjadi
bangsa yang besar ketika kita mampu menguasai menundukkan lautan. Kekuatan
kerajaan nusantara sangat ditopang oleh kekuatan laut yang handal dan
dukungan dari daratan secara sinergis.

Kita pernah memiliki kerajaan Sriwijaya, Majapahit hingga Demak, Indonesia
adalah negara besar yang disegani di kawasan Asia. Bahkan mungkin di seluruh
dunia. Namun, kenapa kekuatan itu hilang perlahan dan sampai saat ini kita
belum menemukan bentuk negara kuat dengan nama Indonesia.

Semua itu karena kita lupa dan tidak sadar terhadap potensi besar bangsa.
Ratusan tahun penjajah Belanda telah mampu menjauhkan kehidupan kita dari
lautan sehingga kita terpangku ke darat.

Allah SWT telah memberikan anugerah terindah bagi negeri Indonesia.
Seharusnya kita sadar akan hikmah kenapa Dia Yang Maha Pemberi telah
memberikan wilayah Indonesia dengan luas lautan kurang lebih 80%
dibandingkan daratan. Dan, Dialah yang memudahkan laut supaya kamu dapat
makan daripadanya daging yang lembut hidup-hidup, dan dapat pula
mengeluarkan daripadanya benda-benda perhiasan untuk kamu memakainya dan
(selain itu) engkau melihat pula kapal-kapal belayar padanya dan lagi supaya
kamu dapat mencari rezeki dari limpah kurnia-Nya dan supaya kamu bersyukur
(QS An Nahl:14).

Maha dasyatnya lautan Indonesia ketika dapat memuntahkan segala isinya.
Potensi ikan tangkapan saja mencapai 6,4 juta ton setiap tahunnya. Dari
sebuah hadist yang diriwayatkan  Bukhari menerangkan bahwa hidangan yang
disantap oleh penghuni surga adalah hati ikan paus.

Dari sini kita melihat Allah SWT pun telah mengajarkan kepada manusia
tentang khasiat ikan. Rata-rata hidup orang Jepang sampai 77,9 tahun untuk
pria dan 85,1 tahun untuk wanita yang merupakan rata-rata harapan hidup
tertinggi di dunia. Ini disebabkan kegemaran makan ikan mentah ditambah
keseimbangan dalam makanan.

Jika orang Jepang saja mampu mengamalkan ajaran-Nya kenapa kita yang
mempunyai potensi ikan yang besar dan penduduk Muslim besar tidak mampu
mengamalkan ayat-ayat-Nya. Sekali lagi potensi lautan Indonesia tidak hanya
kita lihat dari hasil tangkapan ikan.

Lautan mampu mengeluarkan energi yang sangat dasyat di tengah krisis listrik
dan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda. Kita ketahui bahwa laut mampu
menghasilkan energi melalui OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion). OTEC
adalah metoda menghasilkan listrik dengan memanfaatkan kesenjangan
temperatur air laut pada kedalaman yang berbeda.

Cara kerjanya adalah air laut pada permukaan (yang temperaturnya lebih
hangat) dan air laut yang amat dingin (pada kedalaman 1000 m) disedot
masing-masing. Air dengan perbedaan temperatur yang besar ini dengan
mekanisme tertentu bisa dikonversi menjadi uap dan menggerakkan turbin untuk
menghasilkan listrik. Energi ini mulai dikembangkan di Amerika dan Jepang
mulai tahun 70-an.

Dalam Al Quran ratusan tahun lalu telah digambarkan tentang keadaan seperti
gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya
ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih,
apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan)
barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia
mempunyai cahaya sedikit pun.

Dalam potensi perdagangan laut juga memerankan posisi yang penting. Ribuan
kapal dagang asing melalui Selat Malaka membawa barang dagangan dan hampir
kesemuanya transit ke Singapura. Dari sini saja Singapura telah mampu
menjadikan negerinya sebagai salah satu negara maju di dunia. Kenapa
kapal-kapal yang membawa uang untuk membongkar barang atau membeli BBM tidak
singgah ke Batam atau Sabang. Padahal ini sumber devisa yang bisa membuat
rakyat sejahtera.

Cuplikan gambaran di atas seharusnya sudah mampu secara sadar membuka para
pemimpin bangsa ini yang telah dipercaya rakyat untuk membuat Indonesia
makmur dan sejahtera. Di tengah hiruk pikuk kampanye partai politik (parpol)
sekarang ini sudahkah kita melihat niatan mereka untuk menjadikan lautan
sebagai salah satu penopang utama perekonomian bangsa?

Padahal parpol merupakan ujung tombak pembuat kebijakan ekonomi di
legislatif nanti. Tidak kalah pentingnya parpol merupakan salah satu wadah
yang akan menelurkan presiden di 2009 ini. Kita masih perlu melihat secara
detail visi dan misi parpol dalam hal perekonomian bangsa.

Jika parpol saja tidak mampu jeli membaca potensi bangsa yang bersumber dari
lautan maka kembali 5 tahun ke depan kita akan kehilangan momen untuk sadar
menggunakan potensi sebagai modal kekuatan membangun bangsa. Kita harus
merebut kembali kejayaan ekonomi Indonesia. Salah satunya dengan mewujudkan
kejayaan laut. Kita jadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai daya
tarik tersendiri untuk investasi di bidang kelautan. Tentunya investor yang
dapat membuat kita sejahtera. Bukan investor yang mengeruk keuntungan dan
dibawa pulang ke negaranya.

Jika para legislator mempunyai visi kelautan tentunya akan menelurkan
kebijakan yang berpihak ke rakyat. Misalnya pembagian 75% keuntungan untuk
rakyat dan 25% untuk investor. Bukan sebaliknya legislator dari parpol
menjadi komperador asing untuk menanamkan investasinya yang sebagian besar
dinikmati investor dan oknum tersebut. Bayangkan saja jika 75% keuntungan
lautan dengan segala produk yang terkandung di dalamnya dari ikan, minyak,
energi, transportasi laut, bioteknologi laut, dan lainnya digunakan untuk
menyejahterakan rakyat.

Mungkin kita tidak akan melihat para nelayan miskin di tengah emas yang
berlimpah di samping rumahnya. Sudah banyak tulisan membahas potensi
kelautan Indonesia. Sekarang tinggal keberanian parpol untuk menggarap
potensi Indonesia. Adakah parpol yang berani melakukan kontrak politik
semisal jika menang akan membuat produksi perikanan Indonesia meningkat
100%, tentunya dengan menjaga kelestariannya.

Jika di darat kita telah mampu mewujudkan swasembada beras kenapa di laut
kita tidak bisa? Semoga parpol bisa memulainya. Yakinlah dengan potensi
bangsa karena dengan mampu membaca potensi diri kita akan melejit menjadi
bangsa yang maju. Tidak ada keputusasaan karena harapan itu selalu ada.
Tinggal adakah tekad untuk meraihnya?

*Anton Setyo Nugroho
Saga University International House B-621 Sagashi 489-1 Saga
[email protected]
+819094969401

Penulis adalah Mahasiswa Saga University - Japan
*

-- 
ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3: Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com

Kirim email ke