Suatu Malam Di Malioboro
------------------------------------ 

Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan 
seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru 
pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di 
Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang 
Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati 
jalan-jalan malam di kawasan Malioboro. 

Bagi saya, atau barangkali juga kebanyakan orang Jogja, sengaja menghabiskan 
waktu malam dengan menyusuri penggal Jl. Malioboro adalah bukan pilihan 
menyenangkan. Kalau bukan karena keperluan yang mengharuskan pergi ke toko yang 
ada di kawasan Malioboro, ada acara khusus di sana, atau menemani orang yang 
baru pertama kali datang ke Jogja, rasanya lebih baik pergi ke kawasan jalan 
yang lain di Jogja. Meski tidak dipungkiri sebagian orang justru menyukai 
tempat ini.

Kawasan ini serasa terlalu padat menyesakkan dan kurang lagi nyaman untuk 
dinikmati sebagai obyek wisata jalan-jalan bersama keluarga, kecuali di bagian 
ujung selatan seputaran Gedung Agung dan benteng Vredenburg saja yang terasa 
masih nyaman untuk menghela napas agak panjang. Selebihnya perlu agak 
ngos-ngosan untuk melaluinya. Jangan sekali-sekali jalan meleng, sebab puluhan 
andong dan kudanya, ratusan becak dan tukangnya, atau ribuan pejalan kaki dan 
teman-temannya, belum lagi pedagang kali lima di sepanjang trotoar pertokoan 
dan sepeda motor yang keluar-masuk tempat parkir, siap menyerempet atau 
menginjak kaki sesama pejalan kaki tanpa perlu mencari tahu siapa yang salah. 
Idenya Malioboro adalah kawasan street mall, tapi salah bentuk.  

*** 

Sekitar pukul 20:30 WIB kami kembali sampai di teras Malioboro Mall setelah 
berjalan kaki ke arah selatan Malioboro, baik di sisi barat maupun timur jalan. 
Teman saya mengajak makan lesehan. Saya sarankan bukan di Jl. Malioboro-nya 
sebab kawasan ini terlalu crowded, nanti jadi kurang nyaman untuk menikmati 
santap malam sambil duduk lesehan. Kami putuskan untuk mencari warung lesehan 
di Jl. Perwakilan, sebuah penggal jalan di sebelah utara Malioboro Mall, 
relatif tidak terlalu hiruk bin pikuk.

Masih berjalan santai di teras Mall, di tengah keramaian pejalan kaki, seorang 
pemuda tampan berbusana rapi, berkaos hitam dan bercelana warna gelap, 
menghampiri dari sebelah kanan saya. Lalu katanya :
 
"Mau pijat pak?". Saya hanya menoleh acuh tak acuh. Sang pemuda lalu 
menambahkan : "Yang mijat cewek pak....".

Ah, tergoda juga saya. Tergoda untuk tanya lebih lanjut, maksudnya.
"Cantik, enggak?", tanya saya iseng, masih sambil jalan perlahan.

"Wah, dijamin pak", jawab sang pemuda itu meyakinkan. Saya tidak tahu, ini 
dijamin tidak luntur atau luntur tidak dijamin. Namun akhirnya saya berkata : 
"Enggaklah, mas. Terima kasih".

Eh, rupanya sang pemuda masih ngotot juga. Setengah memaksa dia menyodorkan dua 
buah kartu nama agar saya terima (mungkin karena dilihatnya saya berjalan 
berdua teman saya), sambil katanya : "Barangkali nanti bapak membutuhkan...”. 
Dan kedua kartu nama itu pun lalu saya masukkan ke saku baju, karena saya tahu 
teman saya pasti tidak tertarik dengan kartu nama itu. 

Sesampai di warung lesehan, sambil menunggu pesanan gudeg, ayam dan burung dara 
goreng plus lalapannya disajikan, saya lihat kembali karta nama yang tadi saya 
selipkan di saku baju saya.

Selembar kertas kecil seukuran kartu nama (lha, namanya juga kartu nama...) 
dengan desain sangat sederhana. Berwarna dasar hitam, bertuliskan "Pijat 
Panggilan", di bagian bawahnya ada tulisan warna kuning "Hub. : 085 
sekian-sekian-sekian... INDRA/ENY/MITA" (ditulis dengan huruf kapitas menyolok).

Sejenak saya menelan ludah..... Bukan, bukan karena membaca nama tiga diva yang 
ada di kartu nama itu, melainkan karena asap burung dara goreng dan petai 
goreng yang masih mengepul sudah tersaji di depan hidung lengkap dengan lalapan 
dan sambalnya. Kartu nama itu lalu saya masukkan kembali ke saku baju.

Sesampai di rumah, kartu nama tadi saya selipkan di buku tipis "Innovative 
Leadership" karya Dennis Stauffer yang tadi saya beli di Gramedia, lalu bukunya 
saya masukkan ke dalam tas ransel kebanggaan saya. Saya perlu ekstra hati-hati 
menyimpan buku ini. Jangan sampai perang dunia ketiga pecah di dalam rumah. 
Cukup gempa bumi 5,9 Skala Richter yang telah memporak-porandakan separuh isi 
lemari kaca dan beberapa keramik, tiga tahun yll. 

Kini, diam-diam buku itu saya buka dan saya lihat kembali kartu nama hitam 
bertulisan nama tiga diva pebisnis panggilan dari Malioboro. Usai menulis kisah 
ini, kartu nama itu saya sobhek-sobhek... (diucapkan sambil menirukan mulut 
Thukul Arwana) hingga kecil-kecil lalu saya buang di tempat sampah paling 
bawah. Agar kalau ada pembaca yang ingin tahu no HP yang tertulis di kartu itu 
jangan menghubungi saya, melainkan jalan-jalan saja sendiri ke Malioboro 
sana.....  

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke