Di Bawah Purnama Menyantap Udang Bakar Mang Engking
----------------------------------------------------

Bagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah 
bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok 
dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin 
ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak 
udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal 
usahanya yang bernama Pondok Udang Mang Engking dengan menu unggulannya udang 
galah. 

Setelah sekitar enam tahunan Pondok Udangnya berkibar di Minggir Sleman, sejak 
akhir 2007 Mang Engking masuk kota membuka cabang di kawasan jalan Godean. 
Jurus jemput bola diterapkannya guna menangkap "bola" yang sedang mencari makan 
malam atau yang merasa kejauhan kalau harus minggir-minggir ke Minggir. 

Awalnya Mang Engking masuk kota bergandengan tangan dengan pemilik Banyu Mili 
Resto yang kemudian buka warung di kompleks Griya Mahkota Regency. Namun 
gandengan mesra itu hanya berlangsung setahun, sebab setelah itu Banyu Mili 
Resto menangkap peluang bisnis perkulineran untuk berdiri sendiri. Mang Engking 
pun terpelanting yang lalu kemudian membuka warung sendiri tidak jauh dari 
situ. Tepatnya kalau dari arah Jogja menuju Jl. Godean, tidak sampai 1 km 
kemudian ketemu perempatan pertama belok kiri sejauh 200 m. Judul warungnya 
adalah Gubug Makan Mang Engking Soragan Castle.

Kalau disebut Gubug Makan, itu karena arena permakanannya berupa sebuah gubug 
besar dan beberapa gubug (saung) kecil, baik dalam formasi meja-kursi maupun 
lesehan. Kalau Mang Engking agak gaya dengan nama asing Soragan Castle, itu 
karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan (yang dari depan tampak) megah 
menyerupai sebuah istana. Rupanya tempat itu sebelumnya merupakan sebuah resto 
bermenu asing bernama Soragan Castle. Resto masakan asing ini sendiri sempat 
melayani tetamu turis asing selama lima tahunan sebelum kini ditempati Mang 
Engking. Dan, istana itu kini masih kokoh berdiri.     

*** 

Di saat malam purnama, saya sekeluarga mengunjungi istana barunya Mang Engking. 
Siluet sosok Soragan Castle nampak angker tapi indah di bawah cahaya rembulan 
yang sedang bundar-bundarnya bagai bertengger di atas bentengnya. Sebuah 
tampilan malam yang indah sekali. Tidak sabar saya jeprat-jepret dengan kamera 
digital pinjaman yang sengaja saya bawa. Kami kemudian menju ke sebuah gubuk 
lesehan agak ke sudut kanan belakang. Lokasi itu saya pilih karena berhadapan 
dengan sebuah kolam dan dekat dengan persawahan umum di belakang lokasi 
gubuknya Mang Engking.

Setengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami 
goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan 
menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan 
disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali..... 
(Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana 
mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan 
salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya.... Nampaknya 
malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).

Udang bakarnya disajikan berupa empat tusuk udang masing-masing berisi empat 
ekor udang mlungker ukuran sedang. Sajian ini berbeda dengan sebelumnya ketika 
saya sempat makan menu sama di Pondok Udang Mang Engking yang di Minggir. 
Sajian bentuk sate seperti ini mengingatkan saya pada menu sate udangnya Bu 
Entin di Labuan, Banten. Agaknya kini disajikan agar lebih praktis, baik dalam 
mengolah, menghitung maupun menyajikannya. Tapi jadi terasa kurang alami dan 
gimana gitu... Kalau tentang enaknya, tidak saya ragukan, masih sama. Meski 
pusatnya Mang Engking masih ada di Minggir, Sleman, tapi semua kokinya termasuk 
yang di cabang Depok dan Surabaya sudah melalui pelatihan ketat di Minggir 
sebelum diterjunkan ke resto cabang-cabangnya. 

Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil 
kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik 
dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, 
terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) 
rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak 
terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya 
juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. 
Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). 
Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. 
Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang 
menghiasi angkasa Jogja.  

Untuk kenikmatan makan malam plus nuansa indah malam purnama di sebuah gubuk di 
samping istana Sorogan malam itu, kami sekeluarga berempat harus membayar ganti 
rugi kepada Mang Engking sekitar Rp 250.000,- (persisnya lupa, karena notanya 
terselip), belum termasuk ongkos parkir dua ribu rupiah. Kami puas karena semua 
sajian ludes kecuali nasi putih yang masih tersisa di cething. 

Yogyakarta, 14 April 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com  


      

Kirim email ke