Assalamualaikum,
Setelah nonton film Hotel Rwanda tentang genosida yang terjadi di Rwanda
yang sangat memilukan
saya mencoba mencari tahu lebih dalam informasi tragedi ini
ternyata saya menemukan sesuatu yang luar biasa mengenai peran umat islam di
Rwanda.

Silahkan Baca Cuplikan artikelnya........

Tragedi Rwanda
Islam menjadi agama yang paling populer di Rwanda pascatragedi genocide
tahun 1994. Jihad dalam terminologi mereka adalah berjuang menumpas demdam
dan kebencian serta penyatuan Hutu-Tutsi.

Puluhan pria berpeci hijau bergegas menuju masjid di sudut distrik
Ruhengeri, Rwanda. Alquran bersampul warna sama ditenteng di tangan.
Sebagian dari mereka, bahkan mungkin lebih, adalah mualaf. Pagi itu, ada
topik menarik yang akan diperbincangkan, dan topik ini yang paling mereka
sukai, tentang jihad.

Di masjid, ratusan orang sudah berkumpul. Tangan mereka terkepal. Teriakan
"Jihad, jihad, jihad!" menggema hingga gerbang masjid.

Bagi Muslim Rwanda, tak ada ketakutan meneriakkan jihad. Tidak juga setelah
muncul stigma barat terhadap kata yang diasosiasikan dengan terorisme itu.
Bahkan, seruan jihad sudah diteriakkan sejak lebih dari lima tahun lalu,
tepatnya setelah tragedi genocide yang menewaskan 800 ribu warga minoritas
Tutsi dan Hutu moderat.

"Kami memaknai sendiri kata jihad, yaitu perang melawan kebencian antara
suku Tutsi dan Hutu, dan perjuangan memulihkan kembali hubungan yang
retak,'' ujar Saleh Habimana, pimpinan mufti Rwanda. ''Jihad kami adalah
untuk memulai rasa saling menghargai satu sama lain dan hidup bersama
sebagai bangsa Rwanda dan sebagai seorang Muslim.''

Genocide memang menjadi mimpi buruk bagi warga Rwanda. Anda yang sempat
menonton film Hotel Rwanda yang dibintangi Don Cheadle akan bisa merasakan
luka dan trauma yang ditimbulkan akibat peristiwa itu. Ribuan kaum Tutsi,
jumlahnya diduga melebihi angka resmi yang 'hanya' 800 ribu jiwa, digiring
ke ladang pembantaian suku Hutu yang mayoritas.

Hubungan etnik Hutu dan Tutsi bagai bara dalam sekam sejak puluhan tahun
lalu. Beberapa kali terjadi pertikaian, puncaknya terjadi tahun 1994,
tepatnya bulan April, setelah Presiden Rwanda saat itu, Juvenal Habyarimana,
yang dari suku Hutu, tewas dalam kecelakaan pesawat tanggal 6 April 1994.

Sebuah laporan menyebut, roket sengaja ditembakkan ke pesawat itu, yang
membuat pesawat menukik jatuh tak lama setelah lepas landas dari bandara
Kigali. Genderang perang pun ditabuh. Selama tiga bulan, April sampai Juni,
Rwanda jadi ladang penyembelihan paling kelam dalam sejarah negeri yang
berbatasan dengan Sudan, Tanzania, dan Uganda itu.

Dalam kehidupan beragama di Rwanda, muncul fenomena baru pascatragedi
memilukan itu. Sejak penumpasan etnik minoritas Tutsi tahun 1994, jumlah
penganut Islam memang terus membengkak. Kini, jumlah Muslim di Rwanda
meningkat menjadi 14 persen dari 8,2 juta populasi, atau meningkat lebih
dari dua kali lipat lebih dari tahun 1995.

Banyak alasan mengapa warga Rwanda berbondong-bondong masuk Islam. Salah
satu alasan terbanyak adalah, mereka kecewa pada gereja. Banyak pemimpin
Kristen Protestan dan Katolik di kemudian hari terbukti turut andil dalam
tragedi berdarah itu. Beberapa kelompok hak azasi manusia mendokumentasikan
insiden di mana warga Tutsi 'diselamatkan' ke gereja, untuk kemudian dikirim
ke ladang pembantaian kaum Hutu. Dokumen lain menuliskan bagaimana para
pendeta Hutu turut membantai warga Tutsi.

Sebaliknya, banyak pemimpin Muslim dan keluarganya yang melindungi warga
Tutsi. Mereka menyembunyikannya di dalam bilik rumah mereka dari kejaran
kaum Hutu, dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Mereka yang diselamatkan keluarga Muslim, kini menjadi 'humas' bagi kaum
Muslim. Yang beredar di masyarakat, Muslim melakukan hal itu karena
pembunuhan apapun alasannya, sangat dikutuk dalam Islam.


"Saya tahu orang-orang di Amerika menganggap Muslim itu teroris, tapi bagi
Rwanda, mereka adalah pejuang kebebasan selama genocide,'' ujar Jean Pierre
Sagahutu, 37 tahun, yang ayah dan sembilan anggota keluarga lainnya menjadi
korban tragedi itu. Semula, ia penganut Katolik yang taat. ''Saya
bersembunyi di gereja, tapi ternyata itu adalah neraka baru bagi saya,
sampai sebuah keluarga Muslim mengambil saya. Mereka penyelamat hidup
saya.''

Sagahutu mengisahkan, ayahnya adalah pegawai rumah sakit dan bersahabat
karib dengan sebuah keluarga Muslim. ''Saya melihat bagaimana mereka berdoa
lima kali sehari dan bagaimana mereka melewati hidup. Saya makan bersama
mereka. Saat shalat, Hutu dan Tutsi berbaur dalam satu masjid, dan tak ada
perbedaan. Saya rindu suasana seperti itu.''

Hal yang sama dijelaskan Aisha Uwimbabazi, 27 tahun, yang menyatakan masuk
Islam hampir delapan tahun lalu. ''Jika tak ada Muslim, habis sudah keluarga
saya,'' ujar ibu dia anak ini.

Ia tak henti-hentinya mengucap syukur telah terselamatkan dari tragedi yang
memilukan itu. Ia juga bersyukur memeluk Islam sekarang. ''Segala dendam dan
kebencian, luntur sudah.''

Masjid, katanya, menjadi tempat favorit bagi mualaf Rwanda. Mereka sering
kali berkumpul untuk mendiskusikan aneka problem. Hutu dan Tutsi saling
berangkulan di tempat ini. Mereka saling menguatkan dan melupakan masa lalu.


Tidak takut dengan tudingan Barat yang menyebut masjid menjadi sarang
persemaian bibit-bibit teroris baru? ''Kami sudah cukup dengan problem kami
sendiri,'' ujar Nish Imiyimana, imam masjid di Ruhengeri, sekitar about 45
miles barat laut Kigali, ibu kota Rwanda. ''Kami bukan ingin Amerika
mengirimkan bomnya di sini. Yang kami ingin justru mereka membangun banyak
rumah sakit.''

Setelah tragedi 11 September 2001, iman di seluruh negeri mengkampanyekan
makna Islam dan jihad yang sebenarnya. ''Islam artinya damai,'' ujar
Imiyimana, ''Melihat track record kaum Muslim sebelumnya di negeri ini, tak
sulit bagi kami untuk meyakinkan hal ini.''

Fakta perkembangan Islam yang pesat, seperti ditulis banyak media, membuat
pihak gereja di Rwanda gerah. Bahkan, keuskupan di wilayah itu, seperti
dilaporkan Washington Post, meminta saran langsung ke Vatikan mengenai
langkah antisipasinya.

''Gereja Katolik memang mengalami masalah setelah genocide,'' kata Pastur
Jean Bosco Ntagugire, yang mengabdi di gereja di Kigali, seperti dirilis
media itu. ''Kepercayaan sudah hancur, dan kami tidak bisa hanya bilang,
'Hai, Kristen datang' begitu saja.''

Untuk memperbaiki citra, mereka melakukan pendekatan kepada komunitas dengan
aneka kegiatan sosial, seperti olah raga atau kemah keluarga. Namun, di
lahan inipun mereka kalah 'set'. Organisasi Muslim, terutama kaum Muslimah,
jauh hari sudah mengadakan aksi serupa. Mereka fokus pada kesejahteraan ibu
dan anak.

Penggiat organisasi Muslimah Rwanda juga mempunyai terminologi sendiri
mengenai jihad. Bagi kaum wanita, jihad artinya adalah merawat anak dengan
baik, termasuk memberikan pendidikan dan hidup yang layak. Islam kian
bersinar di bumi Rwanda. ( tri/washington post/chicago
tribun/Republika/Subehan MCOL

Kirim email ke