Ini memang hal sepele, yaitu tentang arah (timur-barat- selatan-utara) .
Banyak orang hafal bilangan 4 arah mata angin ini, tapi anehnya banyak orang 
juga yang kebingungan ketika ditanya :
"Sekarang kita menghadap ke arah mana?"
"Jelaskan rute menuju rumahmu yaaa..."
Kebiasaan adalah duduk perkaranya. Ternyata di Jawa lumayan terbiasa menunjuk 
arah dengan sebutan utara-barat- selatan-timur, misalnya :
"Itu lho utaranya Tugu"
"Rumahku di sebelah barat Gedung Bioskop, urutan ketiga yaa.."
Namun waktu th 2003 aku berkesempatan 1,5 bulan di Minas-Riau, aku tersenyum 
mendengar kebiasaan masyarakat setempat menunjuk arah. Kalau arah kiblat, semua 
muslim di negeri ini agaknya sudah kompak. Namun di Minas, dalam menunjuk arah 
ada istilah yang agak aneh di telingaku.
"Mas, aku ke BAWAH dulu yaa", ternyata maksudnya mau ke kota pekanbaru
Lalu mereka menyebut "ke ATAS" untuk tujuan kembali ke desanya (dari arah kota).
Kemudian aku merenung sejenak, 
Agaknya yang dimaksud atas adalah hulu dan bawah adalah hilir.
Agaknya desa-desa pedalaman banyak berada di perbukitan atau lereng pegunungan, 
sehingga secara harfiah disebut atas, karena kenyataannya memang berada di atas 
(diukur berdasar ketinggian tempat). Sedangkan kota-kota besar banyak berada di 
bawah atau dekat pantai atau muara sungai. Mungkin ini terkait dengan 
perkembangan peradaban karena jaman dahulu perkembangan kota dimulai dari 
transportasi air dan darat. Tentu kota lebih banyak berkembang di pinggir 
perairan plus lokasinya relatif datar.
Tidak seperti jamannya Manohara dan Rhani Juliani, dimana transportasi udara 
sudah bukan barang aneh lagi. Bahkan saat berjalan di bandara Jogja ada yang 
nyelutuk:
"Kok kesane kumuh yaa, gak elit lagi, penumpang berpakaian kayak di pasar, 
bahkan duduk-duduk di sembarang tempat....."
Maybe, maunya yang naik pesawat kaum berdasi aja kaleee.....
 
Nah, yang tidak terbiasa pada arah utara dkk, tentu dalam membuat rute lebih 
banyak akan mengatakan "belok kiri" dan "belok kanan", karena tidak tahu mana 
utara dan mana selatan.
Petunjuk arah bukan hal sepele lho. Kadang dalam perjalanan, kita harus 
menghafal mana rute berangkat dan jalan kembali. Atau saat di tengah hujan, 
kita harus menghafal betul bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di 
sebelah barat.
Bahkan si pendaki gunung lumayan hafal mengenali arah berdasar kondisi pohon di 
hutan itu berlumut atau tidak. Jika tidak, kemungkinan berada di sisi timur 
atau utara lereng gunung. Jika berlumut, itu berarti berada di sisi barat dan 
atau selatan.
 
Bagi anda yang berprofesi sebagai surveyor (baca: sering jalan-jalan ke lokasi 
baru) dengan segala macam urusan, agaknya urusan arah mata angin adalah hal 
vital pertama yang harus dikuasai.
Saat anda membaca tulisan ini, anda sedang menghadap ke arah mana??
kalo jawaban salah, atau menjawab benar tapi berpikirnya lebih dari 10 detik; 
kayaknya anda kurang cocok jadi surveyor, atau.... boleh aja asal ada guide 
hehhee.
 
Ki Asmoro Jiwo



      

Kirim email ke