MENDIDIK BUKAN MEMAKSA Oleh: Ki Asmoro Jiwo Banyak orang merasa mampu untuk mendidik orang lain, baik itu karena dorongan profesi atau alasan lain. Pendidik punya harapan besar pada perubahan anak didiknya menuju ke yang lebih baik. Namun banyak pendidik tidak sabar menunggu datangnya perubahan itu, sehingga tanpa sadar muncul emosi seperti memaksa, membatasi, melarang, dll. Tentulah mendidik disesuaikan dengan siapa dan bagaimana peserta didiknya. Namun pendidikan untuk manusia bertujuan me-manusia-kan, bukan mengubah manusia menjadi robot. Terkadang pula pendidik menafikkan (baca: mengabaikan) hak anak didik untuk berkembang menjadi diri sendiri. Biar bagaimanapun, pendidik bukanlah anak didik. Pendidik dan anak didik mempunyai tubuh, sifat, kebiasaan dan pemikiran yang berbeda pula. Boleh jadi, materi yang diberikan oleh pendidik akan diterima sebagian (<100%) atau malah dapat dikembangkan (>100%) melebihi gurunya. Sang pendidik tidak perlu dendam apabila ternyata si anak didik mempunyai ‘warna’ lain, karena, memang dia jelas orang lain. Lha wong saudara kandung saja sangat mungkin berbeda dalam segala hal. Mendidik orang lain bukan perkara mudah. Sebelum mendidik orang, kita harus mampu mengenal jati diri dan “mendidik diri sendiri”. Pendidik harus menjadi contoh, bukan sekedar memberi contoh. Pendidik harus belajar konsisten antara hati, lisan dan perbuatan. Hukum social mengatakan, anak didik wajar membuat kesalahan, namun pendidik tidak boleh salah. Makanya perlu kehati-hatian dan mawas diri dalam memposisikan, apakah kita layak mendidik, atau sebenarnya kita masih perlu mendapat pendidikan dari orang lain.
http://mkundarto.wordpress.com/2009/05/27/mendidik-bukan-memaksa/ Muhamad Kundarto

