http://www.dakwatun a.com/2009/ demi-palestina- sultan-hidup- merana/
Demi
Palestina, Sultan Hidup Merana
Kaifa
Ihtada
25/1/2009 | 26 Muharram 1430 H | Hits: 4.640
Oleh: Aidil
Heryana, S.Sosi

dakwatuna.com
- “Anakku, ayah melihat orang-orang di
sini sudah mulai memuji paras cantikmu. Maka mulai hari ini ayah ingin kamu
sudah mengenakan hijab dengan sempurna, karena kamu sudah menjadi wanita dewasa
sekarang.” Untaian
kata penuh kasih sayang itu dituturkan dengan suara lembut oleh Sultan Abdul
Hamid II kepada anaknya Aishah saat mereka tengah melintas di depan Masjid
Hamidiye Yildiz yang terletak tidak jauh dari pintu masuk istananya.
Di
depan masjid ini, terlalu banyak kisah yang memilukan hati menimpa diri dan
keluarga Sultan. Percobaan pembunuhan dengan meletakkan bom di dalam kereta
kuda Sultan. Pengeboman itu terjadi berselang beberapa saat usai shalat Jumat. Allah
masih menghendaki Sultan Abdul Hamid tetap bertakhta memimpin umat. Upaya
menghabisi nyawa orang nomor satu di dunia Islam itu kandas.
Di
depan istana ini, Sultan sering melaksanakan shalat dan keluar menyapa rakyat
yang selalu dekat di hatinya.
Di
situ juga, Sultan sesekali menunggang kuda ditemani anaknya Aishah, sambil
menitahkan arti penting menegakkan syariah bagi muslimah. Sejak saat itu
anaknya mutahajibah (berhijab) sempurna, ini menandakan
putrinya Aishah Osmanuglu telah memasuki usia aqil baligh.
Istana
Yildiz yang terbuat dari kayu ini adalah tempat tinggal pilihan Sultan Abdul
Hamid II, setelah beliau meninggalkan segala bentuk kemewahan kaum keluarganya
yang sebelum ini di Istana Dolmabahce.
Sultan Abdul Hamid II, lahir pada hari Rabu, 21
September 1842. Dengan nama lengkap Abdul Hamid Khan II bin Abdul Majid Khan.
Sultan adalah putra Abdul Majid dari istri kedua beliau. Ibunya meninggal saat
Abdul Hamid berusia 7 tahun. Sultan menguasai bahasa Turki, Arab, dan Persia.
Senang membaca dan bersyair.
Sebelumnya
kekhalifahan dipimpim pamannya yaitu Abdul Aziz yang berkuasa cukup lama.
Sultan Abdul Aziz digulingkan kemudian dibunuh oleh musuh politik Khilafah
Utsmaniyyah. Khalifah setelah Abdul Aziz adalah Sultan Murad
V, putra Abdul Aziz. Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama dan digulingkan
setelah 93 hari berkuasa karena dianggap tidak becus menjadi khalifah.
Sultan
Abdul Aziz mewariskan negara
dalam kondisi yang carut marut. Tunggakkan hutang luar negeri, parlemen yang
mandul, campur tangan asing di dalam negeri, tarik menarik antar berbagai
kepentingan Dewan Negara dan Dewan Menteri serta birokrat-birokrat yang
korup.
Pada
41 Agustus 1876 (1293 H), Sultan Abdul Hamid dibai’at sebagai Khalifah.
Saat itu usianya 34 tahun. Dia menyadari bahwa pembunuhan pamannya serta
perubahan-perubahan kekuasaan yang terjadi saat itu merupakan konspirasi global
melawan Khilafah Islamiyah. Namun Sultan Abdul Hamid II dapat
menjalankan roda pemerintahannya dengan baik, sering berbicara dengan
berbagai lapisan masyarakat, baik birokrat, intelektual, rakyat jelata
maupun dari kelompok-kelompok yang kurang disukainya (lihat Shaw, 1977:212).
Kebijaksanaannya
untuk mengayomi seluruh kaum Muslimin membuat ia populer. Namanya sering
disebut dalam doa-doa di setiap shalat jumat diseantero bumi.
Penggalangan kekuatan kaum Muslimin dan kesetiaan mereka terhadap Sultan
Abdul Hamid II ini berhasil mengurangi tekanan Eropa terhadap
Utsmaniyyah.
Abdul
Hamid mengemban amanah dengan memimpin sebuah negara adidaya yang luasnya membentang
dari timur dan barat. Di tengah situasi negara yang genting dan kritis. Beliau
menghabiskan 30 tahun kekuasaan sebagai Khalifah dengan dikelilingi konspirasi,
intrik, fitnah dari dalam negeri sementara dari luar negeri ada perang,
revolusi, dan ancaman disintegrasi dan tuntutan berbagai perubahan yang
senantiasa terjadi.
Termasuk
upaya-upaya sistematis yang dilakukan kaum Yahudi untuk mendapatkan tempat
tinggal permanen di tanah Palestina yang masih menjadi bagian dari wilayah
kekhalifahan Utsmaniyyah. Berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum
Yahudi untuk menembus dinding khilafah Utsmaniyyah, agar mereka dapat memasuki
Palestina.
Pertama,
pada tahun 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada sultan
Abdul Hamid, untuk mendapatkan ijin tinggal di Palestina. Permohonan itu
dijawab sultan dengan ucapan “Pemerintan Ustmaniyyah memberitahukan
kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan
diijinkan menetap di Palestina”, mendengar jawaban seperti itu kaum
Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.
Kedua,
Theodor Hertzl, penulis Der Judenstaat (Negara Yahudi), founder negara Israel
sekarang, pada tahun 1896 memberanikan diri menemuai Sultan Abdul Hamid sambil
meminta ijin mendirikan gedung di al Quds. Permohonan itu dijawab sultan
“Sesungguhnya imperium Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak
akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam
kantong kalian sendiri”.
Melihat
keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan
konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 agustus 1897 dalam rangka merumuskan
strategi baru menghancurkan Khilafah Ustmaniyyah.
Karena
gencarnya aktivitas Yahudi Zionis akhirnya Sultan pada tahun 1900 mengeluarkan
keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal
disana lebih dari tiga bulan, paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas
khilafah terkait. Dan pada tahun 1901 Sultan mengeluarkan keputusan
mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.
Pada tahun 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap
Sultan Abdul Hamid untuk melakukan risywah(Menyogok).
Diantara risywah yang disodorkan Hertzl kepada Sultan adalah :
1. 150 juta poundsterling Inggris khusus untuk
Sultan.
2. Membayar semua hutang pemerintah Ustmaniyyah
yang mencapai 33 juta poundsterling Inggris.
3. Membangun kapal induk untuk pemerintah, dengan
biaya 120 juta Frank
4. Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa
bunga.
5. Membangun Universitas Ustmaniyyah di Palestina.
Semuanya
ditolak Sultan, bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada
Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, “Nasihati Mr
Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun
sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah
berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah
mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah
dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa
membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela
menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan
dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan
terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih
hidup.”
Sejak
saat itu kaum Yahudi dengan Zionisme melancarkan gerakan untuk menumbangkan
Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon “liberation”,
“freedom”, dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid
II sebagai “Hamidian Absolutism”, dan sebagainya.
“Sesungguhnya
aku tahu, bahwa nasibku semakin terancam. Aku dapat saja hijrah ke Eropa untuk
menyelamatkan diri. Tetapi
untuk apa? Aku adalah Khalifah yang bertanggungjawab atas umat ini. Tempatku
adalah di sini. Di Istanbul!” Tulis Sultan Abdul Hamid dalam catatan
hariannya.
Malam itu, 27 April 1909 Sultan Abdul Hamid dan keluarganya kedatangan
beberapa orang tamu tak diundang. Kedatangan mereka ke Istana Yildiz menjadi
catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan. Mereka mengatasnamakan
perwakilan 240 anggota Parlemen Utsmaniyyah—di bawah tekanan
dari Turki