---------- Forwarded message ----------
From: Saiful Khaliq <[email protected]>
Date: 2009/5/31
Subject: [PPSDMS_Angkatan_IV] Semangat Pantang Menyerah
To: [email protected]




Semangat Pantang Menyerah

usia bukan penghalang

[image: usia bukan penghalang]

bersahabat dg alam

[image: bersahabat dg
alam]<http://chaliim.files.wordpress.com/2009/05/s7301085.jpg>


pantang bagi orang kecil seperti kami, meminta-minta. Pantang bagi kami
mengemis memohon belas kasihan pemerintah demi menyambung hidup. Pantang
bagikami berhutang, menengadahkan tangan memohon bantuan.

biar panas-susah-berpeluh sungguh, kami punya harga diri.

mari belajar dari hal-hal kecil yang bernilai besar. Mari membuka
mata mengambil hikmah dari petani kecil dan tua yang SEPANTASNYA
BERISTIRAHAT DENGAN DAMAI MENANTI PANGGILAN TUHAN.

Dia mungkin kecil bagi kita, tetapi siapa yang tahu kemulyaannya di sisi
Tuhannya.


 Berjuang tanpa Henti Kompetisi makin tinggi
Mandiri meski makin langka
Adakah yang lebih kuat dari mereka?
Pantang menyerah

***

* *

*[image: derm2]*

*Jika anak ini bisa membantu,* *mengapa “kita yang lebih baik” tidak?* *Kami
semua tak bisa berkata-kata,
 ia memberikan semua yang diperolehnya
 kepada Lembaga Amal dengan usahanya sendiri.* ***
<http://smkbinawarga.wordpress.com/2008/12/20/qian-hongyan-atlet-cacat-yg-pantang-menyerah/>

Qian Hongyan Atlet Cacat yg Pantang Menyerah

Cacat tidak mematahkan semangat Qian Hongyan of Kunming, China, untuk
berprestasi. Remaja yg kehilangan kedua kakinya saat kecelakaan lalu lintas
diusianya 3 tahun. Oleh orangtuanya, Qian diikutsertakan dalam terapi
basket. ternyata berhasil, Qian tampil sebagai pebasket cilik yg cemerlang.
Tak memiliki kaki bukan halangan baginya untuk lincah di lapangan.


 ***

[image: P12]

[image: P18]

Wanita muda itu tidak patah arang ketika ada orang berpendapat, “Kamu tidak
bisa melukis karena tak punya tangan”. Dengan semangat dan tekadnya ia
membuktikan bahwa ia bisa melukis menggunakan kaki kiri, karena pikirnya
kalau ia bisa menulis dengan kaki mungkin bisa menggambar dengan kaki juga.

Patricia memang keras dengan dirinya sendiri, ia membuktikan pendapat orang
seperti di atas salah besar. Dialah orang pertama dari Indonesia yang
diterima menjadi anggota AMFPA (Association of Mouth & Foot Painting
Artists), sebuah organisasi berpusat di Swiss yang menyokong para seniman
yang melukis dengan Mulut dan Kaki karena kehilangan fungsi tangannya karena
sakit, kecelakaan atau cacat lahir agar mereka dapat hidup mandiri.

Menyikapi kondisi fisik tubuhnya Patricia berkata,*“Tuhan tidak memberikan
saya tangan dan kaki yang normal, tapi Tuhan menganugrahi saya dengan
pikiran yang tajam dan kemauan kuat untuk bertahan hidup dan menjadi manusia
produktif dan saya beruntung mempunyai orang tua yang selalu memberikan
kasih sayang dan dukungan”.*


***


 [image: Syaikh Ahmad Yassin]

*Syaikh Ahmad Yassin*

Syeikh Ahmad Yassin, beliau sampai di akhir hayatnya tidak pernah lelah
untuk terus mengobarkan semangat perlawanan kepada kaum zionis dan kemudian
mampu menggerakkan para pemuda, ibu-ibu, bahkan anak-anak untuk menjemput
syahid.

Syeikh Ahmad Yasin adalah penjelmaan sadar atas ayat Qs. 9;91-92. Kaum lemah
seperti bayi, anak-anak, perempuan, para jompo terbebaskan dari kewajiban
bertempur di jalan Allah. Tetapi mereka sama sekali tak terbebaskan
dari *‘bertulus
hati mencintai, menaati dan mengutamakan Allah dan Rasul-Nya serta berazam
untuk membela-Nya kapan saja hal itu dimungkinkan. Adakah kejujuran yang
melebihi kesedihan mereka yang datang menyerahkan jiwa raga ke jalan Allah
tanpa mampu melengkapi diri dengan keperluan bertempur, lalu “…. Engkau
(hanya dapat) mengatakan kepada mereka: ‘Aku tak mendapatkan (biaya membeli
kendaraan untuk) mengangkut kalian. Mereka-pun berlalu dengan genangan air
mata karena sangat berduka“ (Qs. 9:92).

*
‘Ia adalah nama generic’, tulis seseorang di sebuah situs internet. Saya
setuju itu, karena memang sebelum dan sesudahnya akan tetap ada ikon-ikon
kejujuran, pengorbanan dan harga diri yang terus hidup, bahkan sesudah
roket-roket menghancurkan jasad mereka. Berpuluh tahun kematian enggan
menjemputnya, sampai pada usia sesenja ini, ijabah atas kerinduan syahidnya
terbukti. Ia bagaikan Umar bin Khattab yang di bulan wafatnya dan di saat
tikaman melumpuhkannya berdoa, *“Ya ALLAH, telah tua usiaku, semakin melemah
tanagaku. Maka karuniakan daku syahid di Jalan-Mu dan jadikan syahid itu di
negeri Nabi-Mu.”*


 Subhanallah…
ALLAHU AKBAR!!!

Ya Allah sungguh aku merasa malu kepada-Mu…
Engkau telah banyak memberi kenikmatan,
tapi hamba kurang bersyukur…
Ampuni hamba Ya Allah…

Ya Allah tolonglah kami

agar selalu bersyukur padaMu,

selalu ridho dengan keputusan-Mu

selalu ikhlas beramal pada-Mu

dalam kondisi apapun tetap bersemangat menjalani hidup ini

bekerja dan beribadah untuk-Mu…

Amiin

***
 

Kirim email ke