samsul ulum

Tropical Forest Trust

wildlife specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tropicalforesttrust.com

--- On Mon, 6/1/09, Nyunyu Thea <[email protected]> wrote:

From: Nyunyu Thea <[email protected]>
Subject: [rimpala_fahutan_ipb] Shalat dan Kerja
To: [email protected]
Date: Monday, June 1, 2009, 2:47 AM











    
            
            


      
      Kerja itu cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat..." 
  
Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk  mencari klien yang bergerak 
di bidang interior,  seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun  
hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu
  membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan  anjungan tunai mandiri dan 
dari kayu pula, dengan  segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis. 
  
Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya  saya menemukan bengkel Pak 
Azis, yang kini ternyata  sudah didampingi sebuah masjid.  Pak Azispun tampak 
awet muda, sama  seperti dulu, hanya pakaiannya yang
  sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah  putih. Rautnya cerah, 
fresh, memancarkan kesan tenang  dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah 
sering 
wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya. 
  
Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh  sebelum Pak Azis 
berkecimpung dalam berbagai dinamika  kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari 
peristiwa  angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu
 seluruh  atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira 
lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa  satupun. 
Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal  nggak ada hujan, nggak ada 
tanda-tanda bakal ada angin  besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja." 
  
Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu.. Walau  uang dan pekerjaan masih 
terus mengalir kepadanya, Pak
  Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak  tenang. "Seperti orang patah 
hati, Ndra. Makan tidak  enak, tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi.   
  
Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di  rumah dan stres.  
Padahal, sebelum kejadian angin  puting-beliung yang anehnya hanya mengenai 
bengkel  workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa  hidupnya sudah 
sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya 
itu, pak  Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi  
setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau 
bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ? 
  
Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau 
walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid  besar dan 
beberapa masjid di pelosok Bandung ini,  sudah pernah saya inapi." Setahun 
lebih cara tersebut  ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa  tidur 
normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian  seperti sediakala. 
  
"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya."   
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari
  tidur di masjid itu ?" 
  
"Di masjid itu 'kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau  ada shalat malam, kita 
dibangunkan, lalu pergi wudhu  dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga 
jadi  terasa enak. 
Malah nggak enak kalau tidak shalat  malam, dan shalat-shalat wajib yang lima 
itu jadi  kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra."   
  
 "Sekarang
 tidak pernah terlambat atau bolong  shalat-nya, Pak Azis ?" 
  
"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama  itu adalah shalat. 
Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja  itu cuma sekedar selingan aja." 
  
 "Selingan ?" 
  
"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban  shalat, Ndra." 
  
 Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian  adzan ashar mengalun jelas 
dari
 masjid samping rumah  Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi  
mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun  sudah pada pergi ke 
samping rumah, menuju masjid.   Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. 
Sambil  memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan  menuju masjid di 
samping workshop, terus   terngiang-ngiang di benak saya : "Kerja itu cuma  
selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat..." 
  
Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang  sibuknya lalu lintas di 
jalan raya, saya merenungi apa  yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh 
trenyuh  saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa  sebagai orang yang  
sering berlaku sebaliknya. Ya, saya
  lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat,  cuma selingan, malah 
saya cenderung lebih  mementingkan pekerjaan kantor. Padahal 
sholat yang akan bantu kita nantinya...( sungguh saya orang yang merugi..) 
  
Kadang-kadang waktu shalat  dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau  
rapat dengan klien 
dirasakan tanggung untuk diakhiri.   
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama
  ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang  meraih dunia, daripada 
mempersiapkan bekal terbaik  untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. 
padahal dunia ini akan saya tinggalkan.. juga ..........kenapa saya begitu 
bodoh.. 
  
Saya lupa,  bahwa shalat adalah yang utama. 
Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu.. 
  
Kalau Anda tidak mengirimkan email ini ke temen Anda…..ya ga papa sih. Cuma 
kalo dikirim mungkin ada gunanya bagi mereka gitu loh



  


      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke