Ketika mengantar anak-anak ke terminal bis Jombor, Jogja, saya dan anak-anak 
ada kesepakatan untuk memberi kabar via SMS setiap kali dapat sinyal ketika 
mendaki Merbabu. Kebetulan dua dari keempat anak-anak pendaki kecil itu 
membekali diri dengan ponsel. Tujuan saya sebenarnya hanya ingin terus 
memastikan perjalanan mereka dalam rangka menjalankan "kewajiban" sebagai orang 
tua.

Menjelang siang, sebuah SMS pendek saya terima. Bunyinya : "Magelang", yang 
saya terjemahkan bahwa anak-anak itu sudah sampai di terminal bis Magelang. 
Tengah hari datang lagi SMS pendek berbunyi : "Wekas", yang saya terjemahkan 
bahwa anak-anak itu sudah sampai di desa Wekas setelah berjalan kaki dari jalan 
raya menuju desa terakhir sebagai titik awal pendakian. Oleh anak-anak tempat 
itu biasa disebut dengan base camp.

Tidak lama kemudian datang lagi SMS berbunyi : "Masjid". Dalam bayangan saya 
anak-anak itu sedang beristirahat di desa terakhir sambil sekalian menunaikan 
sholat dhuhur di masjid kecil yang ada di sana.  Kurang dua jam kemudian, 
sekitar jam 15:00 saya menerima lagi SMS pendek : "Pos 1". Berarti mereka sudah 
mulai mendaki dan mencapai lokasi yang disebut Pos 1.

Hingga sorenya, lalu malam menjelang ternyata tidak ada lagi SMS masuk. Itu 
pasti karena sinyal ponsel sudah tidak sanggup lagi mendaki seiring semakin 
tingginya rute pendakian. Saya menduga anak-anak malam itu nge-camp di 
pemberhentian kedua atau Pos 2, sebab menurut informasi di sekitar Pos 2 
lokasinya cocok untuk berkemah. Selain topografinya relatif datar, juga ada 
sumber air. Jika benar demikian, maka anak-anak itu sudah berjalan sesuai 
dengan rencana pendakian mereka. Esok fajarnya mereka akan melakukan summit 
attack atau mendaki menuju puncak. Setelah itu lalu langsung turun kembali.

Esok siangnya saya tungu-tunggu kok tidak ada SMS masuk. Padahal kalau mereka 
langsung turun gunung mestinya saat tengah hari sudah sampai Pos 1 atau desa 
Wekas dimana sinyal sudah menunggu di sana. Hingga sore tidak juga ada kabar. 
Saya coba tilpan-tilpun juga tidak nyambung. Sempat sekali berhasil nyambung, 
tapi belum sempat bicara banyak kemudian terputus, dan setelah itu susah 
dihubungi lagi.

Mulailah pikiran saya mencoba menduga-duga. Kemungkinan yang terjadi adalah 
baterei HP mereka drop atau tidak bekerja baik, entah karena kebasahan, rusak 
karena jatuh, atau sebab lain. Kalau kehabisan pulsa rasanya tidak, sebab saat 
saya hubungi mestinya bisa nyambung. Tapi jelas mereka sudah turun dari puncak 
dan berada di sekitar Pos 1 karena tadi komunikasi bisa nyambung sebentar meski 
kemudian terputus lagi. Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah mereka 
tidak mau memenuhi saran saya untuk menyewa ranger atau penduduk setempat yang 
diajak menemani mendaki sebagai petunjuk jalan. Kelakuan ini sebenarnya sudah 
saya cium sebelumnya. Rasa percaya diri mereka tinggi sekali. 

Hingga senja hari belum juga ada kabar dari anak-anak. Padahal menurut rencana 
mestinya mereka sudah turun dan setidak-tidaknya dalam perjalanan kembali ke 
Jogja. Kemungkinan terburuk adalah mereka bermalam di jalan sebelum mencapai 
desa terakhir, entah karena cuaca tiba-tiba berubah buruk atau sebab lain. 
Kalau hal terakhir itu yang terjadi mereka sudah siap dengan bekal lebih yang 
mereka bawa, minimal untuk satu hari kemudian. 

Salah seorang orang tua dari teman anak saya sudah dua kali menilpun menanyakan 
kabar anaknya, yang katanya sudah mencoba menghubungi HP-nya tidak bisa. Sebuah 
kekhawatiran yang sangat wajar kalau mengingat para pendaki kecil itu 
sebenarnya masih di bawah umur untuk mendaki gunung dengan tanpa didampingi 
orang dewasa. Kalau saja mereka jadi disertai oleh guru pembinanya seperti 
rencana awal pendakian mereka, tentunya orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

Hingga hari gelap belum juga ada kabar. Ya, sudah. Saya harus percaya pada 
kemampuan anak-anak itu untuk mengatasi masalah kalau-kalau ada hambatan di 
jalan sebagaimana mereka sudah menunjukkan tekad dan semangatnya untuk kekeuh 
ingin mencapai puncak Merbabu.

Eh… sekitar jam 19:30, tiba-tiba ada SMS masuk. Bunyinya : "Lg dlm p'jlanan 
plg". Spontan saya tilpun mereka yang rupanya sedang naik bis Trans Jogja 
menuju rumah. Cuma yang membikin saya kami tenggengen... alias rada bengong, 
adalah kata-kata anak saya kemudian : "Sudahlah...., bapak tenang aja....". 
Dalam hati saya rada jengkel juga, antara mau bilang "kurang ajar" dan 
"alhamdulillah" berbaur menjadi satu...
 
Tapi sudahlah..., namanya juga anak-anak. Mungkin seharusnya saya merasa bangga 
karena mereka telah membuktikan tekad dan semangatnya dengan tingkat 
kepercayaan diri yang tinggi. Rupanya para orang tua seperti saya ini terkadang 
suka under estimate terhadap kemampuan anak-anak. Padahal dalam banyak 
pengalaman mereka seringkali memperlihatkan kemampuannya lebih dari yang saya 
sangka. 

Orang tua memang tidak seharusnya terlalu protektif, melainkan bijaksana dalam 
mengarahkan keinginan anak-anaknya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk 
membekali anak-anaknya dengan ilmu dan pengalaman yang benar. Masalahnya adalah 
bahwa ternyata tidak mudah menentukan batas antara yang boleh dan tidak boleh, 
sebab setiap anak memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka 
kemudian menjadi wajar kalau adakalanya orang tua lalu besikap protektif 
berlebihan karena menerapkan faktor pengaman yang terlalu tinggi. Kalau 
di-umbar begitu saja seperti kambing nanti jangan-jangan dianggap sebagai orang 
tua tidak bertanggungjawab. Peran untuk menjadi nyinyir, reseh dan cerewet 
adakalanya perlu dilakonkan oleh orang tua.   

***

Sesampainya Noval dan ketiga temannya di rumah, segera saya "interogasi". 
Tujuan saya sebenarnya ingin mengapresiasi mereka dan menjajaki seberapa banyak 
mereka telah belajar dari perjalanan pendakiannya. Tahulah saya kemudian bahwa 
Noval dan seorang temannya berhasil melakukan summit attack mencapai salah satu 
puncak Merbabu dan menunaikan sholat Dhuha di puncak Merbabu. Sedang dua 
temannya yang lain menyerah dan hanya menunggu di Pos 2. 

Namun rupanya anak-anak bisa juga menjadi kurang suka kalau dicereweti orang 
tuanya. Sementara ibunya Noval hanya berkomentar sambil lalu, membela anaknya : 
"Bapak ini kayak Satpam saja banyak tanya, ya..." (padahal setahu saya tidak 
semua Satpam suka banyak tanya).  Lalu disambung : "Sudah..., itu pakaian 
kotornya dikumpulkan di belakang...". 

Saya hanya tersenyum kecut, sambil agak bangga berkata dalam hati : "Para 
pendaki kecil itu sudah kembali, sambil cengengesan.. Kalian memang ruarrr 
biasa..."

Yogyakarta, 11 Juni 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke