Kali ini, orang miskin boleh sakit, karena ada tempat pengobatan yang 
pembayarannya pake tiket "seikhlasnya".
Alkisah, seorang nenek usia 77 lebih 6 bulan bernama Mbah Rebo tinggal di 
daerah Mlati Sleman Yogyakarta. Jangan pandang remeh usia beliau, karena tiap 
harinya banyak orang segala usia (khususnya balita) yang berjubel antri sejak 
jam 05.30 s.d. 20.30 WIB untuk mendapatkan Sentuhan Tangan Mbah Rebo.
 
Teknik pemijatan beliau cukup unik. Jangan dibayangkan pemijatan berupa urut 
atau refleksi. Mungkin pemijatan beliau lebih tepat seperti shiatsu. Pemijatan 
lebih dipriritaskan pada titik-titik tertentu yang umumnya merupakan sisi lemah 
tubuh manusia, seperti kaki bagian belakang, paha bagian dalam, perut depan 
dekat pangkal kaki, ketiak, dan leher (di bawah telinga).
Bila beliau mengatakan akan "mengurut" lebih diartikan dengan memborehkan air 
hangat rendaman jeruk nipis.
Pijatan penutup, kita disuruh duduk dengan tulang punggung tegak, kedua kaki 
lurus dan rapat. Kemudian beliau mengurut dari punggung belakang, persis di 
bawah ketiak, menuju ke arah pusar (ke depan).
Beda lagi pemijatan untuk balita, biasanya si anak dipangku oleh Mbah Rebo di 
bagian tengah, bagian kepala dipegang ibunya dan bagian kaki dipegang bapaknya. 
Teknik pemijatan hampir mirip di atas, tapi disesuaikan untuk anak-anak. 
Pijatan penutup, tangan kiri pegang leher si balita dan tangan kanan 
menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, seperti mengendorkan otot bagian 
leher.
 
Niat hati ingin pijat pagi hari dengan berangkat jam 6 pagi, karena kemarin 
sorenya datang gak jadi pijat karena antrian panjang. Ternyata, setelah 30 
menit nyampe ke rumah Mbah Rebo, sudah antri sekitar 10 balita dengan kedua 
orangtuanya dan 4 pasien dewasa.
Kebayang bagaimana stamina beliau, yang bekerja dari pagi sampai malam hari 
hampir non stop, kecuali hanya untuk minum-makan-ibadah.
 
Pasien pun berasal dari berbagai macam, bahkan ada yang datang khusus dari 
Jakarta. Jenis sakitnya juga sangat beragam, dari sekedar panas, jatuh 
terkilir, ingin punya keturunan, sampai terserang guna-guna (sawan, bahasa 
jawa).
 
"Kerjaan sebagai dosen itu gawat", kata mbah rebo
"Lho kok gawat, mbah?" tanyaku penasaran
"Khan bisa kena sawan, mungkin dari manten, kuburan, perempatan atau rekan 
kerja", jelas beliau tanpa menjelaskan apa dan bagaimana yang dimaksud.
 
Bagi yang ingin punya anak, selain dipijat juga harus mematuhi pantangan 
sekitar 28 jenis makanan, seperti obat apotek untuk flu-pusing, minuman 
bersoda, sirup, jeruk, asam, nanas, minuman penambah stamina, ikan asin, kunir 
asem, air mineral dalam kemasan volume kecil, mangga mentah, tape ketan, duren, 
nangka, segala macam mie, dan daging kambing. Nama produk saya tulis padanannya 
(anonim) agar tersirat, karena Mbah Rebo terang-terangan menyebut nama produk 
(merk).
Beliau juga sering memberikan resep jamu untuk diminum, misalnya tempe bosok 
bermanfaat untuk membakar lemak.
Kombinasi yang sempat kudapat adalah Daun pepaya, tomat, garam dan bakaran 
tempe bosok; ditumbuk, diseduh air matang, disaring, dan diminum. 
 
Saya pernah bisik-bisik bertanya kepada salah satu pengunjung, berapa sebaiknya 
uang yang harus dibayarkan. Ternyata sekitar 10-20rb. Padahal kita biasanya 
sekali pijat memberikan uang lebih dari itu. Artinya, tarif ini benar-benar 
terjangkau oleh masyarakat miskin. Apalagi Mbah Rebo tidak sedikitpun meminta. 
Bahkan dengan cekatan selalu mempersilahkan pengunjung untuk mengambil minum 
dan snack yang disediakan.
 
Mbah Rebo pun sedikit curhat tentang keluarganya. Beliau hidup sendiri dan 
sudah lama berpisah dengan suaminya. Konon karena adanya orang ketiga. Dengan 
penuh senyum dan canda beliau mengatakan :
"Mbah kalo malam takut lik, makanya di kamar trus tak kunci, takut diganggu 
(mantan) hehe".
Lalu beliau juga bercerita tema lain :
"Mbah bisa ini juga tanpa guru kok, hanya karena welas asihnya Gusti Allah"
"Mbah khan punya tanggungan nyekolahke 5 orang cucu. eh ndilalah rizki itu ya 
datang aja...."
"Mbah cuma menjalani hidup dengan ikhlas..."
Ketika ditanya tentang Jaman Jepang, beliau malah langsung bernyanyi sebuah 
lagu yang wajib dinyanyikan saat berbaris di hadapan tentara Jepang.
 
Bila anda tertarik berobat ke sana, agak sulit memberikan rute perjalanan. 
Namun patokannya dari Terminal Jombor Jl Magelang, masuk sejauh 3 km ke arah 
Mlati. Jalan memang agak berkeloh, dan sesampai tugu belok kiri. Lalu pertigaan 
belok kanan. Lokasi berdekatan dengan Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Sleman. 
Tapi anda tidak perlu belok ke arah Lapas, terus saja jalan 500 m. Tandanya ada 
tumpukan banyak gelondongan kayu di kiri jalan. Itulah rumah Mbah Rebo.
Jangan takut tersesat karena radius 500 M orang banyak yang kenal dan tahu 
dimana rumah Mbah Rebo.
Siapa tahu lewat Sentuhan Tangan Mbah Rebo, menjadi jalan kesembuhan dariNYA.
 
 
Ki Asmoro Jiwo
 


      

Kirim email ke