Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir
-----------------------------------------
Minggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara
Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di
berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru
belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya,
yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi
menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.
Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung
landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan.
Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti
harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya "lupa" bahwa badan
pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika
memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali "jadi". Kalau mobil bisa atret
maju-mundur, lha kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.
Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : "Kok bisa
sih kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?". Jangan-jangan karena sikap
keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis
penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, njuk
piye (lalu bagaimana)?
***
Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang
pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu.
Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang
memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan
guyonan meski rada getir.
Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta
mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja,
meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju
apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang
kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus
bergerak.
Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7
(tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis buesar-buesar di aspal
bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang
berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang
dimaksud. Eh, lha kok ternyata pesawatnya bablas saja melewati slot No. 7
menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di
situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat
sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya seblak (tepuk) dan saya ingatkan
: "Parkirnya kebablasan, mas...".
Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali
menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong
sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ
ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur
lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab
sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh
petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi
tanda dengan eblek-eblek (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua
tangannya.
Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir
kepada pramugarinya sambil guyon : "Pilotnya baru ya, mbak?". Si mbak pramugari
rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : "Oh, tidak
pak".
***
Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah
belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di
darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang
langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang
akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang
dilakukan entah oleh siapapun?
Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun,
seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak
apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya,
seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya.
Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang
sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah
awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.
Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah
membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris,
pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita
itu. Ungkapan "Small is Beautiful" hanya bermakna bagi mereka yang paham
artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana
maupun anugerah.
Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika...!)
Yusuf Iskandar