Puasa sebagai Detoks

Apa hubungannya detoks dengan puasa? Jika berpuasa, bahan makanan praktis
akan berhenti masuk ke dalam tubuh dan aliran darah selama sekitar 14 jam.
Dengan demikian, sel-sel tubuh ini diberi kesempatan untuk metabolisme serta
membuang zat-zat yang tidak berguna dan berbahaya dari tubuh manusia.
Ketika manusia mengisi tubuhnya dengan makanan yang buruk ke dalam tubuh,
tubuh perlu diistirahatkan. Di sinilah pentingnya fungsi puasa, yaitu untuk
mengistirahatkan sementara sel-sel dari segala jenis makanan dan mengubah
fungsinya untuk memetabolisme zat-zat di dalam tubuh. Oleh karena itu, tak
heran jika puasa sering kali berefek sebagai detoksifikasi.

Akan tetapi, detoksifikasi dengan jalan puasa akan sia-sia saat berbuka
puasa dan sahur mengonsumsi makanan yang tidak memenuhi kandungan gizi
seimbang, atau makan seenaknya saja tanpa memerhatikan nilai gizinya. Itu
sama saja dengan memasukkan zat-zat tak berguna ke dalam tubuh setelah
berpuasa seharian.
Oleh karena itu, disarankan agar orang yang berpuasa dapat mengatur porsi
makannya di saat sahur dan berbuka puasa. Gampangnya, pada saat sahur
makanlah sebanyak 40 persen dari porsi total makan sehari-hari, lalu 50
persen pada saat berbuka, dan 10 persen lagi menjelang tidur. Fungsinya agar
tetap memiliki cadangan makanan untuk esok harinya.

Perhitungan ini, agar orang yang memiliki berat badan ideal akan tetap
memiliki berat badan yang sama setelah menjalani puasa selama sebulan.
Sebab, pada dasarnya manusia tidak mengurangi aktivitasnya selama berpuasa.
Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya banyak, tetap memerlukan bahan makanan
sebagai tenaga untuk menjalani aktivitasnya. Jadi, seharusnya makannya sama
dengan kebiasaaan sehari-hari. Hanya jadwal makannya saja yang diubah.

Perhitungan persentase makan saat sahur, buka, dan menjelang tidur haruslah
memenuhi syarat gizi seimbang. Dengan kata lain harus ada karbohidrat,
protein, lemak yang baik, serta cukup buah-buahan dan sayuran (makanan
berserat). Yang terbaik adalah mengatur makanannya dan tetap dengan gaya
makan yang sehat, memenuhi gizi seimbang, bebas kolesterol, mengurangi
goreng-gorengan, makanan bersantan, dan kuning telur yang mengandung lemak
yang buruk. Perbanyaklah makan sayuran, buah-buahan, ikan, daging ayam tanpa
kulit. Kalau bisa hindari makan daging merah, seperti kambing atau sapi.(*)

http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&task=view&id=4726&Itemid=9

Kirim email ke