--- Pada Sab, 18/7/09, Abdul Rohim <[email protected]> menulis:
Dari: Abdul Rohim <[email protected]> Judul: [dpr-indonesia] Inspirasi dari Amerika Latin Kepada: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], "d b" <[email protected]>, [email protected], [email protected] Tanggal: Sabtu, 18 Juli, 2009, 10:02 PM Inspirasi dari Amerika Latin Oleh: Endang Suarini Meski KPU belum secara resmi mengumumkan hasil final pilpres 8 Juli lalu, berbagai media, termasuk koran ini, sudah memastikan Soesilo Bambang Yudhoyono keluar sebagai pemenang berdasar hasil /quick count/ berbagai lembaga survei. Perolehan suara SBY diyakini begitu signifikan sehingga tak perlu pilpres dua putaran. Pada hari-hari ke depan, media pasti didominasi spekulasi tentang siapa yang dipilih menjadi menteri. Terkait dengan hal tersebut, usul pola hidup sederhana sebagai kriteria patut dipertimbangkan (/Jati Diri/,/ Jawa Pos/,/ /14 Juli 2009). Ini relevan dengan "wong cilik" yang jumlahnya hampir separo di antara total penduduk negeri ini yang hidup di bawah USD 2 per hari (salah satu kategori miskin menurut Bank Dunia). Dengan memikirkan pola hidup semacam itu, alangkah eloknya bila SBY-Boediono langsung menjadi teladan, sebagaimana pola hidup sederhana dan populer dari para presiden Amerika Latin (/Fokus Dunia/,/ Jawa Pos/,/ /8 Juli 2009). *** Salah seorang presiden dari kawasan itu yang mungkin bisa dijadikan inspirasi bagi SBY adalah Fernando Lugo, presiden Paraguay yang dilantik pada 15 Agustus 2008. Salah seorang di antara sembilan presiden sosialis di Amerika Latin itu dikenal sangat populis. Selama masa kampanye, nyaris tidak ada biaya beriklan. Hanya, kata-kata Lugo mampu menyentuh hati rakyat yang bertahun-tahun dikuasai militer dan tuan tanah. Lugo berhasil mengalahkan Blanca Ovelar dari Partai Colorado, partai yang berkuasa sejak 1947. Saat pelantikan Lugo, beberapa presiden populis Amerika Latin hadir untuk memberi ucapan selamat. Di antaranya, Presiden Venezuela Hugo Chavez yang pertama hadir, Presiden Bolivia Evo Morales yang berdarah Indian, dan Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva yang didukung Partai Buruh. Ketika dilantik, kaum buruh, petani, dan orang-orang miskin ikut makan dan berpesta di istana. Meski pesta, menu yang tersaji ternyata didominasi singkong. Lugo benar-benar "President for the Poor" (presiden /wong cilik/). Yang sangat mengesankan dari para presiden populis Amerika Latin memang kedekatannya dengan rakyat, khususnya "wong cilik". Nyaris tak berjarak. Lugo bisa menyapa petani Indian miskin atau buruh pabrik di kota dalam keakraban yang tidak dibuat-buat. Bahkan, protokoler istana, seperti di Istana Merdeka, Jakarta, yang mengesankan nuansa neofeodalistis, tak berlaku di istana para presiden di Amerika Latin. Fasilitas seperti mobil pun bukan mobil mewah. Dalam keseharian, para presiden itu hidup sederhana seperti kebanyakan rakyat mereka. Sungguh presiden yang dekat dengan rakyat! Kedekatan seperti itu jelas menjadi cermin dari kemenangan demokrasi. Bukankah demokrasi merupakan pemerintah oleh rakyat dan untuk rakyat? Meski selama kampanye pilpres tidak mengusung slogan "pro rakyat", bukankah demokrasi kita juga demokrasi rakyat sehingga SBY sebagai presiden terpilih mutlak harus pro rakyat? Kalau demokrasi kita memang demokrasi oleh dan untuk rakyat, apa salahnya rakyat sebagai pemegang kedaulatan sesungguhnya merindukan sosok presiden populis yang dekat dengan rakyat? *** Tentu kedekatan tersebut jangan dimaknai secara dangkal atau sekadar kedekatan guna mendongkrak citra seperti di dalam iklan-iklan capres. Yang dibutuhkan lebih dari penampilan luar, yakni kebijakan nyata yang sungguh-sungguh pro rakyat. Misalnya, sembako bisa dibuat semurah-murahnya dan upah buruh dibuat layak. Kalau perlu, upah buruh ditetapkan dalam Keppres sehingga tiap tahun para buruh tidak perlu berdemo meminta kenaikan upah (UMK). Selain itu, sistem ketenagakerjaan perlu direformasi sehingga sembilan juta pengangguran bisa bekerja, termasuk tiga juta pengangguran terdidik. Enam juta TKI sebaiknya bisa ditampung bekerja di dalam negeri, seperti terjadi di Venezuela. Terkait dengan Venezuela, Presiden Hugo Chavez memang membuat gebrakan pro rakyat dan antineoliberalisme yang patut diteladani. Jelas, hal itu relevan dengan tuduhan pro neoliberalisme, khususnya bagi Boediono. Jadi, SBY-Boediono perlu menimba dari langkah-langkah Chavez. Misalnya, kita harus berani meninjau segala kontrak karya pertambangan yang merugikan negara dan menggadaikan kedaulatan NKRI kepada pihak asing. Simaklah, Chavez berani menasionalisasi PDVSA (perusahaan migas negara). Pada tahun pertama nasionalisasi, perusahaan itu hanya berpendapatan USD 64,5 miliar. Setahun kemudian, perusahaan tersebut telah menyumbangkan keuntungan kepada negara sebesar USD 10,3 miliar. Kini Venezuela menjadi produsen minyak terbesar di dunia. Para buruh minyak pun sejahtera. Jadi, kedekatan Chavez dengan rakyat juga ditindaklanjuti dengan kebijakan yang sungguh merakyat. Bukan retorika pro rakyat! Dalam kearifan budaya kita, sebenarnya sudah banyak ajaran tentang seorang pemimpin harus dekat dengan rakyatnya seperti dalam Asta Brata. Dalam kisah Panji juga dikisahkan raja yang rela meninggalkan istana dan tega menyamar agar tahu dan dekat dengan rakyatnya, bukan hanya puas dibisiki oleh para penasihat istana. Kita berharap, dengan "style" sekaligus kebijakan pro rakyat, derajat negeri yang kaya dengan sumber daya alam ini bisa terangkat di mata dunia. Khususnya, /wong cilik/ seperti buruh tani atau buruh pabrik bisa segera menikmati kesejahteraan. * (*)* /*) Endang Suarini, aktivis buruh di Sidoarjo/ http://jawapos. com/halaman/ index.php? act=detail&nid=80693 http://media- klaten.blogspot. com/ http://seizetheday- cloth.blogspot. com/ ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

