'Anim' Dan 'Sentheng'
---------------------------- 

'Anim' dan 'sentheng', keduanya bukan nama anak yang haus permainan 
murah-meriah tapi di-plokotho dengan ayat-ayat judi..... 

"Awas 'anim'...!", teriak 'boss' saya tiba-tiba yang agaknya masih trauma 
setelah kemarin moncong mobilnya saya serempetkan dinding tembok. Saya pun lalu 
dengan sigap menghindari 'anim' ketika mengemudikan kjang masuk ke gang sempit. 
Tapi anak saya justru yang bengong: "Apa 'anim'...?"

'Anim' adalah kosa kata pasaran dalam bahasa Jawa sejak jaman pendudukan 
Belanda dulu yang sekarang sudah langka digunakan orang. Hanya orang-orang tua 
Jawa yang masih sering menggunakan kata ini dalam percakapan sehari-hari. 
Biasanya untuk menyebut tiang listrik atau hal-hal yang berbau listrik PLN 
(listrik kok bau.....). Naga-naganya kata ini berasal dari bahasa Belanda yang 
"dijawakan". Maka pantas saja kalau anak-anak Jawa sekarang tidak familiar 
dengan kata ini, sebab kedengaran aneh.

Selain 'anim', ada juga yang menyebut tiang listrik atau tilpun yang terbuat 
dari besi dan biasanya bercat hitam pekat dengan sebutan 'sentheng'. Kata ini 
pun sekarang jarang digunakan. Maka jangan heran kalau ada orang Jawa yang 
tidak mengenal kata ini. Padahal kata 'sentheng' kedengaran lebih gaul..., 
cocok untuk nama cafe, diskotik atau geng motor, dengan asesori yang serba 
hitam seperti dukun. Atau jangan-jangan malah dikira nama jenis makanan, sebab 
konon dulu pernah ada pejabat yang masuk bui gara-gara 'sentheng' se-kabupaten 
dimakannya.....

Sekarang musim agustusan, jadi boleh juga kalau ada ide mengadakan perayaan 
17-an dengan lomba panjat 'sentheng', asal jangan makan 'sentheng'....

Hidup 'anim'..., hidup 'sentheng'.... Merdeka....!

Yogyakarta, 2 Agustus 2009
Yusuf Iskandar


http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke