speechless...itu yang pertama menimpa saya tadi malam pak yusuf. seakan membalikkan memori ketika saya masih di solo. waktu itu beliau yang mendiami rumah Bambu di kompleks Taman BUdaya Surakarta, sering tanpa segan menerima tamu. jam berapapun, apapun kegiatan beliau waktu itu. dan saat bertemu beliau di luar pentas, kita tidak akan pernah sadar bahwa belau adalah seorang sastrawan besar. sering beliu duduk nglesot di lantai. dan tanpa sungkan menjawab pertanyaan yang ditujukan pada beliau, siapapun penanya nya. kalo pas saya datang tanpa rokok, beliau tanya "ora duwe duit kowe le, yoh iki tuku rokok". padahal saya cuma mahasiswa fakultas ekonomi yang nyasar berhobi dengan sastra. kere pula. tapi beliau tetap mau menghargai kedatangan saya, walo cuma buad ngangsu kawruh atas ilmu beliau. pepatah dan petitih beliau masih lekat dalam benak. dan purnama semalam, adalah purnama terakhir yang menemani beliau di dunia yang menurut beliau adalah sang kalah. kita harus bisa mengalahkan dunia, dan menjadikan diri kita pemenang. mohon fatihah bagi guru saya, willbortus Sulaeman Rendra, seorang muslim yang tengah beranjak menuju tempat wisata terindahnya...
--- On Thu, 8/6/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> wrote: From: Yusuf Iskandar <[email protected]> Subject: [kendal-online] Terbanglah Si Burung Merak To: "Kendal Online" <[email protected]> Date: Thursday, August 6, 2009, 12:25 PM Terbanglah Si Burung Merak ------------ --------- --------- ------ Kemarin dan esok adalah hari ini bencana dan keberuntungan sama saja Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa Penggalan bait puisi itu begitu melekat di kepalaku, sejak aku masih duduk di bangku SMP, lebih 35 tahun yang lalu. Penggalan puisi itu pernah dikutip oleh majalah musik ‘Aktuil’ (almarhum), tertulis dengan warna putih di atas background hitam, lalu dicetak menjadi sebuah poster besar berukuran A0. Poster itu pun pernah menjadi kebanggaanku hingga kutempel di kamar kecilku (maksudnya, kamar yang berukuran kecil…) yang dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan papan. Itulah sebabnya aku begitu menghafalnya. Sepertinya belum lama saya selesai membacanya di atas pentas. *** Kini sang penulis puisi itu, WS Rendra, telah kembali berpulang menghadap kepada Sang Pencipta. Si Burung Merak itu telah menyelesaikan tugas hidupnya meninggalkan tapak-tapak keindahan dalam berperikehidupan, dan terkadang kegarangan dalam berolah pikir. Bagi sebagian orang, barangkali masih mengingat bagaimana Rendra membaca puisi-puisinya terkadang dengan teriakan lantang dan garang, lalu kemudian dengan nada lembut dan kemayu, atau sesekali datar tanpa ekspresi. Pilihan katanya terkadang terangkai begitu indah dan romantis, tapi ada kalanya mbeling dan keras sesuka udel-nya, atau bahkan polos apa adanya, begitu saja. Namun ketika Rendra membacanya seorang diri di tengah pentas yang luas, panggung seperti menjadi ruang yang sempit karena penuh terisi oleh getaran vokalnya, kelincahan blocking-nya yang memukau dan gaya panggungnya yang memikat bak bulu-bulu indah burung merak. Gaya bertuturnya banyak menjadi inspirasi bagi penyair-penyair muda. Puisi-puisi Rendra adalah puisi yang membebaskan, terkadang melankolis, dan seringkali malah memerahkan telinga yang mendengarnya. Ada yang menyukainya dan ada yang membencinya. Namun perjalanan ekspresinya tak bisa dihalang-halangi bagai banjir bandang tak terbendung. Begitu pun perjalanan spiritualnya, seperti bergolak di bawah arus yang tampak tenang, karena orang lain tak perlu tahu apa yang ada di bawah alunan gelombang kehidupannya. Goresan puisi-puisinya kini sampailah sudah pada tetesan tinta yang terakhir, menyertai perjalanan berikutnya kembali menuju kepada Sang Maha Pujangga. Tinggal penggalan-penggalan sajak dan puisinya menebar meninggalkan banyak perenungan. Puisi-puisi yang akan tetap membebaskan apapun yang masih terbelenggu, memperindah apapun yang masih carut-marut dan membersihkan apapun yang masih kotor. Hanya bagi orang-orang yang dapat memahami hakekat hasil oleh pikir dan olah batin penulisnya. Dan penulis puisi itu adalah Willibordus Surendra Broto Rendra alias Si Burung Merak. Selamat jalan Mas Willi… Terbanglah Si Burung Merak dalam damai bersama hembusan angin penuh pengampunan menuju ke haribaan Sang Penguasa Angkasa Raya. “Kalau politik itu kotor, maka puisilah yang akan membersihkannya”, kata John F. Kennedy. Semoga puisi-puisimu yang tak kan lapuk oleh hujan dan tak kan lekang oleh panas, pada saatnya akan membersihkan kotoran-kotoran yang menyisip di sela-sela jari kaki bangsamu dan bangsaku yang sedang resah dan gelisah dirundung berbagai godaan nafsu serakah dan amarah. Yogyakarta, 7 Agustus 2009 Yusuf Iskandar

