Tanggapan Pengawasan
Dakwah<http://eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/tanggapan-pengawasan-dakwah.htm*>

Senin, 24/08/2009 08:54 WIB

*Assalamu 'alaikum*

Bagaimana tanggapan Bung soal pengawasan aktivitas dakwah yang dilakukan
POLRI, apakah ada konspirasi dibalik hal tersebut. syukkron

*wassalamu 'alaikum*

*Zhee *


 Jawaban

*Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,*

Saudara Zhee yang dirahmati Allah Swt, jujur saja, tatkala mendengar Polri
akan melakukan pengawasan terhadap aktivitas dakwah (terutama mungkin
khutbah) yang dilakukan para dai di bulan Ramadhan ini, saya hanya tertawa
dan merasa nelangsa. Lagi-lagi aparat negeri ini mementaskan drama yang
tidak lucu, setelah sebelumnya mementaskan lakon “Penyerbuan Temanggung”
yang sama sekali tidak spektakuler, bahkan saya yakin membuat banyak orang,
termasuk para anggota pasukan elit yang ada di TNI, tersenyum-senyum
sendirian.



Mereka tentu menertawakan hal itu karena mereka sendiri hanya dengan satu
regu saja, dalam hitungan menit, berhasil membebaskan ratusan sandera yang
ada di dalam pesawat Woyla di Bandara Bangkok. Mereka, hanya satu regu
kecil, mampu membebaskan para peneliti Lorenz yang disandera oleh OPM di
Papua Barat yang sangat sulit medannya. Namun kejadian di Temanggung,
benar-benar sebuah pemborosan uang rakyat, apalagi targetnya, cuma satu
orang, ternyata tewas.

Buat apa untuk menewaskan satu orang yang bersembunyi di sebuah rumah kecil
yang sederhana, aparat harus mengepungnya selama 18 jam? Padahal kalau mau
konyol-konyolan, lepaskan saja sepuluh anjing pemburu milik polisi ke dalam
rumah itu, atau sepuluh karung ular yang kelaparan, atau masukkan sepuluh
gas airmata ke dalam rumah, pasti target akan terbirit-birit keluar. Ini
jauh lebih menghemat uang rakyat.



Saya kemudian ingat. Jangan-jangan benar zaman ini zaman edan. Uang rakyat
sudah lumrah dijadikan bancakan. Koruptor jauh lebih terhormat ketimbang
maling sendal di masjid. Kian banyak uang yang dikorup, kian dihormatilah
dia. Bukankah perampok uang rakyat lewat BLBI sampai sekarang masih bebas
dan aman-aman saja?



Saya punya analogi begini: kita tentu tiap hari lewat jalan raya kan? Nah,
kita tentu tahu ada banyak jalan raya yang rusak, bolong-bolong dan
bergelombang, sehingga naik angkot, motor, atau mobil di jalan raya rasanya
seperti tengah naik kapal laut yang sering diayun gelombang. Kita tentu
sering jengkel, mengapa satu ruas jalan yang rasanya baru diperbaiki kok
tidak lama kemudian sudah rusak lagi, diperbaiki, rusak lagi, diperbaiki,
rusak lagi, demikian terus. Sebagai orang awam kita tentu heran, apakah
pemerintah tidak bisa membuat jalan raya yang anti rusak? Atau katakanlah
awet untuk jangka waktu yang sangat lama? Puluhan tahun?



Logika kita sebagai rakyat ternyata tidak nyambung dengan logika para
aparatur negara. Dalam logika kebanyakan aparatur negara, jika jalan raya
diperbaiki dengan sungguh-sungguh sehingga tidak rusak lagi, maka itu
berarti tidak ada proyek,  yang juga berarti tidak ada pemasukan ke kantung
dia. Tidak ada hasil *mark-up* anggaran, tidak ada komisi, tidak ada biaya
orientasi, tidak ada biaya ini dan itu, istilahnya “Kering”!. Sebab itu,
agar proyek bisa jalan terus, agar pemasukan ke kantung sendiri bisa
dilestarikan, maka jalan pun diperbaiki sekadarnya saja. Cukup untuk waktu
musim panas saja. Ketika musim hujan datang dan jalan raya bolong-bolong
lagi, ya diperbaiki lagi. Proyek lagi. Pemasukan lagi. Inilah enaknya jadi
pejabat.



Bisa jadi, dalam kasus terorisme pun logikanya sama. Jika teroris sudah
terbongkar tuntas sampai ke akar-akarnya, jika semua teroris sudah masuk
penjara, maka tidak akan ada lagi dana pemberantasan terorisme.  Kering!
Dari “orang dalam” sendiri, saya mendapat informasi jika operasi
pemberantasan terorisme di negeri ini juga dijadikan ajang saling sikut
untuk bisa cari muka ke atasan, biar bisa cepat naik pangkat, atau bisa
menduduki “pos yang basah”. *Wallahu’alam bishawab.*



Bisa jadi pula, Ibrohim di Temanggung itu sengaja dihabisi. Padahal jika mau
mengungkap sungguh-sungguh jaringan teroris, Ibrohim seharusnya bisa
ditangkap hidup-hidup agar nantinya dia bisa disuruh untuk mengaku atau
memberikan informasi tentang teman-teman terorisnya. Dengan tewasnya
Ibrohim, maka hal itu akan mempersulit pengungkapan jaringan teroris
Malaysia *Pak Cik* Noordin bukan?



Nah, ketika menjelang Ramadhan kemarin polisi dengan tegas akan mengawasi
dakwah di masjid-masjid dan mushola, ini tentu mengingatkan banyak orang
akan kinerja kepolisian dan intelijen di zaman fasisme Orde Baru Jenderal
Harto. Amat mirip dengan zaman setelah terjadinya pembantaian jamaah
pengajian di Tanjung Priok tahun 1984 yang banyak memenjarakan para ustadz
hanya gara-gara khutbah di masjid yang dianggap mengandung SARA atau
provokatif.



Indonesia ini sekarang memang tambah konyol tapi sama sekali tidak lucu.
Pagi hari, ketika beberapa stasiun teve tengah siaran langsung menayangkan
“Reality Show” penyerangan sebuah rumah kecil di Temanggung, pagi itu saya
menontonnya lewat sebuah teve di toko yang sangat dekat dengan lapak-lapak
VCD/DVD bajakan (juga banyak yang porno) di Glodok. Beberapa aparat polisi
mondar-mandir di sekitar saya. Pos mereka memang amat dekat dengan tempat
penjualan VCD/DVD porno tersebut, tidak sampai 40 meter di belakangnya!.
Namun usaha maksiat itu kelihatannya aman-aman saja. Padahal, VCD/DVD porno
itu sesungguhnya juga teroris moral bangsa yang efeknya jauh lebih dahsyat
ketimbang yang ada di Temanggung.



Dan ketika para ustadz dan dai yang berceramah di masjid akan diawasi,
padahal banyak hal yang lebih berbahaya yang seharusnya disikat habis malah
dibiarkan berjalan aman, saya lagi-lagi tersenyum getir. Proyek apa lagi
ini?



*Wallahu’alam bishawab.*

*Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*


*http://eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/tanggapan-pengawasan-dakwah.htm*

Kirim email ke