---------- Forwarded message ----------
From: amien_abuibrahim Imam Muhayi <[email protected]>
Date: 2009/8/28
Subject: [Motivasi Islami] Belajar dari Janda Penjual Penjual Susu
To: [email protected]




Suatu malam, Aslam bersama Khalifah Umar bin al Khaththab bersandar di
sebuah dinding bilik. Sayup-sayup didengarnya dialog antara seorang ibu
penjual susu dan anak gadisnya.

"Anakku, campurlah air itu ke dalam susu!", perintah sang ibu, "Maaf bu,
bukankah Khalifah melarangnya?", jawab si gadis, anaknya. "Saat ini Khalifah
tidak mungkin tahu", sahud sang ibu lagi."

"Ibu bukankan kita berkewajiban menaati khalifah disaat ramai dan di saat
sepi?" Jawab sang anak.

Penggalan dialog ini di rekam oleh Sang Khalifah, Umar radliallahu anhu.
Wahai Aslam tandailah rumah ini, dan besok engkau cari tahu siapa mereka!"

Pagi menjelah, tahulah Sang Khalifah, ternyata meraka adalah seorang janda
dan anak gadisnya semata wayang.

Umar radliallahu anhu, mendatangi ketiga anaknya, Abdullah, Abdurrahman dan
'Ashim radliallahu anhum ajma'in.

"Wahai anakku, maukah engkau menikahi seorang gadis mulia, jika seandainya
bapakmu ini masih ingin menikah lagi, niscaya aku akan mendahului kalian.

"Aku sudah menikah ayahanda", seru Abdullah.

"Akupun sudah menikah ayahanda", seru Abdurahman

"Nikahkanlah aku dengannya wahai ayahku!" pinta Ashim..

Mereka pun menikah, dari pernikahannya lahirlah seorang wanita, dan dari
rahimnya kemudian lahir seorang khalifah yang terkenal keadilan, ketaqwaan
dan kebijaksanaannya, Umar bin Abdul Aziz.

Sepenggal fragmen kehidupan Khalifah Umar bin Al Khaththab ini dinukil
bahkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauzi, juga di kitab Al Hilyah.

Sebuah kisah yang dapat kita ambil hikmahnya.

Pertama, Kebiksanaan Pemimpin

Betapa sehebat apapun pangkatnya, sebesar apapun kedudukannya, seorang
pemimpin jika sudah menduduki tampuk kursinya, saat itu pula ia adalah
pelayan rakyatnya. Dan itulah sesungguhnya tugas terbesar bagi seorang
pemimpin, selain tugas utamanya kepada Rabbnya. Umar bin Khathathab adalah
teladan terbaik setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Abu
Bakr Ash Shiddiq radliallahu anhu.

Khalifah Umar selalu gelisah hatinya manakala melihat rakyatnya
sengsara.  Beliau
seperti bapak ditengah keluarganya, ketika hak-hak rakyatnya terampas dialah
yang memberikannya. Ketika rakyatnya ketakutan dirinyalah yang memberikan
rasa keberanian dengan menyingkirkan kedhaliman yang melingkupinya. Beliau
merasakan kehidupan yang dijalani rakyatnya. Maka tak ayal bersandar di
sebuah dinding bilik ia lakoni karena istananya bukanlah gedung menjulang
berhias emas.

Kedua, Kejujuran adalah permata

Kejujuran seorang gadis miskin, anak seorang janda tua penjual susu,
bukanlan calon istri ideal bagi pria manapun. Karena ia sangat jauh dari
type ideal, kaya, cantik, keturunan berada dan terhormat.

Tapi bagi Sang Khalifah kejujurannya mengalahkan atribut duniawi itu, ia
tawarkan kepada anak-anaknya setelah ia sendiri mengakui bahwa seandainya ia
masih ingin menikah lagi niscaya ia akan menikahi sebelum anak-anaknya. Dan
benarlah ternyata kejururan itu berbuah ranum. Dari rahimnya, lahir seorang
wanita shalihah yang melahirkan Khalifah besar setelahnya, Umar bin Abdul
Aziz.

Ketiga, Ketaatan kepada pemimpin

Pemimpin dipilih atau diangkat untuk ditaati. Sebagai seorang muslim kita
harus mentaati perintah pemimpin kita. Walau pimpinan itu seorang yang hitam
legam, keriting sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi Shallahu
alaihi wa sallam.

Namun sebagaimana yang dijelaskan buku-buku fikih para ulama terdahulu,
ketika perintahnya melanggar perintah Allah subhanahu wata'ala maka kita
hanyalah menaati yang bersesuaian dengan aturan Allah saja. Karena tidak ada
ketaatan kepada Makhluq dalam kemaksiatan Al Khaliq.

Menaati pemimpin dalam kebaikan dan taqwa adalah manifestasi dari ibadah
kepada Allah subhanahu wata'ala..* Athiullaha waathiur rasuul, waulul amri
minkum.* "Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul, serta kepada
pemimpin-pemimpin dari kalian". Kata Taatlah diulang dua kali, kemudian
dilanjutkan kepada pemimpin…

Keempat, Muraqabatullah

Manusia harus selalu sadar bahwa ia selalu diawasi dari detik-ke detik
selama 24 jam sehari selama ia hidup didunia. Setiap hal yang ia lakoni
walaupun sebesar atom, kelak ia akan menerima pahala atau dosa. Maka sungguh
seorang yang bijaksana adalah orang yang selalu menghitung timbangan
kebaikan dan keburukannya.

Semoga timbangan kebaikan kita lebih berat daripada timbangan kejelekan
kita. Wallahu a'lam bishwab. Aminuddin, 7 Ramadlan 1430 H. Disampaikan di
Masjid AtTauhid ARH, UI, Jakarta kamis,28-08-2009

Sponsored by. www.madinastore.co
<http://www.madinastore.com>m<http://www..madinastore.com>

start: 0000-00-00 end: 0000-00-00

Kirim email ke