RAMDAHAN PELUANG EMAS MENEBAR KEBAIIKAN
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kita akan bertemu kembali bulan berkah nan mulya yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan di mana diturunkan di dalamnya “Al-Quran Al-Kariim” sebagai pedoman hidup manusia beriman. Bulan yang di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Malam yang dikenal dengan sebutan “lailatul Qadr”. Dalam bulan ini, setiap hari para malaikat sibuk memberi kabar gembira kepada siapa saja dari orang-orang beriman yang mengerjakan kebaikan. Lalu pertanyaannya; mungkinkah kita biarkan bulan ini berlalu tanpa amal-amal unggulan yang kita bangun dalam diri kita? Sangat rugi bagi kita yang bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini tanpa bisa mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya untuk meraih keberkahan dan keagungannya. Oleh karenanya, setiap muslim harus mempersiapkan bekal untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini. Ia harus mempersiapkan bekal “ruhiah imaniah” dengan banyak istighfar dan bertaubat, dengan meningkatkan “ma’iatullah” (kebersamaan Allah) dalam dirinya dan berlatih ibadah-ibadah sunnah lainnya. Selain bekal ini, ia juga harus memiliki bekal “fikriah” yang baik dengan menguatkan pemahamannya tentang permasalahn yang berkaitan dengan ibadah puasa. Dan untuk melengkapi dua bekal di atas, maka ia harus memiliki bekal “jasadiah” yang kokoh dengan menjaga kebugaran dan kesehatan raga/badan sebelum memasuki bulan suci ini. Persiapan ini merupakan inti do’a keberkahan dalam bulan Rajab dan Sya’ban yang dimunajatkan Rasulullah SAW. Peluang Emas Perbaikan dan Madrasah Pembinaan Ramadhan merupakan peluang emas perbaikan dan sekaligus pembinaan bagi seorang muslim. Sudah seharusnya seorang muslim sebelum memasuki bulan ini, melakukan evaluasi diri untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31). Kemudian dengan segala persiapan dan bekal, ia harus memanfatkan hari dan malam Ramadhan seoptimal mungkin. Dengan semangat baru ia harus senantiasa mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Peningkatan keimanan dan ketakwaan ini merupakan cerminan dari citra dan pesona diri muslim. Bisa kita renungkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW selama Ramadhan. Beliau senantiasa mudaarasah (tadarus) bersama Jibril as, kecekatan dalam melakukan kebaikan mengalahkan hembusan angin, senantiasa mengoptimalkan ibadahnya, membangunkan keluarga untuk menghidupkan malam-malamnya, selalu ruku’ dan sujud panjang dalam setiap sholat. Pada saat pintu-pintu Surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka dikunci rapat-rapat dan di saat para Malaikat menyeru untuk berhenti melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, maka setiap muslim seyogjanya menyadari bahwa bulan Ramadhan ini adalah peluang emas untuk melakukan kebaikan dan perbaikan diri. Dan setiap kita harus mampu menjadikan bulan ini sebagai madrasah pembinaan ruhiah, penggemblengan sulukiah dan penguatan fikriah. Jangan ada kata malas dan letih dalam kamus diri kita untuk membangun amal unggulan di bulan agung ini. Hindari keloyoan dan keringkihan ruhiah pada saat-saat panen kebaikan. Allah berfiman: « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). “Pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan diikat di dalamnya (bulan Ramadhan). Beliau bersabda: “malaikat menyeru; wahai orang yang mencari kebaikan, berbahagialah kamu. Dan wahai orang yang melakukan keburukan, berhentilah kamu.”, sampai bulan Ramadhan habis.” HR Imam Ahmad dan An-Nasaai, sanadnya baik. --- Pada Ming, 13/9/09, Yusuf Iskandar <[email protected]> menulis: Dari: Yusuf Iskandar <[email protected]> Judul: [kendal-online] Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan Kepada: "Kendal Online" <[email protected]> Tanggal: Minggu, 13 September, 2009, 7:53 AM Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan ------------ --------- --------- --------- ------- Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur. Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. "Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam" , kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat. Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : "Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One". Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : "Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je...". Boro-boro... , TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One. Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh). Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : "Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia...", pasti menirukan tuturan Mario Teguh. Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : "Wah, apik tenan...". Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria. Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : "Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan". Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : "Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan.... Terusnya lupa...he... he...", tulis istriku. "Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi...", balasku kemudian. "Ngarang!", balas istriku dengan cepat. "Lha, coba saja diingat-ingat. .., kalau enggak percaya", balas saya lagi. "Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur", balasan cepat dari seberang sana. "Ya, betul itu", kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : "Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya". Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret. *** Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah..., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya. Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis... Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi. Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam. Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga… malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu... udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat tapi badan merinding tanpa sebab... suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud sambil menitikkan air mata penuh penghambaan. .. dan angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk ketika menyapunya dengan belaian lembut... Subhanallah! *** Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlamba ng yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan… Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu. Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu. Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin.. Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H) Yusuf Iskandar http://yiskandar. wordpress. com Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com

