"Manna Janjimu....?" --------------------------- Hari masih pagi. Noval, 15 tahun, baru bangun tidur akibat kecapekan karena kemarinnya baru pulang dari mendaki gunung Lawu. Bersama empat orang teman sekolahnya Noval mencapai puncak gunung Lawu pada Sabtu akhir pekan lalu, sehari sebelum hutan Lawu terbakar. Dia tidak mau mengngaku kalau dituduh pendakian silaturrahim lebaran ke Lawu ini pasti odo-odonya (idenya). Ini pendakian ke Lawu yang kedua, pendakian pertamanya satu setengah tahun yll. ditemani bapaknya.
Sejak lebaran H-0 (1 Syawal, teng...!) dia sudah mulai kasak-kusuk sama ibunya. "Kapan ke dealer?", katanya. Pasalnya, deal waktu awal Ramadhan dengan bapaknya rupanya diingat betul, bahwa kalau bisa khatam tadarus Qur'an dua kali selama Ramadhan disetujui akan dibelikan sepeda motor untuk sekolah (judul resminya begitu, tidak resminya ya untuk dolan....). Dan, dia berhasil memenuhi kesepakatan menyelesaikan dua kali membaca buku bertuliskan huruf Arab yang belum dipahami maknanya itu, kecuali ayat yang pertama. Lebaran sudah lewat seminggu dan di televisi tersiar arus balik para pemudik sepeda motor yang terlihat ramai-lancar-padat-merayap kembali ke ibukota, tapi belum juga ada tanda-tanda pemenuhan janji bapaknya. Begitu mungkin pikirnya. Padahal sekolah sebentar lagi dimulai, sementara teman-temannya sering pada datang ke rumah membawa sepeda motor. SIM juga telanjur sudah dimiliki meski harus nombok umur karena kurang dua tahun. Berkali-kali sindirannya terceplos melalui omongannya : "Kapan nih kita ke dealer...". Berkali-kali pula bapaknya menjawab : "Sabar to, Le.... Toko sepeda motornya masih pada tutup...", jawab bapaknya asal-asalan karena tidak mau diburu-buru. Rupanya kesabaran Noval semakin njegrak ke ujung rambutnya. Jangan-jangan setan Lawu yang ikut ke rumah turut memprovokasinya. Meski mata masih dikucek-kucek habis balas dendam tidur panjang sepulang dari gunung Lawu (untungnya bangun tidur tidak tidur lagi, lalu bangun lagi....), Noval glenik-glenikā¦, omong-omong pelan dengan ibunya. Kalau urusan pendekatan personal begini, Noval tidak berani langsung menghadap bapaknya. Bukan takut dimarahi, melainkan agaknya bosan mendengar ceramahnya (padahal salah satu syarat untuk menjadi orang tua yang baik adalah harus pintar ceramah di depan anaknya.....). Baru kemudian ibunya yang lapor sama bapaknya. Ini sebenarnya jenis birokrasi keluarga yang enggak mutu..... Seperti sedang bicara sendiri saat duduk di samping ibunya, Noval ngomong sambil cengengesan : "Bu, kapan kita ke dealer-nya?". Ibunya menjawab pendek : "Yo sana tanya sama bapak". Lalu tukas Noval lagi : "Ibu aja yang bilang, ah...!". Sesaat kemudian Noval berkata : "Tapi sebenarnya bapak itu punya uang enggak, sih..... Saya jadi enggak enak. Sebenarnya saya ya tidak ingin merepotkan orang tua, tapi gimana ya.....", katanya kemudian dengan nada pasrah tapi masih dengan nyengenges. Maka luluhlah pertahanan bapaknya... Sebagai seorang anak, rangkaian kata-katanya kedengaran bijaksana, tapi penuh berbau rayuan. Memelas tapi menohok. Halus dan sopan tapi memojokkan. Tentu saja sebagai orang yang telah mengantongi jam terbang cukup lama sebagai orang tua, omongan itu harus diterjemahkan cukup dengan dua kata saja : "Manna janjimu...?". Akhirnya dengan setengah terpaksa (terpaksa kok nanggung, cuma setengah...), segera saya berseru kepada Noval, anak keduaku yang rodo nggregetke (menggemaskan bercampur menjengkelkan) itu : "OK, ayo mandi...mandi...mandi.... Ke dealer kita pagi ini.....!". Yogyakarta, 1 Oktober 2009 Yusuf Iskandar http://yiskandar.wordpress.com

